
Sumedang: Daerah Paling Progresif di Ekosistem Ekonomi Rebana
Sumedang menjadi perhatian utama dalam ekosistem ekonomi Rebana, yang mencakup tujuh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Menurut penilaian Deputy CEO BP Rebana, Budhiana Kartawijaya, Sumedang dinilai sebagai daerah yang paling cepat bergerak dan progresif dibandingkan wilayah lainnya. Penilaian ini disampaikan setelah ia menjadi moderator sesi CEO Talk dalam West Java Investment Summit (WJIS) 2025, yang digelar akhir pekan lalu.
Budhiana menekankan bahwa Sumedang, di bawah kepemimpinan Bupati Dony Ahmad Munir, telah menunjukkan kesiapan kuat dalam menyambut investor. Hal ini tidak hanya terlihat dari infrastruktur yang memadai, tetapi juga dari digitalisasi layanan yang komprehensif. “Sumedang bukan hanya siap menerima investasi, tetapi sudah membangun fondasi digital dan infrastruktur yang kokoh,” ujarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
West Java Investment Summit (WJIS) merupakan forum ekonomi tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat. Dalam sesi CEO Talks dengan tema How West Java Wins: Leveraging Trade, Technology, and Talent for Global Success, Bupati Dony menegaskan komitmen Sumedang untuk membuka ruang investasi dengan regulasi yang ramah investor serta pemberian insentif.
Salah satu keunggulan Sumedang terletak pada aksesibilitasnya yang sangat baik. Kabupaten ini memiliki enam pintu keluar Tol Cisumdawu, sehingga memberikan konektivitas langsung ke Bandung di sisi barat dan Bandara Kertajati di sisi timur. “Tidak ada daerah lain di Rebana yang memiliki akses strategis seperti ini,” kata Budhiana.
Selain itu, Sumedang juga unggul dalam penyediaan sumber daya manusia. Kawasan Jatinangor, yang menjadi lokasi sejumlah perguruan tinggi ternama, menjadi ekosistem strategis bagi pengembangan talenta digital, manufaktur, dan jasa. Beberapa perguruan tinggi saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan Pemkab Sumedang untuk membuka kampus tambahan.
Di sektor sumber daya air, Sumedang memiliki beberapa bendungan penting, yaitu Bendungan Jatigede, Cipanas, dan Sadawarna. Bendungan Jatigede bahkan disebut sebagai salah satu bendungan terbesar di Indonesia. Selain menyediakan air baku, bendungan ini juga berperan dalam pengembangan energi dan pariwisata.
Potensi wisata Sumedang dinilai sangat besar, mulai dari panorama Jatigede, kawasan pegunungan, kuliner seperti tahu Sumedang, hingga tradisi budaya yang kaya. Budhiana menilai Sumedang berpeluang menjadi destinasi one day trip dari Bandung dan Cirebon, maupun weekend getaway wisatawan Jabodetabek. Ia menekankan pentingnya pengembangan pariwisata berbasis lingkungan dan budaya (green tourism dan smart tourism).
Digitalisasi Birokrasi yang Inovatif
Budhiana menyampaikan bahwa Sumedang telah menjadi pelopor digitalisasi birokrasi di tingkat kabupaten. Layanan administrasi, mulai dari KTP, KK hingga layanan kesehatan, dapat diakses secara cepat dan transparan. Pemerintah daerah bahkan memiliki dashboard fiskal yang membuat aliran anggaran dapat dipantau publik secara harian.
Selain itu, Pemkab Sumedang membangun portal investasi modern melalui situs invest.sumedangkab.go.id. Portal ini memudahkan investor melihat potensi lahan, regulasi, dan layanan investasi. “Ini bukan sekadar membuka pintu investasi, tapi menyediakan jalur yang jelas dan tanpa hambatan,” ujarnya.
Model Pemerintahan Modern
Dengan seluruh capaian tersebut, Budhiana menilai Sumedang menjadi daerah paling siap menghadapi perubahan ekonomi global dan menjadi model penerapan pemerintahan modern: digital, transparan, terhubung, dan inklusif.
Kawasan Rebana sendiri mencakup tujuh daerah, yakni Kabupaten Cirebon, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, dan Kota Cirebon. Kawasan ini digagas sebagai koridor ekonomi baru Jawa Barat. “Jawa Barat ingin menang dalam persaingan ekonomi global, dan itu harus dibangun dengan konektivitas, talenta unggul, keberanian berubah, serta kemampuan membaca arah geopolitik. Sumedang telah memulai langkah itu,” pungkas Budhiana.