
YOGYAKARTA, aiotrade
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya dialog antar generasi dalam membangun hubungan yang harmonis. Menurutnya, para pejabat perlu bersedia mendengarkan dan membuka ruang diskusi dengan generasi muda, bukan hanya memberi perintah semata.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sultan HB X saat menghadiri Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai di Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan, Kota Yogyakarta, pada Minggu (26/10/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Saya hanya ingin mengingatkan kepada para pejabat dan sebagainya bahwa antargenerasi bisa membawa konsekuensi jika pemahaman yang berbeda tidak didiskusikan lebih jauh," ujarnya.
Sultan menjelaskan bahwa perbedaan cara pandang antara generasi tua dan muda adalah hal yang wajar. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pengalaman dan zamannya yang berbeda. Oleh karena itu, ia menilai para pejabat atau generasi tua perlu memahami pola pikir generasi muda agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan kesenjangan.
Raja Keraton Yogyakarta itu mengaku telah mencoba belajar untuk memahami keinginan generasi muda.
"Usia saya terlalu berbeda banyak dengan anak-anak muda yang ada sekarang," kata Sultan.
"Ia mencoba belajar untuk menyelami keinginan anak-anak muda, bukan anak-anak muda yang mengikuti pola pikir saya."
Menurut dia, tanpa dialog terbuka, perbedaan generasi dapat menimbulkan kesalahpahaman, bahkan bisa merusak kebersamaan sosial.
"Harapan saya, yang tua itu mau mendengar yang muda, syukur bisa menyesuaikan pola pikirnya," ucap Sri Sultan.
"Kalau yang muda suruh ngikutin saya, enggak bisa, karena dia tidak punya pengalaman seperti pengalaman orang yang lebih tua."
Lebih lanjut, Sri Sultan menyinggung pengalaman masa lalu saat Reformasi 1998 sebagai pelajaran penting bagi bangsa. Menurut Sultan, peristiwa itu seharusnya tidak perlu terjadi jika saat itu komunikasi antara generasi tua dan muda terjalin dengan baik.
"Peristiwa reformasi hanya karena masalah gap pola pikir yang tua sama yang muda, tapi tidak pernah dikomunikasikan dengan baik, sehingga tidak nyambung," ujarnya.
Karena itu, agar peristiwa serupa tak terulang, Sri Sultan mengajak para pejabat untuk membangun komunikasi yang setara, sehingga perbedaan pandangan justru memperkuat kehidupan demokrasi, bukan menimbulkan ketegangan.
"Mungkin dalam kebijakan akan ada perbedaan, yang penting jangan sampai terjadi gap. Nanti kalau ada demonstrasi baru kaget, kan gitu," ucap Sri Sultan.
Pentingnya Komunikasi Antar Generasi
Komunikasi antar generasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sosial dan politik. Perbedaan pendapat dan cara berpikir tidak selalu menjadi hambatan, tetapi bisa menjadi sarana pembelajaran dan penguatan hubungan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara generasi tua dan muda:
Membuka ruang dialog secara terbuka dan saling menghargai
Memahami latar belakang dan pengalaman masing-masing pihak
Menghindari penilaian yang terburu-buru atau bias
Mencari solusi bersama yang saling menguntungkan
Contoh Pengalaman Masa Lalu
Reformasi 1998 menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan pola pikir antar generasi dapat memicu konflik. Pada masa itu, kurangnya komunikasi antara generasi tua dan muda membuat kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sri Sultan berharap, dari pengalaman tersebut, para pemimpin masa kini dapat belajar untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Dengan begitu, perbedaan pandangan tidak akan menjadi sumber ketegangan, tetapi justru menjadi kekayaan yang memperkaya proses pengambilan keputusan.
Tantangan dan Solusi
Tantangan yang dihadapi antar generasi tidak hanya terbatas pada perbedaan pola pikir, tetapi juga pada cara berkomunikasi. Generasi muda cenderung lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi, sedangkan generasi tua lebih mengutamakan tradisi dan stabilitas.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan:
Penyesuaian metode komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing generasi
Edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman antar generasi
* Pembentukan forum diskusi yang melibatkan berbagai kalangan usia
Dengan komunikasi yang baik, harapan besar dapat tercapai, yaitu terciptanya masyarakat yang damai dan harmonis.