Kehidupan Melda Safitri yang Diuji dengan Perceraian dan Kondisi Ekonomi
Kisah tragis yang dialami oleh Melda Safitri, seorang ibu rumah tangga dari Aceh Singkil, kini menjadi sorotan publik. Diceritakan bahwa ia diceraikan oleh suaminya, Jakfar Sidik, tepat menjelang pelantikan sebagai PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di Aceh Singkil. Kejadian ini membuat banyak orang terkejut dan prihatin, terutama setelah diketahui bahwa kondisi ekonomi keluarga mereka sangat memprihatinkan.
Ibu Vina: Sosok yang Memberi Kekuatan
Ibu Vina, tetangga Melda, menjadi sosok yang sangat penting dalam perjalanan hidup Melda setelah perceraian. Dalam sebuah wawancara dengan Denny Sumargo, Ibu Vina mengungkapkan rasa kasihan yang mendalam terhadap nasib Melda. Ia menangis saat menceritakan bagaimana Melda ditinggalkan oleh suaminya selama tiga bulan tanpa nafkah. "Kasian sama si Melda, gak tahan aku, nak," ujar Ibu Vina sambil menangis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ibu Vina juga mengatakan bahwa ia marah kepada suami Melda karena merasa tidak adil. Ia sempat mengucapkan kalimat spontan seperti, "Cantikkan badanmu, tanpa dia (JS), kau itu hidup." Kalimat tersebut dilontarkan karena kekesalan terhadap perlakuan suami Melda.
Kondisi Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Kondisi ekonomi keluarga Melda menjadi salah satu pemicu perceraian. Ibu Vina menyebutkan bahwa sebelum pulang ke kampung halaman, Melda terlebih dahulu melunasi hutang-hutangnya. Ia bahkan pernah meminta makan dari Ibu Vina setelah tidak punya uang lagi. "Nggak mungkin nggak kasih makan, manusia lo itu. Anak kucing saja saya kasih, apalagi manusia," tambahnya.
Melda juga mengaku bahwa ia rela membelikan atribut korpri sang suami dari hasil jualannya, namun tak disangka malah diceraikan. "Baju pelantikan itu saya yang belikan dari hasil jualan. Dia yang pesan di Shopee tapi saya yang disuruh bayar, ya uangnya dari hasil jual gorengan," kata Melda.
Persoalan Rumah Tangga yang Menjadi Awal Perceraian
Awal perceraian bermula dari pertengkaran kecil di rumah. Suami Melda marah karena tidak ada lauk di meja makan. Melda mengungkapkan bahwa dirinya sedang dalam kondisi sulit dan tidak bisa memasak. "Bagaimana saya harus masak nasi atau kawan nasi sedangkan apa pun tidak ada di rumah," ujarnya.
Peristiwa ini berlanjut hingga terjadi ribut besar. Suami Melda akhirnya langsung mengucapkan kata cerai pada hari itu juga. Tiga hari kemudian, tepatnya 18 Agustus, suaminya dilantik sebagai PPPK. Melda menegaskan bahwa ia diceraikan bukan hanya karena pertengkaran, tetapi juga karena jabatan yang akan diterimanya.
Kehidupan Setelah Perceraian
Setelah perceraian, Melda tinggal di rumah orang tuanya di Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, bersama dua anaknya. Ia bertahan dari hasil jualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumahnya. Meskipun kondisi ekonomi sulit, ia berhasil menghidupi kedua anaknya.
Melda juga mengungkap bahwa dulu pernikahannya tidak direstui oleh ibu mertua. Bahkan setelah menikah, mertua sering ikut campur dalam urusan rumah tangga. "Sampai dulu suami saya itu pernah bantu saya cuci piring, pernah bantu saya menyuci. Itu dia bicarakan ke orang-orang," ujarnya.
Pesan Mendalam untuk Semua Wanita
Dalam unggahan media sosialnya, Melda menulis pesan mendalam yang kini banyak dikutip warganet. Ia menegaskan pentingnya menghargai wanita yang selama ini menemani masa berjuang. "Tepat di tanggal 15 Agustus 2025 saya diceraikan, dan 17 Agustus 2025 dia menerima SK. Tuan yang terhormat, tidaklah harta, pangkat, jabatan dibawa mati. Tapi hargailah wanita yang selama ini menemanimu dari nol hingga mengantarkanmu ke jalan kesuksesan."
Melda juga menegaskan bahwa ia tidak malu meski harus kembali ke rumah orang tuanya. Ia justru merasa lega telah berjuang sekuat tenaga demi keluarganya. "Tak pernah berpikir untuk malu, asalkan kebutuhan rumah terpenuhi. Walaupun seharusnya itu bukan kewajiban saya, namun saya ikhlas membantu pasangan saya. Tapi hasilnya, saya hanya dimanfaatkan," tulisnya.
