Kinerja Telkom di Tengah Tantangan Pasar
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih mengalami penurunan kinerja hingga akhir kuartal III 2025. Rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) menjadi faktor penting yang akan menentukan pemulihan kinerja perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selama Januari hingga September 2025, Telkom mencatat pendapatan sebesar Rp 109,61 triliun, turun 2,31% secara tahunan (yoy). Laba bersih juga terkoreksi sebesar 10,69% yoy menjadi Rp 15,78 triliun. Pada kuartal III 2025, pendapatan Telkom stagnan di kisaran Rp 36,6 triliun, hanya naik tipis 0,7% dibanding kuartal sebelumnya.
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menyebut bahwa basis pelanggan Telkomsel tetap kuat dengan jumlah pelanggan sebesar 157,6 juta. Sementara itu, pelanggan IndiHome segmen business-to-customer (B2C) tumbuh 9,4% yoy menjadi 10,3 juta pengguna.
Namun, ARPU terus menurun akibat monetisasi broadband yang masih lambat dan persaingan harga yang semakin ketat. Menurut Sukarno, peningkatan kapasitas infrastruktur jaringan ikut menopang konsumsi data. Total base transceiver station (BTS) Telkomsel meningkat 7,1% yoy menjadi 288.295 unit.
Meski demikian, Sukarno menilai margin keuntungan masih tertekan karena biaya operasional yang lebih tinggi dan turunnya pelanggan legacy. Telkom saat ini tengah melakukan transformasi model bisnis melalui restrukturisasi aset jaringan.
Sebanyak 56% infrastruktur fiber optik, termasuk 83.000 km jaringan backbone dan 500.000 km jaringan akses, akan dialihkan ke entitas baru, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia.
“Inisiatif ini membuka peluang efisiensi dan monetisasi aset fiber secara lebih optimal serta menjadi jalan menuju IPO,” ujar Sukarno dalam risetnya pada 14 November 2025.
Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, memproyeksikan jumlah pelanggan Telkomsel bakal naik menjadi 162 juta pada 2026, ditopang penyederhanaan paket layanan dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk personalisasi pengalaman pengguna.
“ARPU diperkirakan stabil di Rp 45.300 pada 2025 karena persaingan di luar Jawa semakin intensif,” kata Jason dalam riset 17 November 2025.
Perbaikan Kualitas Jaringan
Dari sisi kualitas jaringan, Telkomsel kembali mencatat kecepatan unduh tercepat di pasar Indonesia dengan 26,3 Mbps, merebut posisi puncak yang sempat diambil XL pada 2022. Namun untuk kecepatan unggah, Telkomsel berada di posisi ketiga dengan 10,4 Mbps, di bawah ISAT, IM3, dan Tri.
Analis OCBC Sekuritas, Gani, menilai Telkom kini fokus pada restrukturisasi dan efisiensi untuk mendorong nilai aset, mulai dari infrastruktur jaringan hingga pusat data. Ia melihat ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan belanja modal dan potensi peningkatan dividen dapat membatasi prospek pertumbuhan saham TLKM. “Ada indikasi potensi kenaikan harga saham yang terbatas ke depan,” ujar Gani, Senin (29/12).
Sukarno memproyeksikan Telkom mampu meraih pendapatan Rp 151,5 triliun dan laba bersih Rp 24,2 triliun pada 2025. Adapun tahun 2024, pendapatan Telkom berada di angka Rp 150 triliun dengan laba bersih Rp 23,6 triliun.
Rekomendasi Saham
Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno dan Jason menyarankan investor mempertahankan (hold) TLKM dengan target harga masing-masing Rp 4.000 dan Rp 3.700 per saham. Sementara Gani memberikan rekomendasi beli (buy) dengan target harga Rp 4.200 per saham.