Sumatra Dihantam Bencana, Perbanas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Masih 5 Persen

admin.aiotrade 10 Des 2025 3 menit 18x dilihat
Sumatra Dihantam Bencana, Perbanas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Masih 5 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Nasional Masih Dapat Bertahan di Level 5 Persen

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih dapat bertahan di tingkat 5 persen pada tahun ini. Meskipun sejumlah wilayah di Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, mengalami bencana alam yang berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi.

Sumatra selama ini menjadi penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional terbesar kedua dengan kontribusi sekitar 22 persen pada kuartal II-2025. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap target pertumbuhan ekonomi 2025. Namun, Perbanas tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan di level 5 persen meski ada penurunan dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 5,2 persen.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, menjelaskan bahwa dampak bencana terhadap sektor di luar perbankan belum sepenuhnya dapat dipetakan karena skalanya cukup luas. Kendati demikian, kontribusi dari sektor-sektor lain dinilai masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen.

"Sebenarnya untuk mencapai 5 persen masih bisa lah," ujarnya dalam Konferensi Pers Perbanas CEO Forum Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Kebijakan untuk Jaga Kualitas Kredit

Terkait dampak pada debitur, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih melakukan pendalaman data. Aviliani memastikan sejumlah kebijakan akan disiapkan untuk menjaga kualitas kredit. Beberapa langkah yang mungkin diambil antara lain restrukturisasi kredit atau penghapusan tagihan agar NPL (kredit bermasalah) tidak naik.

“Ada yang mungkin direstrukturisasi, ada yang dihapus tagih agar NPL (kredit bermasalah) tidak naik,” katanya.

Investasi Tetap Stabil Meski Ada Bencana

Ekonom Senior Perbanas, Enrico Tanuwidjaja, menilai bahwa bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah tidak akan mengganggu prospek investasi yang kebanyakan jangka panjang. Meski dampaknya diakui menekan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, namun fundamental keyakinan pasar terhadap Indonesia dinilai tetap kuat.

"Jadi mungkin bencana ini ya tentunya akan berakibat tapi in the long term," ucapnya.

Perbanas menilai proporsi investasi terhadap PDB akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Apalagi kinerja industri manufaktur dan sisi konsumsi masih tetap kuat. Di sisi lain, Enrico menyebut pemerintah juga memiliki ruang fiskal dan cadangan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menangani bencana dengan cepat, sehingga risiko guncangan berkepanjangan dapat diminimalkan.

“Bencana ini pasti ditangani segera sehingga tidak menimbulkan dampak sistemik. Yang penting respons dilakukan cepat,” ujar Enrico.

Prediksi Pertumbuhan Kredit Perbankan pada Tahun 2026

Perbanas juga memprediksi pertumbuhan kredit perbankan akan berada di kisaran 9–11 persen pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh kondisi likuiditas perbankan yang masih longgar. Perbanas menilai bahwa stabilitas likuiditas tersebut merupakan tanda positif bagi sektor perbankan.

Dengan adanya prediksi pertumbuhan kredit yang optimis, Perbanas tetap yakin bahwa sektor perbankan akan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional meski di tengah tantangan akibat bencana alam.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan