
Masalah Sampah di Jabodetabek Mengancam Kualitas Hidup
Masalah sampah masih menjadi isu serius yang menghiasi wilayah megapolitan Jabodetabek. Di Tangerang Selatan (Tangsel), tumpukan sampah yang tidak terangkut muncul di berbagai titik, termasuk di bawah Flyover Ciputat dan dekat Pasar Jombang. Sementara itu, Jakarta juga menghadapi tantangan serupa dengan kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang mulai menipis.
Tumpukan Sampah di Tangerang Selatan
Sejak sepekan lalu, gunungan sampah mulai muncul di beberapa lokasi di Tangsel. Salah satu titik yang paling mencolok adalah di bawah Flyover Ciputat, yang dekat dengan Pasar Ciputat yang ramai pengunjung. Sampah juga menggunung di dekat Pasar Jombang, Ciputat. Selain itu, banyak titik lain yang biasa digunakan sebagai tempat pembuangan sementara di permukiman warga.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Penyebab utama penumpukan sampah ini adalah TPA Cipeucang, yang menjadi pusat pembuangan sampah bagi 1,4 juta penduduk Tangsel setiap hari. Saat ini, TPA Cipeucang sedang dalam proses perbaikan dan penataan. Akibatnya, sampah dari masyarakat tidak dapat diangkut ke TPA tersebut.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel memberikan solusi sementara dengan menutupi sampah menggunakan terpal. Namun, meskipun sampah tertutupi, bau tak sedap tetap tercium dan mengganggu lingkungan sekitar. Penutupan yang tidak sempurna juga menyebabkan sampah mulai mengeluarkan belatung.
Salah seorang pedagang asongan di bawah Flyover Ciputat, Ani (48), mengatakan bahwa penutupan sampah dengan terpal tidak banyak membantu mengurangi bau. “Ditutup terpal juga sama saja, baunya tetap keluar. Kalau kena angin malah makin menyengat,” katanya saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menjelaskan bahwa penataan TPA Cipeucang sedang dalam proses perbaikan dan penataan konstruksi serta timbunan sampahnya. Sehingga, sampah dari masyarakat tidak dapat masuk selama beberapa hari belakangan.
Penataan TPA Cipeucang baru ditargetkan rampung akhir Bulan Desember 2025 ini. Selain mengandalkan TPA Cipeucang, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga tengah menyiapkan solusi jangka panjang melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). "PSEL sudah kita ajukan peminatannya dan masih menunggu tahap berikutnya dari KLH," jelas dia.
Solusi untuk Jakarta
Di Jakarta, Gubernur Pramono Anung menanggulangi keterbatasan daya tampung TPST Bantargebang dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) bekerja sama dengan BPI Danantara. “Jadi untuk Bantargebang, karena kami akan segera memulai PLTSa di Bantargebang. Sesuai dengan saya dengan Danantara. Itu yang akan kami lakukan,” ucapnya di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Pramono menjelaskan bahwa pembangunan dua PLTSa ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan ketergantungan pada TPST Bantargebang yang selama ini menjadi lokasi pembungan akhir sampah warga ibu kota. Kehadiran PLTSa ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka menengah dan panjang dalam pengelolaan sampah.
“Jadi akan ada dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dan mudah-mudahan 55 juta ton yang sekarang ada Bantargebang secara signifikan pelan-pelan akan turun,” ujarnya.
Sebagai informasi tambahan, setiap hari ratusan truk sampah dari berbagai penjuru Jakarta masuk ke TPST Bantargebang yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan sampah Jakarta. Kurang lebih 7.000 ton sampah diangkut ke tempat kawasan pembuangan seluas 110 hektare tersebut. Sejauh ini total sampah yang sudah tertimbun di TPST Bantargebang diperkiraan mencapai 50 juta ton.