Tabungan Nasabah Prioritas Melesat di Februari 2026

Tabungan Nasabah Prioritas Melesat di Februari 2026

Kondisi Simpanan Nasabah di Bank


LPS mencatat bahwa nasabah dengan simpanan di atas Rp 5 miliar memiliki pengaruh besar terhadap total dana yang tersimpan di bank. Data LPS per Februari 2026 menunjukkan bahwa jumlah rekening dengan simpanan di atas angka tersebut hanya sebesar 0,2% dari seluruh rekening simpanan. Namun, besaran dana yang dimiliki oleh kelompok ini mencapai Rp 5.874,17 triliun atau sekitar 57,98% dari total simpanan bank.

Peningkatan ini terjadi dibandingkan Februari 2025, di mana jumlah rekening dengan simpanan di atas Rp 5 miliar tetap sama yaitu 0,2%, namun nilai simpanannya hanya mencapai 54,16% dari total simpanan. Dalam satu tahun terakhir, total dana dari kelompok tersebut meningkat hingga 20,5% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan total simpanan di bank yang naik 12,6% (yoy).

Fenomena Ekonomi yang Terlihat

Ekonom sekaligus Direktur Segara Research Institute, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa fenomena ini mencerminkan kondisi perekonomian masyarakat. Di tengah ketidakpastian ekonomi beberapa bulan terakhir, Piter mengatakan bahwa kelompok masyarakat atas cenderung lebih mampu bertahan dan tumbuh dibandingkan kelompok bawah.

"Kelompok atas memiliki banyak sumber pendapatan sehingga simpanan mereka akan terus tumbuh. Sementara itu, kelompok bawah memiliki sumber penghasilan yang terbatas," ujarnya saat dihubungi.

Kondisi ekonomi yang tidak stabil juga menyebabkan penurunan penghasilan bagi masyarakat kelas pekerja. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin tinggi membuat mereka kesulitan untuk menabung. Sebaliknya, masyarakat kelas atas lebih mampu bertahan dan bahkan tumbuh, yang terlihat dari data simpanan mereka yang semakin mendominasi.

Pertumbuhan Nasabah Prioritas di Beberapa Bank

Beberapa bank telah merasakan pertumbuhan nasabah prioritas. PT Bank DBS Indonesia misalnya, mencatat peningkatan total dana kelolaan dari kelompok nasabah prioritas dengan saldo minimum di atas Rp 1 miliar hingga 62% pada awal tahun ini. Jumlah nasabah prioritas dengan saldo minimum Rp 10 miliar juga meningkat 9% (yoy) pada Desember 2025.

Natalina Syabana, Head of Segmentation & Liabilities Consumer Banking Group Bank DBS, menyebut bahwa pengusaha menjadi kelompok mayoritas yang berkontribusi pada pertumbuhan nasabah prioritas. Selain itu, nasabah prioritas baru juga datang dari kalangan karyawan swasta dan pekerja profesional. Layanan unggulan DBS adalah konsultasi portofolio simpanan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.

Strategi Pengembangan Bisnis

Bank DBS menargetkan pertumbuhan nasabah dengan saldo minimum Rp 10 miliar di kisaran double digit pada tahun ini. Strategi mereka berfokus pada advisory-led wealth management, memberikan strategi portofolio proaktif dan optimal didukung oleh insights dari para ahli.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga berupaya memperluas jumlah nasabah prioritas. Untuk menjadi prioritas di Danamon, nasabah harus memiliki saldo rata-rata minimum Rp 500 juta. Ivan Jaya, Consumer Funding Business Head Bank Danamon, menyebut bahwa jumlah nasabah prioritas Danamon meningkat 25% pada akhir tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Dana kelolaan (AUM) dari kelompok ini juga meningkat 23%.

Perkembangan di Bank Central Asia (BCA)

Bank lain yang memiliki banyak nasabah prioritas adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn menyebut bahwa nasabah prioritas BCA dengan saldo minimum Rp 1 miliar telah mencapai lebih dari 200 ribu nasabah. Ia optimistis bisnis priority banking akan terus berkembang pada tahun 2026.

Peran Korporasi dalam Simpanan

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebut bahwa simpanan di atas Rp 5 miliar masih didominasi oleh rekening milik korporasi. Ia menjelaskan bahwa total simpanan dari kelompok ini tinggi karena banyak bank kesulitan menyalurkan kredit, sehingga dana mengendap sebagai simpanan. Anggito belum dapat memastikan sampai kapan tren ini akan berlanjut.

"Ada dua penyebabnya, pertama karena memang bisnisnya menghasilkan likuiditas, menghasilkan dana. Kedua ya memang andanya belum mengalir karena permintaannya belum cukup kuat," kata Anggito.