Thailand Minta Kamboja Umumkan Gencatan Senjata dan Bersihkan Ranjau Perbatasan

admin.aiotrade 17 Des 2025 4 menit 18x dilihat
Thailand Minta Kamboja Umumkan Gencatan Senjata dan Bersihkan Ranjau Perbatasan
Thailand Minta Kamboja Umumkan Gencatan Senjata dan Bersihkan Ranjau Perbatasan

Konflik Perbatasan Thailand dan Kamboja Terus Berlangsung

Pertempuran antara Thailand dan Kamboja terus berlangsung, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan sebagai pemicu bentrokan. Kedua negara tetangga ini kembali mengalami ketegangan setelah lebih dari seminggu perang sengit di wilayah perbatasan yang sebelumnya telah dipicu oleh klaim persaingan lama atas wilayah tersebut.

Thailand menuntut Kamboja untuk menjadi negara pertama yang mengumumkan gencatan senjata. Upaya ini dilakukan untuk menghentikan pertempuran yang telah memakan korban jiwa dan mengganggu kehidupan warga sipil di kedua sisi perbatasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, menyatakan bahwa Kamboja harus mengambil inisiatif pertama dalam mengakhiri konflik.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Sebagai pihak yang menyerang wilayah Thailand, Kamboja harus mengumumkan gencatan senjata terlebih dahulu,” ujarnya kepada wartawan di Bangkok.

Selain itu, Maratee juga menekankan pentingnya kerja sama antara kedua negara dalam upaya pembersihan ranjau di perbatasan. Namun, hingga saat ini, Kamboja belum memberikan respons terhadap pernyataan Thailand.

Tidak Ada Tekanan Internasional

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa tidak ada tekanan internasional untuk menghentikan pertempuran. Ia menolak menjawab pertanyaan tentang apakah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencoba menggunakan ancaman tarif untuk mendorong Bangkok mengakhiri konflik.

“Tidak ada yang menekan kami. Siapa yang menekan siapa? Saya tidak tahu,” katanya.

Sementara itu, pihak berwenang Thailand sedang berusaha mencari solusi untuk memulangkan hingga 6.000 warga negaranya yang terdampar akibat penutupan pos pemeriksaan Kamboja di Kota Poipet.

Hun Sen, mantan pemimpin berpengaruh Kamboja dan presiden Senat saat ini, mengklaim bahwa penutupan tersebut bertujuan untuk melindungi warga sipil dari apa yang ia anggap sebagai penembakan membabi buta oleh pasukan Thailand di daerah tersebut.

Puluhan Orang Tewas dalam Bentrokan

Konflik antara Thailand dan Kamboja kembali berkobar setelah bentrokan pada 7 Desember 2025. Klaim persaingan lama atas wilayah perbatasan darat sepanjang 817 km (508 mil) menjadi pemicu utama ketegangan.

Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, bentrokan di berbagai lokasi telah menewaskan 32 orang, termasuk tentara dan warga sipil, di kedua sisi perbatasan. Sebanyak 800.000 orang terpaksa mengungsi akibat konflik ini.

Jack Barton dari Al Jazeera, yang melaporkan dari sebuah kuil yang menampung pengungsi internal di Provinsi Sisaket, Thailand, mengatakan bahwa suara pertempuran masih terdengar di sekitar area tersebut.

“Kita masih bisa mendengar pertempuran (termasuk) tembakan artileri Thailand yang datang dan roket Grad Kamboja yang datang,” katanya.

Gencatan Senjata yang Diusahakan Trump Tidak Berhasil

Gencatan senjata yang diusahakan oleh Presiden AS Donald Trump sebelumnya berhasil mengakhiri pertempuran berdarah selama lima hari pada bulan Juli. Trump menggunakan ancaman tarif perdagangan sebagai alat tawar-menawar untuk mengakhiri konflik. Ia juga berupaya untuk campur tangan dalam bentrokan terbaru, dengan mengklaim bahwa kedua negara telah menyetujui gencatan senjata yang dimulai pada Sabtu (13/12/2025) malam.

Namun, pertempuran harian terus berlanjut sejak pecahnya kekerasan terbaru, dan Bangkok membantah klaim Trump tentang gencatan senjata.

Kamboja Menutup Perbatasan dengan Thailand

Kamboja telah menutup perbatasan dengan Thailand, karena pertempuran terus berlanjut antara kedua pasukan pada hari Sabtu meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Kamboja, perlintasan tersebut akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan bahwa jet tempur Thailand membom gedung-gedung hotel dan sebuah jembatan, sementara Thailand melaporkan beberapa warga sipil terluka dalam serangan roket Kamboja.

Sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama meningkat pada 24 Juli, ketika Kamboja melancarkan serangan roket ke Thailand, yang kemudian dibalas dengan serangan udara. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan tersebut.

Setelah pertempuran sengit berhari-hari yang menewaskan puluhan orang, negara di Asia Tenggara tersebut sepakat untuk melakukan "gencatan senjata segera dan tanpa syarat" yang dimediasi oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Hal ini diresmikan dalam sebuah upacara di Malaysia pada bulan Oktober yang dipimpin oleh Presiden AS.

Namun, kedua belah pihak terus saling tuding melanggar gencatan senjata, dengan Thailand mempublikasikan bukti bahwa pasukan Kamboja telah memasang ranjau darat, yang menyebabkan tujuh tentara Thailand kehilangan anggota tubuhnya.

Kamboja mengatakan ranjau tersebut merupakan sisa dari perang saudara pada tahun 1980-an. Sejak saat itu ketegangan terus meningkat.

Terbaru, Thailand melancarkan serangan udara di dalam wilayah Kamboja setelah dua tentaranya terluka dalam bentrokan Minggu lalu. Kamboja membalas dengan serangan roket.

Pertempuran tersebut memengaruhi enam provinsi di timur laut Thailand dan enam provinsi di utara dan barat laut Kamboja. Kedua negara telah bersengketa mengenai perbatasan darat sepanjang 800 km selama lebih dari satu abad.

Perbatasan tersebut digambar oleh ahli kartografi Prancis pada tahun 1907, ketika Prancis menjadi penguasa kolonial di Kamboja.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan