Tanda-Tanda Resesi China Semakin Jelas: Konsumen Menahan Diri, Properti Lesu

admin.aiotrade 14 Nov 2025 7 menit 15x dilihat
Tanda-Tanda Resesi China Semakin Jelas: Konsumen Menahan Diri, Properti Lesu

Indikator Ekonomi China Menunjukkan Perlambatan

Pada bulan Oktober 2025, sejumlah indikator utama menunjukkan bahwa ekonomi Tiongkok kembali kehilangan momentum. Permintaan domestik yang lemah, penurunan pasar properti yang semakin dalam, dan aktivitas manufaktur yang terhambat oleh libur panjang menjadi tanda bahwa pemulihan ekonomi negara tersebut belum stabil.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Data terbaru dari Biro Statistik Nasional China (NBS) memperlihatkan gambaran yang kurang menggembirakan, baik dari sisi investasi, produksi industri, hingga konsumsi. Di saat bersamaan, festival belanja terbesar di China yang biasanya menjadi penopang pertumbuhan konsumsi juga menunjukkan perlambatan.

Investasi Aset Tetap Melemah Tajam

Investasi aset tetap (fixed-asset investment), yang mencakup belanja untuk infrastruktur, real estat, dan peralatan, terkontraksi 1,7 persen sepanjang Januari sampai Oktober 2025. Angka ini memburuk dibanding penurunan 0,5 persen pada periode Januari sampai September 2025 dan jauh lebih dalam dari ekspektasi analis dalam survei Reuters yang memperkirakan kontraksi 0,8 persen.

Penurunan ini merupakan kontraksi pertama sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Berdasarkan data historis sejak 1992 dari basis data Wind Information, China belum pernah kembali mencatat kontraksi hingga kemerosotan terbaru ini.

Secara bulanan, tekanan terlihat lebih jelas. Goldman Sachs memperkirakan bahwa investasi aset tetap pada Oktober 2025 anjlok 11,4 persen secara tahunan, level terendah sejak awal 2020 ketika gelombang pertama lockdown Covid-19 menghentikan aktivitas ekonomi.

Goldman Sachs menyebut penurunan ini dipicu oleh langkah Beijing mengendalikan kelebihan kapasitas industri serta melemahnya sektor perumahan. Sektor properti memang menjadi penyumbang tekanan terbesar. Investasi properti turun 14,7 persen hingga Oktober 2025, memburuk dari kontraksi 13,9 persen pada sembilan bulan pertama 2025.

Sementara itu, investasi manufaktur justru mencatat pertumbuhan 2,7 persen, sedangkan belanja sektor utilitas, yang meliputi pasokan listrik, bahan bakar, dan air, melonjak 12,5 persen. Namun, kenaikan tersebut belum cukup menutup kekosongan yang ditinggalkan oleh runtuhnya investasi di sektor properti dan infrastruktur.

Ketidakseimbangan Investasi Manufaktur

Ketidakseimbangan investasi manufaktur China juga menjadi perhatian. Menurut Yuhan Zhang, Kepala Ekonom di China Center Conference Board, pertumbuhan investasi manufaktur tergolong moderat dan tidak merata. Ia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan milik negara meningkatkan belanja infrastruktur seperti listrik, pemanas, dan suplai gas, sementara investasi asing justru mengalami kontraksi tajam.

“Kita akan terus melihat investasi yang diarahkan oleh kebijakan di bidang infrastruktur, manufaktur canggih, dan peningkatan industri,” ujar Yuhan Zhang. Pernyataan tersebut sejalan dengan dorongan pemerintah China untuk memperkuat ketahanan rantai pasok dan mengembangkan industri strategis, termasuk energi baru, kendaraan listrik, dan teknologi tinggi.

Namun demikian, ketergantungan pada investasi pemerintah menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan pemulihan tanpa dukungan sektor swasta dan asing.

Produksi Industri dan Aktivitas Manufaktur Melambat

Tekanan juga terlihat pada sektor produksi. Produksi industri pada Oktober 2025 hanya tumbuh 4,9 persen, melambat dari pertumbuhan 6,5 persen pada September 2025 dan lebih rendah dari proyeksi 5,5 persen. Di sektor manufaktur, aktivitas mengalami kontraksi yang lebih besar daripada yang diperkirakan. Indeks manufaktur turun ke level terendah dalam enam bulan.

Ini terutama karena libur panjang nasional pada 1 sampai 8 Oktober 2025 yang membuat banyak pabrik berhenti beroperasi. Libur panjang yang semestinya mendorong konsumsi justru turut memperlambat aktivitas produksi.

Harga Rumah Turun, Sinyal Suram dari Pasar Properti

Penurunan permintaan rumah terus memperburuk kondisi pasar properti China. Data resmi menunjukkan harga rumah baru turun 0,5 persen pada Oktober 2025 dibanding bulan sebelumnya, merupakan penurunan bulanan terdalam sejak Oktober tahun lalu. Secara tahunan, harga rumah turun 2,2 persen.

Harga yang terus merosot mengindikasikan bahwa kepercayaan konsumen belum pulih. Kepercayaan konsumen yang sangat menentukan stabilitas pasar properti. Penurunan harga juga memperburuk neraca pengembang yang tengah tertekan dan meningkatkan risiko deflasi aset properti.

Konsumsi Masih Lemah, Meski Penjualan Ritel Tumbuh Tipis

Penjualan ritel China pada Oktober 2025 naik 2,9 persen dibanding tahun lalu, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,8 persen dalam jajak pendapat Reuters. Namun data dari LSEG menunjukkan bahwa indeks konsumsi turun untuk bulan kelima berturut-turut ke level terendah tahun ini.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa rumah tangga masih berhati-hati dalam belanja di tengah ketidakpastian ekonomi. Tingkat pengangguran perkotaan berbasis survei sedikit membaik dari 5,2 persen pada September 2025 menjadi 5,1 persen pada Oktober 2025. Meski demikian, perbaikan kecil ini belum cukup mengangkat sentimen konsumen.

Inflasi Mulai Menguat, Tapi Tak Cukup Dorong Pemulihan

Indeks harga konsumen (IHK) naik 0,2 persen secara tahunan pada Oktober 2025, menjadi inflasi terkuat sejak Januari dan pertumbuhan positif pertama sejak Juni 2025, menurut LSEG. Sementara itu, IHK inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, naik 1,2 persen, level tertinggi sejak Februari 2024.

Meski inflasi kembali ke wilayah positif, angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan domestik masih jauh dari kuat. Dengan kata lain, kenaikan harga lebih banyak dipengaruhi faktor penawaran ketimbang konsumsi.

Ekspor China Tiba-Tiba Turun, Tertekan Perang Dagang dengan AS

Ekspor China pada Oktober 2025 secara tak terduga terkontraksi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sebelum tercapainya kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir bulan.

Kedua pemimpin sepakat memangkas tarif balasan dan menangguhkan serangkaian tindakan pembatasan selama satu tahun. Namun, para ekonom menilai langkah tersebut kemungkinan belum cukup untuk menahan penurunan ekspor. Mereka memperkirakan aktivitas front-loading, di mana eksportir mengirim barang lebih cepat untuk menghindari tarif, telah berkurang.

Permintaan global yang tidak terlalu kuat juga mungkin tidak bisa mengompensasi penurunan pengiriman ke AS.

Pertumbuhan Ekonomi China Tercatat 4,8 Persen pada Kuartal III 2025

Pertumbuhan ekonomi China tercatat 4,8 persen pada kuartal III 2025, melambat dari 5,2 persen pada kuartal II 2025 dan 5,4 persen pada kuartal I 2025, menegaskan pola perlambatan bertahap sepanjang tahun.

Belanja konsumen juga melemah: festival belanja tanggal kembar 11.11 tumbuh, tapi tak semeriah tahun lalu. Tidak hanya data makro, indikator konsumsi mikro juga menegaskan bahwa masyarakat China lebih berhati-hati.

Festival belanja Double 11 alias Singles Day, yang merupakan acara belanja terbesar di China, mencatat penjualan 1,695 triliun yuan atau 238 miliar dollar AS di semua platform, naik 14,2 persen secara tahunan menurut Syntun. Angka ini setara sekitar Rp 3.977 triliun (asumsi kurs Rp 16.711 per dollar AS).

Namun, angka ini jauh lebih lambat dibanding pertumbuhan 26,6 persen tahun lalu. Menurut Jacob Cooke, CEO WPIC Marketing + Technologies, pertumbuhan penjualan keseluruhan tahun ini diperkirakan hanya berada pada angka satu digit tinggi hingga dua digit rendah dibandingkan tahun 2024.

Meski begitu, ia mencatat lebih dari 10 toko daring unggulan melaporkan pesanan meningkat setidaknya 30 persen di atas ekspektasi. “Itu sangat jarang terjadi bagi kami. Kami tidak ingin meremehkan atau melebih-lebihkan angka internal kami,” ucap Cooke.

AI Dorong Kinerja Platform E-commerce

Platform e-commerce besar memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan dan pengalaman belanja. JD.com melaporkan rekor nilai transaksi untuk Singles Day, tanpa mengungkapkan angkanya. Perusahaan mencatat kenaikan pesanan hampir 60 persen dan peningkatan pengguna lebih dari 40 persen.

JD.com memulai promonya lebih awal, yakni 9 Oktober 2025. Sebaliknya, Alibaba justru menunda acara belanjanya hingga 14 November 2025, meski promo sudah dimulai sejak 15 Oktober 2025. Bersama TikTok, Alibaba dan JD.com menghasilkan 67 miliar yuan dari penjualan ritel instan, naik 138,4 persen dibanding tahun lalu, berdasarkan data Syntun.

Namun, pembelian kelompok komunitas justru merosot. Syntun mencatat nilai transaksi hanya 9 miliar yuan, turun 35,3 persen. Perubahan pola konsumsi: tak semua ketegori tumbuh.

Data 11.11 Juga Menunjukkan Pergeseran Perilaku Belanja

Data 11.11 juga menunjukkan pergeseran perilaku belanja. Konsumen tampak lebih selektif dan fokus pada kebutuhan kesehatan serta produk yang sesuai nilai hidup mereka. Menurut Cooke, kategori ibu dan bayi tampil buruk, sementara produk hewan peliharaan memenuhi ekspektasi. Mainan untuk audiens dewasa, yang sempat naik daun tahun lalu, kini turun popularitasnya.

Syntun mencatat kategori ibu dan bayi berada di peringkat 9 dengan penjualan 61,1 miliar yuan. Sedangkan makanan hewan peliharaan mencatat penjualan 9,4 miliar yuan di empat platform besar, yaitu Alibaba, JD.com, TikTok Shop, dan Kuaishou. Secara keseluruhan, peralatan rumah tangga menjadi kategori terbesar dengan kontribusi 16,5 persen dari total penjualan (266,8 miliar yuan), disusul ponsel dan produk digital (14,6 persen), serta pakaian (14 persen).

Pemulihan China Masih Rentan

Kombinasi penurunan investasi, perlambatan produksi industri, pasar properti yang melemah, serta konsumsi yang belum pulih sepenuhnya menunjukkan bahwa perekonomian China tengah berada pada fase sensitif. Kinerja penjualan 11.11 yang melambat menegaskan bahwa konsumen belum sepenuhnya percaya diri. Sementara itu, ekspor tertekan oleh dinamika geopolitik.

Meski beberapa ekonom masih melihat China berpeluang mencapai target pertumbuhan 5 persen tahun ini, banyak indikator menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih rapuh dan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan