
Harga Pelaksanaan IPO Superbank di Rp 635 per Saham
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mengumumkan harga pelaksanaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 635 per lembar saham. Harga ini berada di tengah rentang yang sebelumnya ditawarkan selama pemesanan awal atau book building. Penetapan harga ini menjadi langkah penting dalam proses IPO yang akan segera dilakukan oleh perusahaan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut prospektus tambahan IPO yang dipublikasikan Selasa (9/12), Superbank akan melakukan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (17/12). Perusahaan akan melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal sebesar Rp 100 dengan potensi dana segar yang dihimpun mencapai Rp 2,79 triliun.
Superbank telah menunjuk empat sekuritas untuk membantu proses IPO, yaitu PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas. Hal ini menunjukkan kesiapan perusahaan dalam mempersiapkan langkah strategis menuju pasar modal.
Sejarah dan Transformasi Superbank
Sebelum dikenal sebagai Superbank, perusahaan ini dulu bernama PT Bank Fama International, sebuah lembaga keuangan yang berdiri di Bandung pada tahun 1993. Selama hampir tiga dekade, perusahaan ini beroperasi sebagai bank konvensional sebelum memulai transformasi besar-besaran menuju bank digital.
Transformasi tersebut dimulai pada akhir 2021 ketika Emtek Group resmi menjadi pemegang saham pengendali. Langkah ini diperkuat dengan masuknya Grab dan Singtel pada awal 2022, serta KakaoBank pada 2023, membentuk konsorsium strategis yang memperkuat posisi Superbank di industri perbankan digital.
Pada awal 2023, Bank Fama resmi berganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, dengan kantor cabang di Jakarta dan Bandung. Memasuki tahun 2024, Superbank semakin agresif memperluas jangkauan layanan dengan meluncurkan berbagai produk keuangan digital.
Struktur Permodalan Superbank
Sebelum IPO, modal ditempatkan dan disetor bank tercatat sebanyak 29,49 miliar saham dengan nilai nominal Rp 2,94 triliun, setara 100% kepemilikan. Setelah IPO, jumlah modal ditempatkan dan disetor meningkat menjadi 33,89 miliar saham, dengan nilai nominal Rp 3,38 triliun.
Pemegang saham terbesar setelah IPO masih ditempati PT Elang Media Visitama (EMV) dengan porsi 27,07%, disusul PT Kudo Teknologi Indonesia (KTI) sebesar 16,67%, GXS Bank Pte., Lte., sebesar 10,44%, A5DB Holdings 10,03%, dan KakaoBank Corp (KKB) 8,66%. Sementara itu, komposisi kepemilikan untuk masyarakat sebesar 4.406.612.300 saham atau 13,00% dari keseluruhan modal ditempatkan dan disetor.
Prospek Saham IPO Superbank
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa dengan harga IPO di kisaran Rp 525–695 per saham, rasio Price to Book Value (PBV) SUPA berkisar antara 3,33–4,42 kali. Nilai buku per saham SUPA pada semester I 2025 adalah Rp 157,2. Valuasi ini relatif sebanding dengan bank digital lainnya seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang diperdagangkan 3,2 kali, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) 4,4 kali, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) 4,2 kali, dan PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) 4,3 kali.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa IPO Superbank menarik karena didukung oleh grup besar seperti Emtek dan entitas yang terkait ekosistem digital yaitu Grab. Selain itu, free float setelah IPO tetap kecil yaitu sekitar 13%.
Dari sisi kinerja, BRI menilai Superbank berada dalam fase turnaround, sempat rugi beberapa tahun, dan mulai mencetak laba. Namun, terdapat tantangan yaitu ketergantungan pada ekosistem digital, biaya operasional IT/security, dan persaingan bank digital.
Rencana Usai IPO
Setelah IPO, sekitar 70% dari dana yang dihimpun akan digunakan untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit perusahaan. Sisanya 30% bakal dialokasikan untuk belanja modal demi mendukung kegiatan usaha.
Jadwal IPO Superbank (SUPA)
- Masa penawaran awal: 25 November–1 Desember 2025
- Tanggal efektif: 8 Desember 2025
- Masa penawaran umum perdana saham: 10–15 Desember 2025
- Tanggal penjatahan: 15 Desember 2025
- Tanggal distribusi saham secara elektronik: 16 Desember 2025
- Tanggal pencatatan saham di BEI: 17 Desember 2025