Tantangan Besar yang Dihadapi Industri Tekstil di Masa Depan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwana X, menyampaikan sejumlah tantangan besar yang akan dihadapi industri tekstil ke depan. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Royal Welcome Dinner di Pendopo Agung, Royal Ambarrukmo, pada Kamis, 23 Oktober 2025. Acara ini menjadi rangkaian awal dari ITMF Annual Meeting 2025 dan IAF Fashion Convention 2025, yang akan berlangsung di Yogyakarta pada 24–25 Oktober 2025.
Acara yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (BPP API) dan didukung oleh Badan Pengurus Daerah API DIY (BPD API DIY) turut dihadiri oleh Jemmy Kartiwa Sastraatmaja (Ketua Umum BPP API 2025–2026), Suyatman Nainggolan (Ketua BPS API DIY), Robby Kusumaharta (Penasihat BPD API DIY), Sri Darmadi Sudibyo (Kepala BI DIY), Ekono Yunianto (Kepala OJK DIY), serta sejumlah pengurus ITMF, IAF, BPP API, dan BPD API DIY.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sri Sultan HB X menjelaskan bahwa tantangan pertama adalah tekanan keberlanjutan yang multidimensi. Perubahan iklim telah memicu tuntutan transformasi radikal dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular yang regeneratif. “Tantangan ini tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga menekan konsumsi air yang masif, polusi mikroplastik, dan emisi karbon dari rantai produksi global,” ujarnya.

Tantangan kedua adalah disrupsi digital dan kesenjangan teknologi. Revolusi industri 4.0 membawa otomasi, Artificial Intelligence (AI), dan Blockchain yang mengubah lanskap produksi. Kondisi ini menjadikan jurang antara perusahaan besar dan UMKM yang kesulitan mengakses teknologi, justru berpotensi menciptakan kesenjangan yang mengancam keberlangsungan pelaku industri tradisional.
Tantangan ketiga, lanjut Sri Sultan, adalah kompleksitas rantai pasok global. Meskipun efisiensi bisa tercapai, hal ini justru menciptakan kerentanan terhadap guncangan seperti pandemi, konflik geopolitik, dan fluktuasi harga bahan baku global. “Berangkat dari tantangan tersebut, visi ke depan mengharuskan untuk berpikir secara ekosistem, bukan hanya sektor. Kolaborasi yang dibangun melalui pertemuan ini, harus melampaui batas-batas konvensional,” tegas Sri Sultan.
Menurutnya, industri tekstil di masa depan adalah kolaborasi antara data saintifik dan maestro tenun, antara insinyur bioteknologi dan perajin tradisional, antara regulator yang visioner dan pelaku industri yang gesit.
Berkaitan dengan hal tersebut, Sri Sultan mengajak semua pihak untuk bersama membangun peta jalan menuju “Textile 5.0”, sebuah era di mana industri ini menjadi pionir dalam keberlanjutan, inklusivitas, dan kecerdasan buatan, tanpa kehilangan jiwa dan jati dirinya.

Selanjutnya, Jemmy Kartiwa Sastratmaja memberikan informasi bahwa ITMF and IAF Annual Meeting 2025 ini diikuti oleh sekitar 350 tamu, yang terdiri dari 268 tamu mancanegara dan 89 tamu dari dalam negeri. Pertemuan ini akan menjadi forum untuk saling bertukar informasi dan pengetahuan serta merumuskan berkelanjutan industri tekstil dunia.
“Marilah kita bersama merayakan komitmen memajukan salah satu sektor penting di dunia, melalui kolaborasi dan saling belajar tanpa batasan. Tentu semua ini demi mewujudkan cita-cita bersama untuk masa depan keberlanjutan industri tekstil maupun pakaian jadi,” ucap Jemmy Kartiwa.
Ia menyebutkan bahwa tema ITMF and IAF Annual Meeting 2025 adalah “Menavigasi Ketidakpastian dan Mengadopsi Teknologi, Jalan Menuju Kekuatan Berkelanjutan dalam Industri Tekstil dan Pakaian Jadi”.
Ia menjelaskan bahwa Yogyakarta dipilih sebagai tempat penyelenggaraan karena dinilai memiliki kekuatan kekayaan warisan seni, kerajinan, dan kreativitasnya. “Yogyakarta juga dikenal memiliki esensi industri tekstil dan fashion yang mempertemukan tradisi dengan inovasi. DIY juga dikenal sebagai pusat produsen tekstil dan garmen yang maju berkembang, sehingga perlu mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan,” jelas Jemmy.
Y Sri Susilo, Ketua Bidang Ekonomi BPD API DIY, menambahkan bahwa pada acara Royal Welcome Dinner ini juga digelar “Eksibisi Batik Dalam Daur Hidup” oleh Afif Syakur dan peragaan busana yang dipersembahkan oleh BPD API DIY.