
Jakarta
Di era sekarang, semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya persiapan dana pensiun. Banyak pekerja mulai merencanakan keuangan mereka untuk masa depan, meskipun usia mereka masih tergolong muda. Namun, tidak semua orang mempersiapkan dana pensiun dengan cara yang tepat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Laporan Asia Care Survey 2025 yang dilakukan oleh Manulife menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia masih memiliki pola pikir yang salah dalam mengelola dana pensiun. Kesalahan ini terjadi di berbagai kelompok usia, baik yang masih muda maupun yang mendekati masa pensiun. Akibatnya, bekal pensiun yang mereka siapkan jauh dari optimal.
Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, menjelaskan bahwa menyiapkan dana pensiun bukan sekadar menabung. Dibutuhkan strategi matang dalam pengelolaannya. Salah satu kesalahan umum adalah mengabaikan strategi tiga babak investasi dalam menyiapkan dana pensiun.
Tahap Pertama: Babak Akumulasi
Pada tahap pertama, disebut sebagai babak akumulasi, tujuan utamanya adalah menumbuhkan modal melalui instrumen investasi yang agresif dan fluktuatif. Di tahap ini, investor bisa mempertimbangkan aset seperti saham, reksa dana saham, emas, atau properti, asalkan memahami risikonya.
Namun, hasil survey menunjukkan bahwa responden Indonesia di usia produktif justru lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk tunai. Lebih dari 50% aset mereka berada dalam bentuk uang tunai. Hal ini menyebabkan tidak ada imbal hasil yang signifikan. Bahkan, banyak dari mereka menempatkan dana dalam tabungan, yang dirancang untuk transaksi harian, bukan pertumbuhan.
Tahap Kedua: Babak Preservasi
Setelah pensiun tinggal 3-5 tahun lagi, investor memasuki tahap kedua, yaitu babak preservasi. Tujuannya adalah mengurangi risiko demi menjaga modal yang telah terkumpul. Di tahap ini, investor bisa memperbanyak porsi instrumen investasi yang memberikan potensi laba lebih terbatas. Contohnya, obligasi dan reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan yang baik.
Tahap Ketiga: Babak Realisasi
Di tahap realisasi, investor mulai mengonsumsi dana pensiun sebagai pengganti penghasilan bulanan. Pada tahap ini, dana pensiun sebaiknya sangat likuid dan mudah diakses. Alternatif yang stabil dan bebas dari fluktuasi juga sangat diperlukan. Di fase ini, deposito dan reksa dana pasar uang bisa dipertimbangkan.
Namun, hasil survey menunjukkan bahwa 38% responden berusia 55 tahun lebih justru memprioritaskan properti sebagai aset utama. Alasannya, harga properti cenderung meningkat. Padahal, saat tak lagi produktif, likuiditas menjadi hal utama. Idealnya, investor sudah tidak lagi bergantung pada aset yang butuh waktu lama untuk dijual.
Kesalahan Lain: Tidak Siap Menghadapi Kejadian Tak Terduga
Salah satu kesalahan fatal adalah ketidaksiapan menghadapi kejadian tak terduga. Tanpa perlindungan, sakit, kehilangan jiwa, kehilangan pekerjaan, atau penghasilan bisa menghancurkan rencana pensiun sejahtera.
Karena itu, penting bagi setiap individu untuk memiliki asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan dana darurat. Eveline menekankan bahwa ketiganya adalah tameng yang harus disiapkan sejak awal. Dengan perlindungan ini, seseorang dapat lebih tenang dan siap menghadapi masa pensiun tanpa khawatir terhadap risiko finansial yang tidak terduga.