
Analisis Studi Celios Mengenai Program Makan Bergizi Gratis
Studi yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mahal dan tidak efektif dalam mencapai masyarakat yang paling membutuhkan. Penelitian ini berdasarkan analisis terhadap persentase kemiskinan dan jumlah keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas menyediakan dan mendistribusikan makanan kepada penerima.
Menurut peneliti Celios, Isnawati Hidayah, daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi justru memiliki jumlah dapur MBG yang semakin sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi makanan tidak sesuai dengan kebutuhan warga yang sebenarnya memerlukan bantuan. Dalam analisisnya, jumlah dapur MBG juga semakin berkurang di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), meskipun di daerah tersebut banyak penduduk yang hidup dalam kondisi miskin dan terpencil.
Program MBG yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2026 dengan anggaran sebesar Rp 335 triliun ini semakin dipertanyakan efektivitasnya. Tidak hanya itu, program ini juga tidak mengalami efisiensi di tengah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta tidak terpengaruh oleh tekanan inflasi, potensi Super El Nino dan El Nino, atau kekeringan panjang yang berdampak pada sektor pertanian.
Kesalahan Dalam Penyasarannya
Studi Celios pada 2025 menunjukkan adanya kesalahan penyasaran (inclusion error) sebesar 34,2 persen dari program MBG. Artinya, banyak penerima program ini bukanlah orang-orang yang paling membutuhkan. Kondisi ini diperparah oleh alokasi anggaran yang digunakan untuk hal-hal yang tidak relevan, seperti event organizer, pengadaan tablet, kaos kaki, sepeda motor listrik, dan lain-lain.
Isnawati menegaskan bahwa alih-alih memperbaiki gizi anak, MBG justru mencerminkan salah sasaran dan kegagalan dalam tata kelola anggaran publik. Celios merekomendasikan agar ekspansi SPPG dihentikan dan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain, distribusi, dan implementasi MBG. Pendekatan universal tidak terbukti efektif karena daerah paling rentan justru tidak terjangkau secara optimal.
Langkah-Langkah Perbaikan
Program ini perlu diaudit secara menyeluruh dan independen terhadap distribusi SPPG, pengadaan barang dan jasa, serta potensi penggelembungan anggaran sebagai bentuk akuntabilitas. Pengadaan barang dan jasa seperti event organizer, merchandise, dan sejenisnya perlu dievaluasi karena tidak berhubungan langsung dengan pemenuhan gizi anak.
Selanjutnya, diperlukan sistem pemantauan real-time yang terbuka untuk publik agar distribusi dan penggunaan anggaran dapat diawasi. Salah satu rekomendasi penting adalah menggunakan indikator outcome (status gizi, penurunan stunting) bukan hanya output (jumlah SPPG) dalam evaluasi program.
Rekomendasi dan Tindak Lanjut
Celios menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, termasuk melihat kembali desain dan mekanisme distribusi. Selain itu, diperlukan transparansi yang lebih tinggi dalam penggunaan anggaran agar bisa memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan program MBG dapat lebih efektif dan tepat sasaran dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.