Kinerja SMRA di Tengah Perubahan Pasar Properti
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja, terutama melalui kontribusi aset hunian. Meskipun penjualan apartemen masih menghadapi tantangan, perusahaan tetap optimis dengan target pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 5 triliun pada tahun 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada kuartal III 2025, marketing sales SMRA mencapai Rp 3,57 triliun, meningkat 31% secara tahunan dan mencapai 71% dari target tahun ini. Direktur Utama SMRA, Adrianto P Adhi, menjelaskan bahwa sumber utama pendapatan berasal dari Summarecon Serpong, yang masih dominasi oleh rumah tapak.
Sayangnya, target kinerja untuk tahun 2026 belum sepenuhnya dirancang karena sedang dalam proses penyusunan. Namun, segmen pengembangan properti diperkirakan berkontribusi sebesar 70% terhadap pendapatan keseluruhan, sementara 30% berasal dari recurring income.
Penurunan Pendapatan Neto
Secara keseluruhan, pendapatan neto SMRA turun 14,86% secara tahunan menjadi Rp 6,41 triliun per September 2025, dari sebelumnya Rp 7,53 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Segmen pengembangan properti menyumbang Rp 3,96 triliun, sementara segmen properti investasi memberikan kontribusi Rp 1,72 triliun.
Laba bersih SMRA juga mengalami penurunan, turun 41,39% YoY menjadi Rp 549,57 miliar per kuartal III 2025, dibandingkan Rp 937,75 miliar pada kuartal III-2024.
Analisis dan Persaingan di Sektor Properti
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, melihat kinerja SMRA di tahun 2025 lebih lemah dibandingkan rekan-rekannya di sektor properti yang menunjukkan stabilitas dan pertumbuhan. Ia menyoroti bahwa SMRA masih fokus pada segmen landed house (rumah tapak), sementara pekerjaan apartemen belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Sementara itu, Abida Massi Armand dari BRI Danareksa Sekuritas melihat kinerja SMRA sebagai middle-pack dalam industri properti besar. Meski lebih baik dari PWON dalam hal penjualan aset hunian dengan harga di atas Rp 5 miliar, SMRA masih tertinggal dari CTRA dan BSDE dalam diversifikasi lokasi serta strategi keuangan.
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja SMRA
Marketing sales SMRA hingga September 2025 sesuai dengan target perseroan, meskipun ketergantungan pada insentif PPN DTP masih tinggi. Momentum pertumbuhan tidak sekuat rekan-rekannya yang lebih resilient.
Namun, ada harapan positif untuk kuartal IV 2025, terutama dengan perpanjangan insentif PPN DTP hingga akhir tahun. Meskipun demikian, kinerja SMRA di tahun 2025 cenderung stabil, dengan kemungkinan kecil untuk melebihi kinerja 2024 secara signifikan.
Prospek dan Rekomendasi
Reydi melihat beberapa faktor positif yang dapat memengaruhi kinerja SMRA di kuartal IV, seperti pemasukan dari mal dan hotel, serta pembukaan proyek baru di Serpong dan Bekasi. Namun, ia menilai bahwa faktor-faktor tersebut mungkin belum cukup kuat untuk meningkatkan kinerja secara signifikan.
Abida melihat potensi dukungan dari pergeseran permintaan ke segmen premium dan kontribusi recurring income yang relatif kuat. Sentimen positif juga datang dari stabilnya permintaan kelas atas dan valuasi sektor yang masih diskon terhadap RNAV.
Divestasi Aset di Bali
SMRA melakukan divestasi aset di Bali, menjual saham PT Bukit Permai Properti kepada BUVA senilai Rp 536,28 miliar. Meski ini bisa menjadi katalis jangka pendek, analis menilai bahwa divestasi ini bukanlah game changer dan berisiko negatif jika mengurangi pipeline pertumbuhan jangka panjang.
Abida merekomendasikan beli untuk SMRA dengan target harga Rp 800 per saham, karena valuasi yang masih atraktif. William Hartanto, praktisi pasar modal, juga merekomendasikan beli dengan target harga antara Rp 402 – Rp 412 per saham, dengan level support di Rp 380 dan resistance di Rp 402.