
jatim.aiotrade
SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sedang menghadapi masalah serius terkait sampah besar yang menyumbat rumah pompa. Sampah-sampah seperti sofa, kasur, dan peralatan rumah tangga lainnya ditemukan menumpuk di saluran air, yang berpotensi merusak mesin dan menghambat kinerja sistem penanggulangan banjir.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Syamsul Hariadi, menjelaskan bahwa petugas rumah pompa sering menemukan tumpukan sampah besar yang dapat membahayakan peralatan. "Sofa, kasur, kayu, hingga helm sering kali tersangkut di screen rumah pompa. Jika sampah tersebut lolos atau menumpuk, pompa bisa berhenti total dan mesin berpotensi rusak," ujar Syamsul pada Jumat (7/11).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Salah satu temuan terbesar terjadi di Saluran Greges yang mengarah ke Bosem Morokrembangan. Setelah hujan deras pada Rabu (5/11), petugas mengangkut hingga 20 truk sampah dalam semalam. Sampah yang terjaring tidak hanya berupa plastik atau bahan organik, tetapi juga perabot rumah tangga, popok bayi, hingga pakaian.
Syamsul menyatakan bahwa kebiasaan warga membuang sampah besar ke sungai menjadi tantangan utama dalam upaya pengendalian banjir. Ia menegaskan bahwa hal ini dapat menggagalkan usaha pemerintah dalam memperkuat sistem drainase yang sedang dikembangkan.
Saat ini, Surabaya memiliki 76 rumah pompa yang beroperasi penuh dan akan bertambah menjadi 81 pada akhir 2025. Penambahan ini terutama dilakukan untuk memperkuat kawasan Surabaya Selatan. Setiap rumah pompa dijaga selama 24 jam dan dilengkapi petugas penyaring sampah yang bekerja dalam tiga shift.
Meskipun berbagai sistem seperti pintu air, pre-pumping, dan prosedur siaga hujan telah diterapkan, Syamsul menekankan bahwa keberhasilan pengendalian genangan tetap bergantung pada perilaku masyarakat. "Petugas bisa bekerja maksimal, tapi jika sofa dan kasur terus dibuang ke sungai, rumah pompa tetap terancam rusak," tegasnya.
Pemkot Surabaya mengimbau warga untuk tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air demi menjaga keselamatan serta mencegah gangguan operasional rumah pompa, terutama di musim hujan. Kebiasaan buruk ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko banjir yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari warga.
Solusi yang Diperlukan
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa langkah penting perlu dilakukan:
-
Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Pemkot harus lebih giat melakukan sosialisasi tentang bahaya membuang sampah besar ke sungai. Program edukasi melalui media massa, iklan, dan kegiatan komunitas bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. -
Penegakan Hukum
Perlu adanya sanksi tegas bagi warga yang membuang sampah secara ilegal. Ini bisa mencakup denda atau sanksi administratif yang jelas, sehingga mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab. -
Peningkatan Infrastruktur
Meskipun jumlah rumah pompa akan bertambah, diperlukan juga peningkatan kualitas dan pemeliharaan infrastruktur yang ada. Misalnya, pemasangan screen yang lebih kuat atau sistem penyaring tambahan untuk mengurangi risiko kerusakan mesin. -
Partisipasi Komunitas
Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pembersihan lingkungan bisa menjadi strategi yang efektif. Program seperti kebersihan lingkungan rutin atau gotong royong bisa mendorong partisipasi aktif warga.
Tantangan dan Harapan
Masalah sampah besar yang menyumbat rumah pompa bukanlah isu kecil. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Dengan kesadaran yang tinggi dan kolaborasi antara pemerintah dan warga, Surabaya dapat mengurangi risiko banjir dan menjaga kenyamanan hidup masyarakat.