
Kinerja Keuangan yang Solid di Tengah Dinamika Ekonomi
PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) berhasil mempertahankan kinerja yang stabil sepanjang Januari–September 2025, meskipun menghadapi tantangan dari dinamika ekonomi makro dan mikro. Hal ini terlihat dari peningkatan laba operasional serta pertumbuhan penyaluran kredit di berbagai segmen. Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, menyatakan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam beradaptasi terhadap perubahan pasar dan kebijakan moneter yang dinamis.
“SMBC Indonesia menjaga kinerja yang solid dengan merespons perubahan pasar dan kebijakan moneter secara cepat dan efektif,” ujar Henoch dalam keterangan tertulis, Rabu 12 November 2025. “Kami berkomitmen menciptakan dampak berkelanjutan dengan mendukung kemajuan ekonomi Indonesia, mendorong kesejahteraan nasabah, serta memberdayakan komunitas menuju pertumbuhan yang bermakna.”
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Laporan Keuangan Konsolidasi dan Kontribusi Grup OTO
Laporan keuangan konsolidasi SMBC Indonesia untuk periode Januari–September 2025 sudah memperhitungkan kinerja PT Oto Multiartha (OTO) dan PT Summit Oto Finance (SOF), atau Grup OTO, yang resmi bergabung setelah akuisisi selesai pada akhir Maret 2024.
Selama sembilan bulan pertama 2025, SMBC Indonesia membukukan pendapatan operasional sebesar Rp13,8 triliun, tumbuh 11% dibandingkan periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pendapatan bunga bersih juga naik 9% yoy, didorong oleh peningkatan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) menjadi 7,1%, dari 6,8% pada tahun sebelumnya.
Kenaikan NIM tersebut mencerminkan efektivitas integrasi Grup OTO dan kemampuan perseroan menjaga efisiensi di tengah suku bunga yang kompetitif serta kenaikan biaya pendanaan.
Pertumbuhan Penyaluran Kredit di Berbagai Segmen
Hingga akhir September 2025, penyaluran kredit SMBC Indonesia mencapai Rp186,2 triliun, meningkat 6% yoy dari Rp175,1 triliun pada 2024. Pertumbuhan signifikan terjadi di segmen ritel, terutama Joint Finance (34% yoy), Jenius di luar Digital Mikro (8% yoy), dan Mikro (7% yoy).
Kolaborasi dengan Grup OTO turut memperkuat penyaluran kredit di segmen Joint Finance. Di sisi lain, kredit korporasi dan komersial naik 10% yoy, sementara piutang pembiayaan Grup OTO tumbuh 11% yoy.
Manajemen Risiko dan Efisiensi Operasional
Meski biaya kredit meningkat 45% yoy menjadi Rp4 triliun akibat pembentukan cadangan di beberapa segmen, manajemen memastikan praktik pengelolaan risiko tetap dijalankan secara cermat dan proaktif. Beban operasional juga naik 12% yoy menjadi Rp7,5 triliun, seiring ekspansi bisnis dan konsolidasi Grup OTO.
SMBC Indonesia menegaskan akan terus menjaga kualitas portofolio kredit dan memastikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) tetap memadai.
Kinerja Anak Usaha dan Laba Bersih Konsolidasi
Anak usaha SMBC Indonesia, PT Bank BTPN Syariah Tbk, mencatatkan laba bersih sebesar Rp945 miliar, tumbuh 23% yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp9,8 triliun. Secara keseluruhan, laba bersih konsolidasi setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp1,5 triliun, atau turun 26% yoy.
Meskipun demikian, kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto sebesar 2,8%, naik dari 2,2% pada periode yang sama tahun lalu, namun membaik dibandingkan 3,2% pada akhir Juni 2025.
Likuiditas dan Pendanaan yang Kuat
SMBC Indonesia juga mencatat posisi likuiditas dan pendanaan yang kuat. Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 277,8%, Net Stable Funding Ratio (NSFR) di 119,9%, serta Capital Adequacy Ratio (CAR) di 29,8%. Kinerja pendanaan turut positif, dengan saldo dana murah (CASA) naik 33% yoy menjadi Rp50,6 triliun. Rasio CASA pun meningkat dari 33,6% pada September 2024 menjadi 42% pada September 2025.
Sementara itu, deposito berjangka menurun 7% yoy menjadi Rp69,7 triliun. Namun, total dana pihak ketiga (DPK) tetap tumbuh 6% yoy menjadi Rp120,3 triliun, menandakan pengelolaan pendanaan yang efisien dan berkelanjutan.