
Tahu Goreng MBG Berisi Plester, Pihak SPPG Minta Maaf
Pada bulan Oktober 2025, sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Menu tahu goreng yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata berisi plester luka. Hal ini membuat pihak SPPG (Sekolah Pengolahan Pangan dan Gizi) akhirnya mengeluarkan permintaan maaf resmi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Program MBG merupakan inisiatif pemerintah Indonesia yang bertujuan menyediakan makanan bergizi secara gratis kepada kelompok rentan seperti siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi angka malnutrisi serta stunting. Program ini juga menjadi salah satu andalan dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun fondasi kesehatan dan kesejahteraan bangsa.
Penemuan Tahu Goreng Berisi Plester
Kejadian ini pertama kali diketahui oleh Andri (23 tahun), kakak dari seorang siswa SD yang menerima makanan MBG. Ia mengungkapkan bahwa adiknya mendapatkan makanan tersebut dari sekolah kemudian membawanya pulang. Saat akan dimakan, ia menemukan sesuatu yang keras di dalam tahu goreng tersebut.
"Setelah digigit, ada sesuatu yang keras. Setelah dicek, ternyata kulit tahu goreng itu memiliki plester," ujar Andri.
Ia merasa kesal dengan hal ini dan langsung mempostingnya di media sosial. Kejadian ini cepat menyebar dan viral.
Proses Pengaduan dan Permintaan Maaf
Andri kemudian mengantarkan bukti plester tersebut ke pihak SPPG. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ia posting tidak hanya spekulasi semata.
"Kami memang benar-benar menemukan plester di dalam tahu goreng. Bukti tersebut masih kami simpan," jelas Andri.
Pihak SPPG kemudian memberikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga Andri. "Mereka meminta maaf kepada kami, dan kami secara terbuka memaafkan mereka," ucapnya.
Namun, Andri menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang lagi. Ia berharap MBG bisa berjalan dengan baik tanpa dampak buruk bagi anak-anak.
Tanggapan dari Pihak SPPG
Hana Nabilah Azmi, Kepala SPPG Cigunung Desa Sukaresmi, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima barang bukti dan bertemu langsung dengan keluarga yang melaporkan insiden tersebut.
"Masalah ini sudah clear. Kami akan melakukan evaluasi internal, terutama terkait ketelitian dalam proses pengemasan dan pengawasan relawan," kata Hana.
Ia juga menyampaikan rencana untuk memperketat penggunaan APD dan meningkatkan kualitas kontrol mutu. "Tidak boleh ada relawan yang melepas APD saat bertugas. Kami akan lebih teliti dalam quality control," tambahnya.
Selain itu, Hana mengajak masyarakat untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum mempublikasikan kejadian serupa. "Jika ada keluhan atau insiden, lebih baik dikomunikasikan dulu. Kami terbuka siapa pun bisa datang langsung ke dapur kami," pungkasnya.
Langkah Ke Depan
Insiden ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak terkait. Dengan peningkatan pengawasan dan komunikasi yang lebih baik, diharapkan program MBG dapat berjalan lebih efektif dan aman.