
YOGYAKARTA, aiotrade
Museum Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto di Kemusuk Lor, Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar HM. Soeharto.
Doa bersama dilakukan dalam rangka merayakan penghargaan yang diberikan kepada tokoh penting bangsa ini. "Kami sudah ada acara tadi malam (Minggu 9/11/2025) secara sederhana, acaranya jam 11 malam," kata Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto, Gatot Nugroho, saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (10/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Acara Sederhana di Malam Pengumuman
Gatot menjelaskan bahwa doa bersama digelar secara sederhana oleh warga sekitar museum. Tidak banyak tamu hadir, dan tidak ada acara khusus pada hari ini, Senin (10/11/2025). "Hari ini tidak ada acara untuk menyambut Presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu. Acara semalam dilakukan warga sekitar museum, dan tidak terlalu banyak," ujar Gatot.
Ia menyebut, sebenarnya akan ada kegiatan lanjutan pada November ini, namun pihaknya masih menunggu arahan resmi dari Jakarta. "November ini ada acara, tapi kami tetap menunggu perintah dari Jakarta," katanya.
Doa Syukur Usai Pengumuman Resmi
Menurut Gatot, doa bersama dilakukan setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa HM. Soeharto termasuk dalam 10 tokoh penerima gelar pahlawan nasional tahun 2025. "Kita bersyukur atas pemberian gelar pada Jenderal Besar HM. Soeharto sebagai pahlawan nasional," ucapnya.
Acara yang digelar sederhana ini, kata Gatot, sejalan dengan ajaran hidup Soeharto yang selalu menekankan kesederhanaan dan kedekatan dengan masyarakat. "Kenapa hanya sederhana, itu untuk menjaga kebaikan semua dan meneladani pesan Pak Harto," ujarnya.
Ia lalu mengutip pesan moral yang sering disampaikan Soeharto. "Pesan Pak Harto yaitu dadi manungso aja gumunan (jadi manusia jangan cepat kagum), aja kagetan (jangan kagetan), aja dumeh (jangan mentang-mentang), dadio wong sing sakderma wae supaya cedak karo masyarakat (jadilah orang yang sederhana agar dekat dengan masyarakat)," ungkap Gatot.
Diumumkan Langsung oleh Presiden Prabowo
Sebelumnya diberitakan, setelah tiga kali diusulkan memperoleh gelar pahlawan nasional, Presiden ke-2 RI Soeharto akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 2025. Penganugerahan gelar tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara di Istana Negara, Senin (10/11/2025).
Soeharto menjadi satu dari 10 tokoh nasional yang menerima gelar kehormatan tersebut pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025. Penetapan ini menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kontribusi besar beliau dalam sejarah bangsa Indonesia.
Makna Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto
Penghargaan ini juga menjadi momen penting bagi keluarga besar dan para penggemarnya. Bagi mereka, gelar ini adalah pengakuan resmi atas jasa-jasa Soeharto dalam membangun dan memajukan Indonesia. Meski ada perbedaan pandangan di kalangan masyarakat, penghargaan ini memberikan makna tersendiri bagi pihak-pihak yang mendukung dan menghargai perjuangan beliau.
Dalam konteks sejarah, Soeharto dikenal sebagai tokoh yang membawa Indonesia ke era stabilitas politik dan ekonomi. Meskipun ada kritik terhadap masa pemerintahannya, gelar pahlawan nasional ini menunjukkan bahwa peran beliau dianggap penting dalam pembangunan bangsa.
Perayaan yang Menjadi Momentum untuk Merenung
Meski acara doa bersama dilakukan secara sederhana, momen ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk merenung dan mengingat kembali nilai-nilai yang diajarkan oleh Soeharto. Dari kesederhanaan hingga kerja keras, nilai-nilai tersebut masih relevan hingga saat ini.
Selain itu, penghargaan ini juga menjadi bagian dari proses penyelarasan sejarah. Di mana, meski ada perbedaan pendapat, gelar pahlawan nasional bisa menjadi titik awal untuk membangun kesepahaman dan keharmonisan antar generasi.