TAVI vs Wardah: Pertarungan Digital Marketing di TikTok, Mana yang Lebih Efektif?

admin.aiotrade 17 Des 2025 5 menit 17x dilihat
TAVI vs Wardah: Pertarungan Digital Marketing di TikTok, Mana yang Lebih Efektif?


Tidak sedikit dari kita yang mungkin merasa penasaran dengan dua sosok yang sering muncul di linimasa TikTok. Salah satunya adalah seorang pria yang tampak seperti oppa Korea, yang berada di booth Tavi, sebuah pameran kecantikan besar di Jakarta. Ia disebut mirip Daehoon, seorang influencer ternama asal Korea Selatan. Sementara itu, yang satu lagi adalah seorang perempuan yang menjual skincare secara eceran sambil berkeliling menggunakan gerobak es krim. Ia memakai jaket musim dingin dan terlihat sangat menarik. Ini adalah strategi bisnis yang dilakukan oleh generasi Z.

Awalnya, saya mengira bahwa unggahan ini berasal dari konten yang dibuat oleh pengguna biasa. Ternyata, saya justru menjadi korban dari strategi pemasaran digital yang sangat canggih dari dua brand kecantikan tersebut. Dunia pemasaran digital di Indonesia sedang mengalami perubahan yang luar biasa, dalam artian positif. Sebagai praktisi di bidang copywriting dan media sosial sejak 2013, saya telah melihat banyak kampanye yang berubah-ubah. Namun, dua fenomena ini memaksa saya untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Mengapa mereka bisa sampai sejauh ini?"

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Tavi dan Wardah, meskipun bergerak di industri yang sama, memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Keduanya memilih strategi yang dinamakan disruptive marketing. Apa itu disruptive marketing? Singkatnya, ini adalah strategi pemasaran yang berani mendobrak aturan main yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian dengan cara yang tidak biasa, menantang status quo, dan seringkali mengubah pandangan konsumen terhadap suatu industri.

Tavi dan Strategi "The Power of Visual"

Awalnya, banyak netizen terkecoh. Dalam video-video yang viral, terlihat seorang pria dengan penampilan ala oppa Korea sedang melayani pengunjung di booth Tavi sebagai SPB (Sales Promotion Boy). Netizen mengatakan dia mirip Daehoon, influencer besar asal Korea Selatan. Ternyata, sosok tersebut adalah Denzel Noah, seorang influencer biasa yang memiliki k-vibe yang kuat. Dalam salah satu UGC, seorang warganet berkomentar, "Gurl, who that? That's a rare & delicious find!" yang kemudian mendapat banyak respons dari netizen lainnya.

Strategi yang dilakukan Tavi adalah casting yang brilian. Di dunia pemasaran, kita mengenal istilah Halo Effect. Tavi tidak hanya menjual produk kecantikan, tetapi juga menjual estetika. Dengan menempatkan sosok "Oppa" di lapangan, mereka berhasil menciptakan UGC secara organik. Ribuan pengunjung merekam, mengunggah, dan memberi tag pada akun Tavi. Hasilnya? Brand awareness meningkat tajam tanpa harus bergantung pada rate card mega-influencer yang mahal. Mereka memanfaatkan tren K-Wave secara cerdas, bukan melalui layar televisi, tapi melalui interaksi fisik yang terasa eksklusif sekaligus TikTok-able. Tavi juga mendobrak stereotip bahwa influencer kecantikan tak harus perempuan, meski produk yang dijual dikhususkan untuk perempuan.

Wardah dan Strategi "Grassroot Disruption"

Di sisi lain, kita melihat Wardah, brand yang sudah mapan, melakukan hal yang sangat tak terduga. Alih-alih mempercantik booth di mall mewah, mereka justru turun ke jalan menggunakan gerobak es krim keliling. Lengkap dengan payung dan desain khas gerobak legendaris, mereka menjual produk skincare dalam kemasan kecil atau eceran. Strategi ini adalah bentuk market penetration yang sangat agresif namun terasa hangat. Mengapa? Karena mereka meminjam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Gerobak keliling adalah simbol keakraban. Dengan menaruh produk kecantikan di gerobak es krim, Wardah berhasil mendobrak tembok bahwa skincare itu mahal atau hanya ada di mall. Ini adalah strategi yang sangat humble namun mematikan secara kompetisi. Mereka melakukan jemput bola langsung ke kawasan sekolah, menyasar target pasar yang mungkin selama ini enggan masuk ke toko kosmetik formal karena harga yang mahal.

Sama seperti Tavi, Wardah juga meng-hire seorang influencer, kali ini perempuan. Bedanya, kali ini dari awal saya agak curiga. Masak iya perintis bisnis cantik dan kinclong gitu? Terus apa nggak panas kayuh gerobak pakai jaket kayak gitu? Ternyata, ini memang strategi pemasaran, dan mbak-mbak itu adalah Meilia Caramel. Ada alasannya mengapa dia pakai jaket, karena produk baru Wardah yang dia jajarkan memiliki efek menyejukkan. Saya cuma nggak menyangka bahwa aksi ini dilakukan di Jogja. Iya, Jogja, bukan Jakarta atau Bandung di mana industri kecantikan lebih berkembang.

Konteks Lebih Mahal Daripada Konten

Dari dua fenomena ini, ada pelajaran berharga bagi kita para pekerja kreatif. Di tahun 2025, konten yang bagus saja tidak cukup. Kita butuh konteks. Tavi berhasil karena mereka memahami aspirasi. Mereka tahu bahwa target audiens mereka mendambakan estetika visual yang bersih dan modern ala Korea. Mereka memberikan "fantasi" yang bisa disentuh melalui pengalaman di booth.

Sementara itu, Wardah berhasil karena mereka memahami relevansi. Mereka menyadari bahwa di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, aksesibilitas dan kemasan ekonomis adalah kunci. Gerobak es krim bukan sekadar alat angkut, tapi simbol bahwa "kami ada di dekatmu". Sebagai orang yang tinggal di Bandung, kota yang dikenal sebagai kiblat kreativitas, saya melihat kedua strategi ini sebagai bentuk adaptasi yang luar biasa. Tavi bermain di level psychological branding yang mengangkat citra, sedangkan Wardah bermain di level distribution innovation yang mendekatkan jarak dengan konsumen. Bagi kita para pemilik brand atau pembuat konten, pilihannya ada dua: Apakah kita ingin menjadi "Bintang" yang dikagumi dari kejauhan seperti strategi Tavi? Atau menjadi "Sahabat" yang hadir di depan pintu rumah seperti Wardah?

Keduanya tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika kita hanya diam dan mengikuti pola lama yang sudah usang di tengah algoritma yang terus berubah. Kreativitas tidak selalu tentang budget besar, tapi tentang keberanian untuk tampil "berbeda" di tempat yang "tak terduga".

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan