
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) memiliki rencana ambisius untuk mengejar nilai kontrak baru sebesar Rp 2,6 triliun pada tahun 2026. Target ini berasal dari berbagai sektor bisnis yang dimiliki oleh perusahaan, seperti precast, redeeming, konstruksi, serta penyiapan alat berat. Untuk mencapai target tersebut, WSBP telah merancang beberapa strategi yang akan dijalankan secara terencana.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah pendekatan langsung terhadap tender proyek pemerintah dan swasta. Direktur Utama WSBP, Anak Agung Gede Sumadi menyebutkan bahwa komposisi nilai kontrak yang diperoleh saat ini hampir 65% berasal dari luar grup Waskita. Hal ini menunjukkan bahwa WSBP semakin mampu bersaing di pasar eksternal.
Sebagai contoh, pada November 2025, WSBP berhasil meraih nilai kontrak baru sebesar Rp 1,36 triliun. Hingga akhir bulan tersebut, total kontrak yang dikelola oleh perusahaan mencapai Rp 2,12 triliun. Dengan capaian ini, WSBP menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam bisnisnya.
Selain itu, WSBP juga fokus pada pengembangan organisasi yang lebih efisien. Strategi ini bertujuan agar perusahaan menjadi lebih ramping dan kompetitif dalam menghadapi persaingan di pasar. Selain itu, perusahaan juga meningkatkan kualitas produk dan kerja tim agar dapat memberikan daya saing yang lebih baik dibandingkan pesaing.
“Yang terpenting, kami berupaya menjalankan tata kelola bisnis yang lebih prudent, sesuai dengan regulasi dan prosedur yang ada,” ujar Sumadi.
Di sisi keuangan, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Legal WSBP, Fathul Anwar menyampaikan bahwa perusahaan akan membukukan pendapatan sebesar Rp 1,5 triliun pada akhir tahun buku 2025. Namun, sampai akhir September 2025, pendapatan usaha WSBP hanya mencapai Rp 1,33 triliun, turun 12,45% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024.
Sementara itu, kinerja laba bersih WSBP masih negatif hingga akhir tahun 2025 dan 2026. Pada akhir September 2025, rugi bersih yang dicatatkan sebesar Rp 324,21 miliar, meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan rugi bersih Rp 640,65 miliar di akhir September 2024.
Untuk tahun depan, WSBP menargetkan pendapatan meningkat menjadi Rp 2,1 triliun. Namun, posisi laba bersih dan ekuitas tetap akan negatif pada tahun 2026.
Dalam upaya memperbaiki kinerja keuangan, WSBP terus melakukan restrukturisasi utang. Sepanjang tahun ini, perseroan telah melakukan pembayaran kewajiban melalui skema cash flow available for debt services (CFADS) sebanyak enam tahap dengan total nilai sekitar Rp 542 miliar kepada seluruh kreditur. Selain itu, WSBP juga telah menyelesaikan obligasi wajib konversi (OWK) sebesar Rp 1,85 triliun. Sebanyak Rp 1,5 triliun dari total tersebut telah dikonversi menjadi ekuitas, sementara sisanya sebesar Rp 167 miliar masih dalam proses.
Untuk jangka panjang, WSBP menetapkan strategi 2026–2030 yang berfokus pada penyelesaian restrukturisasi melalui penuntasan homologasi Tranche B, peningkatan profitabilitas operasional, serta penguatan fundamental keuangan.
Fandy Dewanto, Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP, menjelaskan bahwa strategi ini dijalankan dengan mendorong peningkatan kemenangan tender proyek BUMN, pemerintah, dan swasta. Selain itu, perusahaan juga melakukan rasionalisasi dan digitalisasi untuk menurunkan beban operasional serta membangun rantai pasok yang lebih efisien.
Strategi lain yang diterapkan adalah divestasi aset guna meningkatkan likuiditas dan mengoptimalkan aset idle menjadi sumber pendapatan baru. Di sisi keuangan, WSBP menerapkan manajemen likuiditas yang prudent melalui pengelolaan piutang dan utang usaha yang optimal. Perusahaan juga memperkuat kapabilitas sumber daya manusia serta meningkatkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan guna memastikan keberlanjutan kinerja jangka panjang.
WSBP juga aktif berpartisipasi dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), yang merupakan bagian dari dukungan terhadap program pembangunan pemerintah.