
Gubernur DIY Berikan Sambutan dalam Acara ITMF Annual Meeting & IAF Fashion Convention 2025
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyambut kedatangan delegasi dari ITMF Annual Meeting & IAF Fashion Convention 2025 dalam acara Royal Welcome Dinner di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo pada hari Kamis, 23 Oktober 2025 malam. Acara ini menjadi momen penting dalam memperkenalkan visi dan tantangan yang dihadapi industri tekstil di masa depan.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengungkapkan beberapa tantangan utama yang harus dihadapi oleh industri tekstil. Pertama, perubahan iklim yang semakin mengancam, sehingga menuntut transformasi radikal dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular yang regeneratif. Tantangan ini tidak hanya terkait dengan pengurangan limbah, tetapi juga menekankan pentingnya pengurangan konsumsi air yang masif, penanggulangan polusi mikroplastik, serta pengurangan emisi karbon dari rantai produksi global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Disrupsi digital dan kesenjangan teknologi juga menjadi isu yang muncul. Perbedaan akses teknologi antara perusahaan besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memperlebar jurang ketimpangan. Selain itu, kompleksitas rantai pasok global menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Meskipun rantai pasok global memberikan efisiensi, namun di sisi lain menciptakan kerentanan terhadap guncangan seperti pandemi, konflik geopolitik, hingga fluktuasi harga bahan baku global.
Tantangan lain yang disampaikan adalah transparansi dan tuntutan etika. Tekanan untuk menerapkan full supply chain transparency dan mematuhi prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) semakin kuat dan tak bisa ditawar lagi.
“Berangkat dari tantangan tersebut, visi ke depan mengharuskan kita untuk berpikir secara ekosistem, bukan hanya sektor. Industri tekstil di masa depan adalah kolaborasi antara data saintifik dan maestro tenun, antara insinyur bioteknologi dan perajin tradisional, antara regulator yang visioner dan pelaku industri yang gesit,” ujarnya.
Menurut Sultan, kolaborasi yang terjalin dalam ITMF Annual Meeting & IAF Fashion Convention 2025 harus mampu melampaui batas-batas konvensional. Ia berharap konferensi ini dapat menjadi katalis untuk aksi kolektif.
“Titik di mana kita tidak lagi berkompetisi secara sempit, tetapi berkolaborasi untuk memperluas kemakmuran global,” tambahnya. “Mari kita ciptakan standar etika dan keberlanjutan bersama, berinvestasi dalam riset, dan memberdayakan industri tekstil dalam rantai nilai global.”
Sri Sultan juga mengajak untuk membangun peta jalan menuju “Textile 5.0”, sebuah era di mana industri ini menjadi pionir dalam keberlanjutan, inklusivitas, dan kecerdasan buatan, tanpa kehilangan jiwa dan jati dirinya.
Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastratmaja, menambahkan bahwa pertemuan tahunan ini akan menjadi forum untuk saling bertukar informasi dan pengetahuan serta merumuskan berkelanjutan industri tekstil dunia.
“Dalam acara ini, marilah kita bersama merayakan komitmen memajukan salah satu sektor penting di dunia, melalui kolaborasi dan saling belajar tanpa batasan. Tentu semua ini demi mewujudkan cita-cita bersama untuk masa depan keberlanjutan industri tekstil maupun pakaian jadi,” imbuhnya.