Tidak Ada Rawon, Sop Ikan Gurame Jadi

admin.aiotrade 10 Nov 2025 5 menit 15x dilihat
Tidak Ada Rawon, Sop Ikan Gurame Jadi

Perjalanan Menuju Rumah Makan Omah Rawon & Garang Asem

Di balik kaca angkot, tulisan "Rawon dan Garang Asem" terbaca jelas setiap kali melewati rumah makan yang berada di jalur Terminal Bubulak menuju CIFOR. Perhentian terakhir bus berada di Kota Bogor, sedangkan kantor CIFOR (Center for International Forestry Research) terletak di Kabupaten Bogor. Meskipun sama-sama dikenal dengan nama "Bogor", keduanya memiliki wilayah administrasi yang berbeda. Kota Bogor dikelilingi oleh Kabupaten Bogor, sehingga jarak antara pusat kota dan wilayah kabupaten bisa mencapai lebih dari 40 kilometer.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Beberapa titik seperti Puncak atau Dramaga/Leuwilliang sering menghadirkan kemacetan saat perjalanan dari Kota Bogor ke Kabupaten Bogor. Namun, ruas jalan Terminal Bubulak-CIFOR hanya sekitar satu hingga dua kilometer. Rumah makan Omah Rawon & Garang Asem berada di KM 1,6 Jalan Raya Cifor. Nama ini cukup populer, terutama bagi pengunjung yang sering melintasi area Situ Gede atau warung aneka pepes di tepi jalan.

Keunikan Rawon Jawa Timur

Rawon Jawa Timur merupakan salah satu hidangan favorit yang memiliki ciri khas berbeda dari rawon versi warteg. Bukan sekadar masakan berkuah dari daging tetelan, rawon Jawa Timur dibumbui secara lengkap dengan bahan utama kluwek sebagai penyedap. Hidangan ini biasanya disajikan dengan tauge pendek, telur asin, tempe goreng, kerupuk udang, dan sambal bajak. Nasi putih bisa disajikan terpisah atau dicampurkan ke dalam mangkuk kuah rawon.

Setiap kali mengetahui adanya tempat penyedia rawon, saya selalu menghampiri penjualnya. Menyantapnya dengan penuh rasa syukur hingga habis. Saya telah mengunjungi beberapa tempat penyedia olahan rawon di Kota Bogor dan sekitarnya, seperti Pakde Kan dekat Taman Air Mancur, Warung tenda "Nasi Rawon dan Soto" di Jalan Sudirman, Warung Kelud di Jalan Lawang Gintung, Warung nasi pecel pasar kaget Ciparigi, Rumah makan Mbo'Is di Perumahan Bumi Sentosa, Nanggewer, Rawon Cak Wawan (RCW) Jalan Sukamulya samping RS Vania.

Umumnya, hidangan rawon yang saya santap memenuhi harapan. Rasa sup daging sapi berkuah hitam nan gurih kaya rempah membuat lidah tidak pernah bosan. Oleh karena itu, spanduk penawaran menu rawon selalu menarik perhatian. Terlebih jika rumah makan tersebut hanya dilewati, seperti ketika saya berencana ke CIFOR setelah berbelanja di Pasar Merdeka.

Pengalaman Makan di Omah Rawon & Garang Asem

Kaki menaiki kabin angkot nomor 15 rute Pasar Merdeka-Situ Gede. Berhenti di Omah Rawon & Garang Asem, Jalan Raya Cifor KM 1,6. Kios bersahaja dengan pintu besi geser. Foto-foto makanan menempel pada dinding warna cerah. Enam set meja kursi, etalase, dan meja kasir mengisi ruangan. Di belakang bangunan terdapat dapur, wastafel, toilet, dan dua set meja kursi.

Si teteh (sebutan untuk gadis) penjaga warung bertanya. Tanpa memandang menu, saya memesan seporsi rawon nasi dicampur. Gadis manis tersenyum manis, "Rawon habis. Demikian pula Garang Asem." Ah, saya datang terlalu siang. Lebih dari pukul satu. Rupanya, menu tersebut adalah favorit pengunjung untuk santapan tengah hari.

Mengamati menu, akhirnya saya menunjuk Sop Ikan Gurame. Meski kata "sop" dan "gurame" bukan baku di KBBI, terasa lebih nyaman melafalkannya. Si teteh manis mencatat pesanan Sop Ikan Gurame, nasi setengah, dan segelas teh lemon hangat pada buku di tangan kanan. Tangan kiri menggoreskan tinta pulpen. Ternyata ia terampil menggunakan tangan kiri.

"Kidal, ya? Biasanya orang kidal pinter-pinter," ujar saya. Si teteh tersenyum manis, lebih manis, dan makin manis. Sedap dipandang berlama-lama. Namun, tugas meneruskan pesanan ke bagian dapur membuatnya bergerak sigap.

Tak lama, teh lemon tersaji. Kurang dari lima belas menit sejak pemesanan, setengah porsi nasi dan semangkuk masakan berkuah terhidang. Saya mengucapkan terima kasih demi memandang senyum manis si teteh. Tak ada sambal. Tak jadi soal. Di dalam kuah terdapat dua cabai rawit merah di antara potongan wortel, buncis, tomat, bawang daun, seledri, dan gurame.

Kuah panas mengepul. Sayur yang cukup lunak terlihat segar. Mudah dikunyah dengan tetap menyisakan sensasi "kres" ketika digigit. Agaknya, Sop Ikan Gurame dibuat mendadak dengan waktu masak tepat. Begitu panas menjadi hangat, seruputan satu sendok kuah mengejutkan lidah. Di luar dugaan saya!

Semula saya berpikir bahwa sup adalah sup. Biasa saja. Masakan berkuah dengan bawang putih, merica, daun bawang, seledri, dan lainnya. Bumbunya sederhana, meski sup meninggalkan rasa segar yang tidak sederhana juga. Bagaimanapun, olahan sup tidak sekaya rasa rawon. Kaldu daging itu dimasak dengan kompleksitas rempah-rempah, menghasilkan rawon dengan citarasa lezatnya sulit dibandingkan.

Sop Ikan Gurame yang saya santap ternyata memiliki kedalaman rasa gurih. Rasa yang lahir dari racikan pas, tingkat kematangan tepat, dan dari saripati ikan gurame itu sendiri. Kuahnya tercecap ringan. Daging ikan gurame juga lunak mudah lepas. Lembut dan enak dikunyah, meski saya mesti cermat menyingkirkan tulangnya.

Saya tidak mengingkari jika ke dalam olahan telah ditambahkan bubuk penyedap. Namun, penambahan bahan penambah gurih tidaklah berlebihan. Pas dalam penambahan penguat rasa dan garam. Siapa sangka, ternyata masakan berkuah tersebut cocok di lidah saya. Ringan, memiliki rasa gurih cukup mendalam, segar, daging ikan nan lembut, dan sayur dengan tingkat kematangan tepat.

Serba pas. Pas rawon takada; pas bumbunya; pas matangnya; pas suasananya; pas dengan senyum manis si teteh ...eh. Pilihan awal Rawon telah habis, tetapi penggantinya --Sop Ikan Gurame-- memberikan pengalaman rasa luar biasa. Tak rugi memindahkan saldo e-wallet, ke rekening Omah Rawon & Garang Asem melalui QRIS untuk membayar tagihan Rp45.000 (sop= Rp30.000, nasi dan teh lemon= Rp15.000).

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan