
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan jumlah diperkirakan sebanyak-banyaknya 825.740.293 saham. Angka tersebut mewakili 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh oleh perusahaan.
Pembelian kembali saham TOBA direncanakan berlangsung selama tiga bulan, yaitu dari 25 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026. Manajemen TOBA menyatakan bahwa tujuan dari aksi ini adalah untuk menjaga kepercayaan investor, memberi fleksibilitas dalam pengelolaan struktur permodalan, meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang, serta menjaga stabilitas harga saham di tengah kondisi pasar yang tidak kondusif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Biaya pelaksanaan buyback berasal dari saldo kas internal perusahaan. TOBA menegaskan bahwa dana tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan keuangan perusahaan secara signifikan dalam memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo. Dengan asumsi seluruh buyback terlaksana sepenuhnya, besarnya dana yang diperlukan mencapai Rp 586.275.608.030 atau setara US$ 34.918.142 dengan asumsi kurs Rp 16.790 per dolar Amerika Serikat (AS). Proyeksi dana buyback ini sudah termasuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara, dan biaya lainnya.
Harga saham yang digunakan dalam perhitungan adalah Rp 710 per saham, sesuai dengan penutupan perdagangan pada 23 Desember 2025.
Analisis Pasar Modal
Seorang pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa rencana buyback saham TOBA senilai Rp 586,27 miliar menjadi salah satu aksi korporasi paling agresif di sektor energi pada akhir 2025 hingga awal 2026. Target pembelian kembali hingga sekitar 10% saham beredar diharapkan memberikan dukungan struktural terhadap harga saham.
Dengan jumlah saham beredar yang berkurang, potensi earning per share (EPS) bisa meningkat bagi investor yang tetap bertahan. Selain itu, buyback ini juga menjadi sinyal kepercayaan diri manajemen bahwa valuasi saham TOBA saat ini belum mencerminkan nilai fundamental dan arah transformasi bisnis perseroan.
Bagi investor jangka menengah-panjang, buyback dapat menjadi confidence booster, terutama di tengah fase transisi TOBA dari bisnis berbasis batu bara menuju energi bersih dan pengelolaan lingkungan.
Namun, reaksi pasar terhadap buyback tidak berdiri sendiri. Prospek saham TOBA pasca-buyback sangat bergantung pada narasi fundamental tahun 2026. Secara kinerja, 2025 menjadi tahun yang berat bagi TOBA akibat divestasi aset fosil dan penurunan kontribusi batu bara.
Kinerja Finansial TOBA
Pendapatan konsolidasi TOBA sepanjang sembilan bulan pertama 2025 tercatat sebesar US$ 288,2 juta, turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TOBA juga menderita rugi bersih US$ 127,37 juta per September 2025, berbanding terbalik dari laba bersih US$ 34,83 juta per September 2024.
Meski terlihat negatif secara jangka pendek, kondisi ini justru merupakan biaya transisi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan. Pada 2026, kinerja TOBA berpotensi lebih baik dibanding 2025, seiring mulai berjalannya kontribusi penuh dari segmen pengelolaan limbah dan solusi lingkungan, serta stabilisasi struktur keuangan pasca refinancing melalui penerbitan obligasi Rp500 miliar.
Prediksi Teknikal dan Rekomendasi
Dari perspektif teknikal, saham TOBA saat ini masih berada dalam fase downtrend, bahkan telah breakdown MA200, yang menandakan tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Dalam jangka pendek, saham ini masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support psikologis di level Rp 640 – Rp 670 per saham.
Resistance kuat berada di kisaran Rp 800 per saham, yang baru akan relevan jika ada katalis kuat, baik dari realisasi buyback yang agresif maupun sinyal perbaikan kinerja fundamental.
Hendra menyarankan rekomendasi speculative buy atau buy on weakness untuk TOBA dengan target harga Rp 780 – Rp 820 per saham. Ini dengan catatan level support di Rp 640 – Rp 670 per saham mampu bertahan dan buyback terealisasi optimal.
Buyback menjadi floor value, sementara keberhasilan transformasi bisnis akan menjadi upside driver.