Tidak Ada yang Ditinggalkan: Mimpi yang Masih Terpendam

admin.aiotrade 08 Nov 2025 4 menit 26x dilihat
Tidak Ada yang Ditinggalkan: Mimpi yang Masih Terpendam
Tidak Ada yang Ditinggalkan: Mimpi yang Masih Terpendam

Pendidikan sebagai Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Secara naluriah, setiap orang memiliki keinginan untuk memberikan hidup yang lebih baik bagi generasi selanjutnya. Kita ingin memberikan lingkungan yang bersih, berpendidikan, sejahtera, dan bahagia. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, pendidikan dapat menjadi salah satu jalan utama yang dapat dijadikan sebagai tumpuan untuk terus berusaha.

Namun, tahukah Anda pengertian dari pendidikan itu sendiri? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan suatu pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terdapat tujuan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas guna mendukung kesejahteraan bersama. Salah satu poin utamanya adalah Quality Education, yaitu tujuan untuk menyediakan akses pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas bagi semua orang.

SDGs dan Kelemahan Pendidikan Indonesia

Berdasarkan data dari PISA 2022 oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara ASEAN lainnya, seperti Singapura dan Malaysia. Hal itu menunjukkan kemampuan pelajar Indonesia dalam membaca, menghitung, dan sains masih sangat rendah. Kenyataan tersebut seharusnya dapat menjadi teguran bagi pemerintah untuk segera berbenah dan mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Permasalahan Kesenjangan Pendidikan yang Masih Mengakar

Alasan pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara lain adalah karena adanya berbagai permasalahan kompleks yang telah mengakar. Salah satunya adalah kesenjangan pendidikan yang sedang terjadi. Terlihat jelas bahwa terjadi kesenjangan antara pelajar yang berada di perkotaan dengan pelajar yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

Pelajar yang berada di daerah perkotaan mendapatkan fasilitas dan tenaga pengajar yang lebih baik, sedangkan pada daerah 3T, pelajar sering kali kekurangan tenaga pendidik dan tidak mendapat media belajar yang seharusnya. Hal itu jelas sangat menyalahi SDGs itu sendiri. Pendidikan yang seharusnya sejalan dengan prinsip SDGs no one left behind (tidak meninggalkan siapa pun) justru meninggalkan pelajar yang berada di pelosok negeri dan lebih mengutamakan pelajar yang ada di daerah perkotaan.

Distribusi Guru yang Tidak Merata dan Kurangnya Perhatian Pemerintah

Masih banyak sekolah di daerah pelosok yang kekurangan tenaga pendidik atau sengaja untuk diabaikan. Kasus nyata terjadi pada salah satu sekolah di Sumatera Utara, yaitu SDN No. 078481 Uluna’ai Hiligo’o di Kabupaten Nias. Dalam video yang sempat viral (17/01/25), seorang murid sekolah tersebut mengatakan bahwa selama satu bulan penuh tidak ada guru yang mengajar. Guru hanya datang dan membunyikan lonceng, kemudian pulang dan tidak memberikan materi. Sementara itu, di daerah perkotaan, guru dituntut selalu hadir dan tepat waktu. Ketimpangan ini sangat menunjukkan distribusi guru yang tidak merata dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.

Infrastruktur dan Fasilitas yang Tidak Adil

Selain masalah distribusi guru yang tidak merata, terdapat pula permasalahan infrastruktur dan fasilitas. Banyak sekolah yang masih jauh dari kata layak, bahkan terkadang tidak berbentuk seperti sekolah. Ketika pelajar yang berada di kota dapat menikmati ruang kelas yang nyaman, pelajar yang berada di daerah pedalaman harus menerima ruang kelas yang kecil dan seadanya. Terkadang hanya beralaskan batu dan berdinding kayu, meja kursi yang digunakan juga sudah tidak layak. Padahal dalam pembelajaran, kondisi lingkungan sangat memengaruhi proses siswa dalam belajar dan mengembangkan potensi.

Digitalisasi Pendidikan: Solusi atau Ketimpangan Baru?

Permasalahan terakhir adalah akses ke pembelajaran digital. Saat ini, pemerintah sedang menekankan pembelajaran berbasis digital. Lalu bagaimana dengan sekolah di pelosok? Mereka yang untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar secara normal saja masih kesulitan. Sinyal dan akses internet saja terkadang belum masuk ke daerahnya. Hal itu menyebabkan sekolah yang awalnya tertinggal menjadi semakin tertinggal jauh. Jika pemerintah hanya fokus mengembangkan sekolah yang ada di kota, ketimpangan akan semakin melebar.

Bersama Mewujudkan Prinsip "No One Left Behind"

Permasalahan-permasalahan tersebut hanya akan terus menjadi pembahasan semata tanpa langkah konkret yang mampu mengubahnya. Padahal, pelajar di pelosok membutuhkan aksi nyata yang dapat memperbaiki kualitas pendidikan mereka. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah telah berusaha untuk memperkecil kesenjangan pendidikan melalui berbagai program, seperti program Guru Penggerak, Revitalisasi Sekolah, dan Digitalisasi Pembelajaran.

Program-program tersebut tidak akan berpengaruh tanpa konsistensi dan keseriusan dari pemerintah. Masyarakat juga seharusnya dapat ikut berperan serta dalam pemerataan pendidikan dengan menjadi relawan pengajar atau memberi dukungan bagi sekolah yang ada di pelosok. Melalui langkah nyata bersama, prinsip no one left behind tidak akan lagi menjadi mimpi yang tertinggal.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan