
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change menunjukkan bahwa gletser di Pegunungan Alpen Eropa diperkirakan akan mencapai puncak laju kepunahan dalam delapan tahun ke depan. Lebih dari 100 gletser diperkirakan akan menghilang secara permanen pada 2033.
Di wilayah barat Amerika Serikat dan Kanada, gletser diperkirakan akan mencapai titik kehilangan tertinggi dalam waktu kurang dari satu dekade. Selama periode tersebut, lebih dari 800 gletser diperkirakan hilang setiap tahunnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Penelitian ini menganalisis lebih dari 200 ribu gletser dari basis data garis batas yang diperoleh melalui citra satelit. Para peneliti menggunakan tiga model gletser global untuk mengevaluasi nasib gletser-gletser tersebut di bawah berbagai skenario pemanasan global.
Pemanasan global akibat aktivitas manusia menjadi salah satu indikator paling jelas dari krisis iklim saat ini. Saat ini, sekitar 200 ribu gletser masih tersisa di seluruh dunia, dengan sekitar 750 gletser menghilang setiap tahun.
Namun, studi ini menunjukkan bahwa laju kehilangan gletser akan meningkat secara signifikan seiring terus bertambahnya emisi dari pembakaran bahan bakar fosil. Rencana aksi iklim saat ini diperkirakan akan memicu kenaikan suhu global hingga sekitar 2,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, yang akan memperparah cuaca ekstrem.
Dalam skenario ini, kehilangan gletser akan mencapai puncak sekitar 3.000 gletser per tahun pada 2040 dan tetap pada tingkat tersebut hingga 2060. Pada akhir abad ini, sekitar 80% gletser yang ada saat ini diperkirakan akan lenyap.
Pentingnya Pengurangan Emisi Karbon
Jika pengurangan emisi karbon dilakukan secara cepat, maka kenaikan suhu global dapat dibatasi pada 1,5 derajat Celsius. Dalam skenario ini, kehilangan gletser per tahun diperkirakan akan mencapai sekitar 2.000 gletser pada 2040, setelah itu laju kehilangan akan menurun.
Matthias Huss, ilmuwan senior di ETH Zurich, Swiss, dan anggota tim peneliti, menyatakan bahwa empat gletser telah punah, termasuk yang terbaru dari sekitar 1.000 gletser yang diperkirakan telah hilang di negara tersebut selama tiga dekade terakhir.
Wilayah dengan gletser terkecil dan paling cepat mencair ditemukan sebagai yang paling rentan. Studi ini memperkirakan bahwa 3.200 gletser di Eropa Tengah akan menyusut hingga 87% pada 2100 jika kenaikan suhu global dibatasi pada 1,5 derajat Celsius. Angka ini akan meningkat menjadi 97% di bawah skenario pemanasan 2,7 derajat Celsius.
Di wilayah barat Amerika Serikat dan Kanada, termasuk Alaska, sekitar 70% dari 45 ribu gletser yang ada saat ini diproyeksikan akan lenyap pada pemanasan 1,5 derajat Celsius. Jumlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 90% pada pemanasan 2,7 derajat Celsius.
Pegunungan Kaukasus dan Andes juga diperkirakan akan mengalami kehilangan yang sangat besar. Gletser yang lebih besar membutuhkan waktu lebih lama untuk mencair. Di Greenland, gletser diperkirakan akan mencapai puncak laju kepunahan sekitar 2063, dengan kehilangan 40% pada 2100 di bawah skenario 1,5 derajat Celsius dan 59% di bawah skenario 2,7 derajat Celsius. Namun, pencairan diperkirakan akan terus berlanjut setelah 2100.
Titik Balik yang Berdampak Luas
Para peneliti menyatakan bahwa tanggal puncak kehilangan tersebut bukan hanya sekadar angka. “Tanggal-tanggal ini menandai titik balik dengan implikasi besar bagi ekosistem, sumber daya air, dan warisan budaya,” tulis mereka.
“Ini adalah kisah manusia tentang lanskap yang menghilang, tradisi yang memudar, dan rutinitas harian yang terganggu.”
Dr. Arun Bhakta Shrestha, penasihat senior di International Centre for Integrated Mountain Development, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa studi tersebut menegaskan bagaimana keputusan iklim hari ini akan sangat memengaruhi masa depan fitur alam penting ini.
Shrestha menambahkan bahwa penelitian ini memberikan perspektif berharga tentang perubahan cepat yang terjadi pada lanskap gletser dan masyarakat yang bergantung padanya. Meskipun demikian, studi ini juga mencatat sejumlah keterbatasan, seperti ketidakpastian dalam menghitung gletser kecil dan yang tertutup puing, serta kurangnya data terbaru.