Sosiolog Buka Rahasia Mengapa Orang Asia Suka Makan Nasi dengan Tangan

admin.aiotrade 25 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Sosiolog Buka Rahasia Mengapa Orang Asia Suka Makan Nasi dengan Tangan

Perbedaan Budaya Makan di Asia dan Barat

Di media sosial, khususnya platform X (dahulu Twitter), warganet sedang ramai membahas kebiasaan makan orang Asia yang menggunakan tangan langsung untuk mengambil nasi tanpa alat makan seperti sendok. Beberapa orang menyukai cara ini, sementara yang lain merasa aneh atau tidak nyaman.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Salah satu pengguna akun @V**V menyatakan bahwa ia merasa cara makan tersebut menjijikkan dan aneh, meskipun ia seorang Asia. Ia menulis:

"Sebagai orang Asia, saya merasa punya otoritas soal nasi: Makan nasi dengan tangan itu menjijikkan, aneh, dan barbar. Tidak ada satu pun anggota keluarga saya yang pernah melakukannya. Dia bertingkah seolah peralatan makan belum pernah diciptakan."

Banyak warganet mengira bahwa pemilik akun tersebut adalah orang Amerika, karena jika ia benar-benar orang Asia, maka seharusnya sudah terbiasa dengan budaya makan seperti ini.

Mengapa Orang Asia Suka Makan dengan Tangan?

Menurut Drajat Tri Kartono, seorang sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS), kebiasaan makan dengan tangan merupakan bagian dari budaya kolektif masyarakat Asia. Berbeda dengan orang Eropa yang lebih sering menggunakan pisau dan garpu, orang Asia cenderung menggunakan tangan atau alat makan sederhana seperti sendok kecil.

Ia menjelaskan bahwa dalam kebiasaan makan bersama, seperti saat makan dengan teman atau keluarga, menggunakan tangan justru membuat suasana lebih akrab dan nyaman.

"Misalnya, ada teman atau saudara yang makan bersama tiga atau lima orang dalam satu tempat yang sama. Di Jawa, misalnya, mereka biasanya duduk di atas tempat dari bambu, dan makanan ditempatkan di tengah. Ada nasi, ayam, dan sambal yang dibagikan bersama. Dalam situasi seperti ini, menggunakan alat makan bisa terasa tidak nyaman," ujarnya.

Kebiasaan Makan dengan Tangan Bukanlah Terkesan Tidak Sopan

Drajat juga menegaskan bahwa makan dengan tangan tidak dianggap menjijikkan oleh orang Asia. Hal ini karena mereka sudah mencuci tangan sebelum makan dan menggunakan tangan sendiri. Bahkan, hal ini bisa dianggap sangat sopan karena menunjukkan rasa hormat terhadap makanan yang disajikan.

"Kalau mengambil makanan pakai alat, itu malah terkesan tidak sungguh-sungguh," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa menggunakan tangan dalam makanan bisa memberikan sensasi yang lebih dekat dan nyaman, seperti saat berjabat tangan atau salaman langsung dengan tangan.

Nilai Persatuan dalam Budaya Makan

Selain itu, kebiasaan makan dengan tangan juga mencerminkan nilai persatuan dalam masyarakat Asia. Misalnya, dalam tradisi bancakan di Jawa, makanan seperti ayam utuh atau ingkung sering dibagikan secara langsung menggunakan tangan.

"Dalam tradisi ini, makan dengan tangan bukan hanya sekadar kebiasaan, tapi juga bentuk kebersamaan dan kesetaraan," ujarnya.

Selain itu, Drajat juga menyebutkan bahwa selera makan berbeda-beda di setiap daerah. Contohnya, di Jawa, makan dengan tangan dinilai lebih enak dan memperkuat rasa makanan.

Contoh Lain dari Budaya Makan Asia

Selain makan nasi, kebiasaan makan dengan tangan juga terlihat dalam cara mengonsumsi buah. Misalnya, orang Asia cenderung memegang apel lalu menggigitnya langsung, daripada mengirisnya terlebih dahulu dengan pisau.

Ini menunjukkan bahwa budaya makan dengan tangan tidak hanya terkait dengan praktisitas, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan