
Ketersediaan BBM Biosolar di Jember Mulai Menipis
Ketersediaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis biosolar di Jember mulai mengalami penurunan menjelang akhir tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap BBM subsidi tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, kuota solar yang tersedia di Jember semakin berkurang, dan saat ini masih tersisa sekitar 20 persen dari total alokasi tahunan.
Sales Branch Manager Pertamina Jember, Hendra Saputra, mengungkapkan bahwa hingga pekan pertama November 2025, sebanyak 80 persen dari kuota biosolar telah terjual. "Setiap SPBU memiliki kuota yang berbeda-beda, sehingga bisa terlihat antrean di SPBU tertentu namun tidak di SPBU lainnya. Namun secara umum, rata-rata sudah mencapai 80 persen dari kuota BBM solar di Jember," ujarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Hendra menambahkan bahwa kuota BBM bersubsidi tersebut diperkirakan cukup hingga akhir tahun 2025 selama SPBU dapat melakukan pengetatan dalam penjualan. Namun, jika terjadi kekurangan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemkab Jember serta BP Migas.
Aturan Penjualan BBM Subsidi yang Lebih Ketat
Untuk memastikan distribusi BBM biosolar tetap merata dan tidak terjadi kelangkaan, Pertamina memberlakukan aturan baru terkait pembelian biosolar. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperketat pembelian dengan memindai barcode sesuai nomor kendaraan pelanggan.
Ketua Bidang BBM DPC Hiswana Migas Besuki, Wahyu Prayudi Nugroho, menegaskan bahwa penggunaan barcode wajib dilakukan oleh setiap SPBU. "Barcode harus digunakan sesuai dengan nomor kendaraan masing-masing. Operator SPBU diminta untuk berhati-hati dan selalu mengecek barcode setiap kali ada pembelian," katanya.
Jika barcode tidak sesuai dengan nomor polisi kendaraan pembeli, maka SPBU diminta untuk tidak melayani. Selain itu, pembelian biosolar yang dilakukan secara berulang juga dilarang. "Apabila ada pembelian solar yang berulang-ulang, disarankan tidak melayani," ujar Wahyu.
Manajemen Penjualan yang Lebih Efektif
Wahyu menjelaskan bahwa langkah-langkah ini diperlukan agar pasokan biosolar di Jember tetap cukup hingga akhir tahun. "Setiap kuota penjualan harian harus diatur agar bisa cukup sampai akhir tahun. Misalnya, jika setiap hari SPBU memiliki kuota 8.000 liter, maka tidak boleh semua dijual pada hari itu juga. Harus diatur waktunya," tambahnya.
Sebagai informasi, kuota tahunan BBM biosolar di Jember mencapai sekitar 10 juta liter. Hingga November 2025, diperkirakan masih tersisa sekitar 1 juta liter. Oleh karena itu, pihak SPBU diminta untuk lebih teliti dalam mengelola penjualan agar tidak terjadi kekosongan pasokan.
Peran Pemerintah dalam Pengaturan Kuota BBM
Pengaturan kuota BBM bersubsidi di setiap daerah ditetapkan langsung oleh pemerintah pusat. Hal ini membuat penjualan BBM subsidi harus diatur secara ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan atau kelangkaan. Selama bulan November dan Desember 2025, Pertamina akan memastikan bahwa penjualan BBM biosolar tetap terkendali dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Dengan adanya aturan baru seperti penggunaan barcode dan pengetatan pembelian, diharapkan masyarakat dapat tetap mendapatkan akses BBM subsidi tanpa mengganggu ketersediaan bagi masyarakat lainnya. Selain itu, langkah-langkah ini juga bertujuan untuk mencegah praktik-praktik tidak sehat seperti pembelian berlebihan atau penyalahgunaan kuota.