Sultan Bima XIV Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025
\nPengumuman yang sangat dinantikan akhirnya tiba. Sultan Bima XIV, Muhammad Salahuddin, telah ditetapkan sebagai penerima gelar Pahlawan Nasional tahun 2025. Kabar ini disampaikan oleh pihak Sekretariat Militer Presiden (Sesmilpres) kepada Kepala Museum Samparaja, Dewi Ratna Muchlisa, yang juga merupakan cucu dari Sultan Muhammad Salahuddin.
\n“Saya ditelepon dari Sesmilpres. Pesannya dari (Menteri Kebudayaan) Fadli Zon, yang mengabarkan bahwa Sultan Muhammad Salahuddin lolos menjadi Pahlawan Nasional,” ujar Dewi di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Dewi, penganugerahan gelar bergengsi ini rencananya akan dilangsungkan di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2025 mendatang. Hal ini juga dibenarkan oleh Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bima, Tajuddin. Ia mengonfirmasi bahwa usulan yang diajukan kembali tahun ini telah membuahkan hasil positif di tingkat pusat.
\n“Kami juga sudah mendapatkan informasi bahwa usulan tersebut telah mendapat persetujuan di tingkat pusat,” kata Tajuddin.
\nMeski demikian, Dinsos Bima masih menunggu pengumuman resmi dari Kementerian Sosial (Kemensos) terkait penetapan ini. Sebagai informasi, usulan penetapan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai pahlawan nasional ini telah melalui proses panjang, termasuk kajian dan verifikasi mendalam dari berbagai pihak.
\nSultan yang memimpin Bima dari sekitar tahun 1915 hingga 1951 ini dikenal memiliki peran besar dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan dan memajukan pendidikan masyarakat Bima di era penjajahan. Catatan sejarah juga menyebut beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa, NTB.
\n
\nKesultanan Bima - (Wikipedia)
Usulan gelar pahlawan nasional ini diajukan bersama sejumlah tokoh nasional lain, seperti Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan aktivis buruh perempuan asal Nganjuk, Marsinah.
\nAlur Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional
\nProses penetapan gelar ini melalui alur yang terstruktur dan melibatkan berbagai tahapan serta pihak, dari daerah hingga pusat, untuk memastikan kelayakan sang tokoh.
\nProses pengusulan dimulai dari inisiatif masyarakat di daerah, dalam hal ini masyarakat Bima dan Pemerintah Kabupaten Bima. Usulan ini kemudian diajukan secara resmi kepada pemerintah daerah setempat untuk mendapat dukungan dan pengkajian awal.
\nSetelah mendapat persetujuan di tingkat kabupaten dan provinsi, usulan tersebut diteruskan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Pada tahap ini, usulan harus disertai dengan berbagai bukti sejarah, dokumen pendukung, dan kajian ilmiah yang membuktikan peran dan kontribusi signifikan Sultan Muhammad Salahuddin dalam perjuangan kemerdekaan atau pembangunan bangsa.
\nKemensos kemudian membentuk Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Tim ini bertugas memverifikasi dan mengkaji ulang kelengkapan administrasi serta substansi sejarah dari usulan yang masuk. Proses kajian oleh TP2GP ini sangat krusial dan memakan waktu cukup lama, melibatkan peninjauan dokumen hingga kunjungan lapangan.
\nSetelah melalui kajian mendalam oleh TP2GP, usulan yang dianggap memenuhi kriteria diajukan kepada Presiden melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Dewan ini akan memberikan pertimbangan akhir kepada Presiden.
\nTahap terakhir adalah keputusan akhir oleh Presiden RI. Jika disetujui, Presiden akan menetapkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres). Penganugerahan gelar biasanya dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November, di Istana Negara.