Strategi Bank Tahan Pertumbuhan Paylater Saat Daya Beli Menurun

admin.aiotrade 16 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Strategi Bank Tahan Pertumbuhan Paylater Saat Daya Beli Menurun


Tren Kredit Paylater Perbankan yang Melambat dan Strategi Bank untuk Mempertahankan Pertumbuhan

Pertumbuhan kredit buy now pay later (BNPL) atau paylater perbankan di Indonesia masih terus berjalan, meskipun dengan laju yang lebih pelan dibandingkan beberapa waktu lalu. Hal ini disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat yang memengaruhi konsumsi rumah tangga secara keseluruhan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa baki debet kredit BNPL perbankan tumbuh sebesar 25,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 24,86 triliun. Meski pertumbuhan masih dalam angka dua digit, angka ini lebih rendah dibandingkan bulan Agustus 2025 yang mencapai 32,35% YoY.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, tren pertumbuhan baki debit yang melambat ini sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat. Ia menjelaskan bahwa tingkat konsumsi rumah tangga yang turun menjadi salah satu faktor utama. “Daya beli masyarakat saat ini membuat mereka lebih menahan diri untuk berbelanja. Jika daya beli meningkat, maka pertumbuhan BNPL juga akan mengikuti,” ujar Trioksa kepada aiotrade pada Minggu (16/11/2025).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga hanya tumbuh sebesar 4,89% YoY pada kuartal III-2025, lebih lambat dari pertumbuhan 4,97% YoY pada kuartal sebelumnya. Selain itu, prospek BNPL ke depan juga dipengaruhi oleh pengendalian inflasi dari sisi makro. Menurut Trioksa, inflasi yang terkendali dapat mendorong belanja dan otomatis meningkatkan penggunaan kredit.

Meski pertumbuhan BNPL perbankan nasional melambat, PT Allo Bank Indonesia Tbk masih menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Head Corporate Secretary Allo Bank, Stacey Aryadi Suryoputro, mengungkapkan bahwa pertumbuhan baki debit Allo Pay Later secara bulanan (month-on-month/MoM) tetap stabil. “Total kredit yang disalurkan dan jumlah debitur Allo Pay Later naik lebih dari 200% sepanjang tahun 2024 dan 2025,” jelas Stacey.

Katalis utama pertumbuhan Allo Pay Later adalah pertumbuhan nasabah baru. Untuk itu, bank fokus pada akuisisi nasabah melalui perluasan kemitraan dengan mobile operator dan merchant lainnya. Strategi kolaborasi ini, menurut Stacey, bertujuan untuk memperluas cakupan layanan agar produk lebih kompetitif.

Dalam hal target, Allo Bank berupaya mencapai pertumbuhan di atas rata-rata industri. Stacey menyatakan optimisme bahwa pihaknya dapat melanjutkan momentum pertumbuhan yang baik pada tahun lalu. “Dengan mempertimbangkan kondisi makro ekonomi di tahun 2025 ini yang tidak sedang baik-baik saja, kami ingin mencapai pertumbuhan kredit secara kompetitif namun sustainable,” katanya.

Optimisme serupa juga diungkapkan oleh PT Bank Raya Indonesia Tbk. Meski baru meluncurkan produk BNPL Raya Paylater pada kuartal III-2025, Direktur Keuangan Bank Raya, Rustarti Suri Pertiwi, mengungkapkan bahwa produk tersebut telah digunakan oleh lebih dari 20.000 pengguna. Sebagai bagian dari BRI Group, basis nasabah yang solid memberikan peluang pertumbuhan bagi Bank Raya ke depannya.

“Kami berstrategi untuk mengoptimalkan sinergi dengan ekosistem grup,” ujar Rustarti. Dari sisi awareness, peningkatan kesadaran nasabah terhadap produk paylater menjadi fokus utama. Selain itu, Bank Raya juga mengembangkan berbagai fitur untuk menunjang daya saing Raya Paylater.

Dari segi kualitas kredit, penggunaan teknologi seperti AI Credit Scoring didorong agar Approval Rate meningkat tanpa mengorbankan kualitas pinjaman. Dengan strategi ini, Bank Raya berharap bisa memperkuat posisi di pasar BNPL yang semakin kompetitif.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan