Studi Cambridge: Akun Palsu dijual Rp1.200, Bahaya Hoaks Media Sosial

admin.aiotrade 19 Des 2025 3 menit 10x dilihat
Studi Cambridge: Akun Palsu dijual Rp1.200, Bahaya Hoaks Media Sosial

Penelitian Menemukan Pasar Gelap Akun Palsu Media Sosial yang Murah dan Mengkhawatirkan

Sebuah studi terbaru dari Universitas Cambridge mengungkap keberadaan pasar gelap akun palsu media sosial yang dijual dengan harga sangat murah. Harga rata-rata per akun bisa mencapai US$ 8 sen atau sekitar Rp1.200. Praktik ini dinilai menjadi salah satu sumber utama penyebaran misinformasi, manipulasi opini publik, hingga intervensi pemilu di berbagai negara.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Temuan ini dipublikasikan melalui Cambridge Online Trust and Safety Index (COTSI), sebuah platform yang melacak harga pembuatan akun palsu secara real time di lebih dari 500 platform digital, seperti Instagram, TikTok, X, Amazon, dan LinkedIn. Dengan data yang dikumpulkan, para peneliti mampu memetakan tren dan risiko yang muncul dari praktik ini.

Akun Palsu Digunakan untuk Membangun "Pasukan Bot"

Peneliti menemukan bahwa akun palsu biasanya digunakan untuk membangun “pasukan bot”, yakni akun-akun otomatis yang dibuat agar terlihat seperti pengguna asli. Bot ini dapat membanjiri kolom komentar, menaikkan jumlah like dan pengikut, hingga menyebarkan pesan politik secara terkoordinasi.

Menurut para penulis studi, bot tersebut dapat digunakan untuk membanjiri diskusi daring, mempromosikan produk atau penipuan, hingga mendorong pesan-pesan politik tertentu. Situasi ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena sejumlah platform media sosial mulai mengurangi moderasi konten dan menerapkan skema pembayaran berbasis interaksi, yang berpotensi mendorong aktivitas palsu.

Kecerdasan Buatan Memperburuk Masalah

Masalah ini semakin parah dengan berkembangnya kecerdasan buatan (AI). Bot kini bisa menulis pesan yang terdengar lebih manusiawi dan menyesuaikan isi komentar dengan lawan bicaranya, sehingga semakin sulit dikenali. Dengan kemampuan ini, bot tidak hanya mampu menyebarluaskan informasi, tetapi juga memengaruhi persepsi dan sikap publik secara signifikan.

Perbedaan Harga Akun Palsu di Berbagai Negara

Harga pembuatan akun palsu berbeda-beda di tiap negara. Verifikasi SMS untuk satu akun palsu rata-rata hanya US$0,08 atau setara Rp 1.200 di Rusia, US$0,10 atau Rp1.600 di Inggris, dan US$0,26 atau Rp4.300 di Amerika Serikat. Sebaliknya, biaya di Jepang jauh lebih mahal, mencapai hampir US$5 atau Rp 83 ribuan per akun, karena aturan kartu SIM yang lebih ketat.

Lonjakan Permintaan Akun Palsu Saat Pemilu

Studi ini juga menemukan adanya lonjakan permintaan akun palsu menjelang pemilu. Harga akun di aplikasi pesan seperti Telegram dan WhatsApp naik hingga belasan persen sebelum hari pencoblosan, karena akun harus didaftarkan dengan nomor lokal. Hal ini menunjukkan bahwa praktik ini tidak hanya sekadar masalah teknologi, tetapi juga memiliki dampak langsung pada proses demokrasi.

Solusi untuk Mengurangi Peredaran Akun Palsu

Tim peneliti menilai, pengetatan aturan kartu SIM dan verifikasi identitas pengguna bisa menjadi cara untuk menekan peredaran akun palsu. Dengan langkah-langkah ini, platform digital dapat membatasi akses ke akun-akun yang tidak sah dan mengurangi potensi penyalahgunaan. Namun, tantangan tetap besar, mengingat evolusi teknologi dan kebutuhan masyarakat akan layanan digital yang lebih mudah diakses.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan