Stabilitas Timur Tengah Dorong Investor Beralih ke Pasar Saham

admin.aiotrade 10 Okt 2025 2 menit 11x dilihat
Stabilitas Timur Tengah Dorong Investor Beralih ke Pasar Saham

Kondisi pasar keuangan global dan regional sedang mengalami perubahan yang signifikan akibat stabilisasi di kawasan Timur Tengah. Perjanjian yang tercapai memberikan dampak positif, termasuk menurunkan premi risiko, menarik kembali aliran modal, memperkuat pasar saham dan obligasi, serta mengurangi volatilitas harga energi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head Riset Kiwoom Sekuritas, perdamaian di kawasan tersebut berpotensi menurunkan premi risiko global dan meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko. Hal ini juga memicu koreksi pada harga produk safe haven seperti emas.

Berdasarkan data dari Bloomberg, harga emas mencapai US$3.963 per ounce setelah turun sebesar 1,6% dalam sesi sebelumnya. Namun, harga emas sempat mencapai rekor tertinggi sebesar US$4.059 per troy ounce, sehingga menunjukkan area jenuh beli.

Di sisi lain, pasar saham menunjukkan penguatan yang signifikan. Wall Street mengalami peningkatan dengan indeks seperti S&P 500 dan Nasdaq yang masing-masing tumbuh sebesar 1,62%. Penguatan ini juga terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencapai level rekor ATH (intraday) sebesar 8.272,63.

Meskipun IHSG menyentuh rekor baru, Liza mengungkapkan bahwa aliran modal asing ke pasar saham Indonesia belum sepenuhnya pasti. Selain itu, saham-saham sektor perbankan juga belum mengalami kenaikan yang signifikan.

Namun, situasi saat ini menjadi pertanda adanya pemulihan pasar investasi yang sebelumnya terbebani oleh eskalasi geopolitik. Liza menilai bahwa kondisi pasar saat ini merupakan cerminan dari sinyal awal normalisasi setelah lama dibayangi oleh gejolak geopolitik.

"Tapi arah jangka menengah tetap akan ditentukan oleh prospek suku bunga dan likuiditas global, bukan semata faktor perdamaian," ujar Liza.

Sementara emas cenderung ditinggalkan investor ketika situasi stabil, Liza menilai koreksi jangka pendek lebih disebabkan oleh rotasi sementara ke saham, bukan perubahan tren besar. Ia menambahkan bahwa Goldman Sachs masih memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$4.900 per ounce pada 2026, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan turunnya real yield global.

Dengan demikian, meskipun sentimen risk-on tengah menguat, emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai jangka panjang.

Untuk rekomendasi investasi di tengah pergerakan pasar saat ini, Liza menyarankan investor memanfaatkan momentum untuk melakukan rotasi aset secara selektif ke saham-saham sektor pro-pertumbuhan seperti perbankan, consumer, dan infrastruktur.

"Namun, investor tetap disarankan menjaga porsi emas atau aset lindung nilai lain sebagai penyeimbang portofolio di tengah siklus suku bunga yang masih dinamis," tutupnya.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan