Strategi Pemilihan Saham Saat IHSG Melenceng dari Dasar Perusahaan

admin.aiotrade 11 Des 2025 5 menit 14x dilihat
Strategi Pemilihan Saham Saat IHSG Melenceng dari Dasar Perusahaan

aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Di tengah volatilitas pasar saham, investor perlu mempersiapkan strategi yang lebih tajam agar tetap bisa mendapatkan keuntungan dari portofolio mereka. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan kinerja yang kuat. Pada hari Kamis (11/12/2025) pukul 09.47 WIB, IHSG menguat sebesar 0,45% ke level 8.739,94.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Meskipun IHSG mengalami kenaikan pada hari ini, terdapat indikasi bahwa investor asing sedang melakukan aksi jual. Pada perdagangan Rabu (10/11/2025), terjadi net sell sebesar Rp 126,27 miliar di pasar reguler. Sejak awal tahun, IHSG telah meningkat sebesar 22,90% year to date (YTD). Dalam periode tersebut, net sell asing mencapai Rp 43,08 triliun.

Berdasarkan data di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), price to earning (PER) IHSG berada di level 15,76x dan price to book value (PBV) 2,51x.

Pada sesi perdagangan Rabu (10/12/2025), beberapa emiten menjadi yang paling banyak diperdagangkan. Di antaranya adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Humpuss Maritim International Tbk (HUMI).

Volume perdagangan saham BUMI mencapai 21,01 miliar saham, DEWA 4,4 miliar saham, GOTO 3,35 miliar saham, BKSL 2,89 miliar saham, dan HUMI 2,71 miliar saham. Sementara itu, nilai transaksi terbesar hari ini mencakup BUMI senilai Rp 6,64 triliun, DEWA Rp 1,81 triliun, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Rp 1,58 triliun, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 1,58 triliun, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1,15 triliun.

Dari segi frekuensi perdagangan, BUMI diperdagangkan sebanyak 430,29 ribu kali, DEWA 144,16 ribu kali, HUMI 124,13 ribu kali, PT GTS International Tbk (GTSI) 99,18 ribu kali, dan COIN 91,69 ribu kali.

Ada kecenderungan bahwa pasar saat ini lebih memilih saham dengan sentimen aksi korporasi daripada saham berfundamental baik. Hal ini disampaikan oleh Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Menurutnya, dalam tiga bulan terakhir, lima saham dengan rata-rata volume terbesar adalah BUMI, GOTO, DEWA, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan BKSL. Sementara itu, lima saham dengan rata-rata nilai transaksi terbesar dalam tiga bulan terakhir adalah BBCA, BUMI, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan BRMS.

Ini menunjukkan bahwa saham-saham terafiliasi dengan Grup Bakrie menjadi pilihan pasar dalam tiga bulan terakhir akibat adanya rencana proyek dan katalis corporate action.

“Saham perbankan menarik karena menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia yang saat ini masih dihargai di bawah pasar,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menilai bahwa BBRI, BBCA, BMRI, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi saham dengan nilai average value traded terbesar dalam satu bulan terakhir.

“Dalam sebulan terakhir, BBRI diperdagangkan senilai Rp 1,1 triliun, BBCA Rp 981 miliar, BMRI Rp 916 miliar, dan PTRO Rp 373 miliar secara year to date (YTD),” katanya.

Strategi dan Rekomendasi Saham

Liza mengatakan, ada berbagai cara untuk mencari saham murah di tengah volatilitas pasar saat ini. Salah satunya adalah dengan melihat perbandingan PER di bawah 15x, PBV di bawah 2x, atau saham yang diperdagangkan di bawah rata-rata peers sektornya.

Memasuki tahun 2026, ada sejumlah saham yang dinilai layak dicermati. Antara lain adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Enegi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Astra International Tbk (ASII), BBRI, dan BBCA.

Saham-saham ini mewakili kombinasi sektor consumer staples, healthcare, plantation, telekomunikasi, infrastruktur jalan tol, energi migas, industrial/otomotif, dan perbankan.

“Pemilihan sembilan saham ini didasarkan pada valuasi yang masih menarik, fundamental yang solid, serta katalis pertumbuhan yang jelas memasuki tahun 2026,” katanya.

JPFA dipilih karena prospek pertumbuhan volume dan average selling price (ASP) yang kuat seiring penguatan permintaan protein dan kebijakan culling atau grand parent stock (GPS).

Sementara itu, KLBF mewakili sektor kesehatan yang defensif dengan momentum penjualan yang tetap tinggi. SSMS menjadi proksi emiten sawit (CPO) dengan dukungan program B50 dan kondisi suplai yang ketat.

Untuk TLKM, ada katalis besar spin-off PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) yang membuka peluang penambahan nilai dari aset fiber optik. JSMR diproyeksikan diuntungkan oleh kenaikan trafik tol, penyesuaian tarif, dan potensi turunnya biaya bunga.

ENRG dipilih untuk eksposur migas dengan tren produksi yang meningkat. Sedangkan, ASII menjadi pemain kunci di tengah potensi pemulihan daya beli dan penurunan suku bunga di segmen otomotif.

“Sementara dua bank besar, BBRI dan BBCA, tetap menjadi tulang punggung portofolio berkat valuasi fair to undervalue, perbaikan kualitas kredit, dan ekspektasi re-rating seiring pemulihan ekonomi nasional,” ungkapnya.

Harry berpandangan, di tengah IHSG yang tidak selalu mencerminkan fundamental, saham dengan valuasi murah dan fundamental solid dapat ditemukan di sektor konsumer.

Misalnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan KLBF yang menunjukkan pemulihan penjualan dan margin yang lebih baik berkat penurunan biaya input.

TLKM Chart
by TradingView

Sentimen positif berasal dari pemulihan konsumsi dan stabilisasi harga komoditas. Untuk sektor perbankan, BBCA masih menarik, meskipun optimismenya harus dipandang secara hati-hati.

Sebab, risiko likuiditas telah banyak mereda dan perhatian pasar kini beralih pada kualitas pertumbuhan pinjaman serta kemampuan BBCA untuk mempertahankan net interest margin (NIM) di tengah dinamika pembiayaan yang berubah.

“Harapannya kualitas aset BBCA tetap stabil, didorong oleh penurunan suku bunga pinjaman dan lingkungan makro yang membaik,” tuturnya.

Harry pun merekomendasikan beli untuk TLKM, ICBP, dan BBCA yang punya prospek solid dan valuasi menarik. Target harga masing-masing ada di level Rp 3.900 per saham, Rp 12.800 per saham, dan Rp 9.600 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan