Purbaya dan Luhut: Hubungan yang Baik, Pandangan yang Berbeda
Di tengah sorotan tajam publik dan dinamika politik ekonomi nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait hubungannya dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Isu keduanya sempat menjadi perbincangan setelah terekam momen tanpa sapaan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
Momen tersebut memicu spekulasi adanya ketegangan antara dua tokoh penting pemerintahan. Namun, Purbaya segera menepis anggapan itu dengan nada tegas namun tenang. Ia menyatakan bahwa tidak ada masalah dalam hubungannya dengan Luhut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Tapi baik hubungan saya sama dia, enggak ada masalah,” ujarnya usai rapat, seolah ingin menegaskan bahwa tak ada bara yang menyala di antara dirinya dan Luhut.
Ia bahkan menjelaskan situasi di ruang sidang saat itu, di mana Luhut duduk di samping Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sementara di sisi kanan Airlangga terdapat Mensesneg Prasetyo Hadi dan Seskab Teddy Indra Wijaya. “Kan jauh berapa kursi, masa ‘Pak Luhut, Pak Luhut’ (gestur manggil dari jauh),” katanya sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana di tengah ramainya isu yang beredar.
Meski demikian, perbedaan pandangan keduanya dalam urusan ekonomi memang tidak bisa dipungkiri, khususnya soal pengelolaan dana investasi negara dan proyek family office.

Luhut diketahui mendorong agar pemerintah mengucurkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp50 triliun per tahun ke Indonesia Investment Authority (INA). Langkah ini diyakininya bisa menjadi mesin penggerak ekonomi nasional bersama BPI Danantara.
Namun, Purbaya dengan prinsip kehati-hatian fiskal memilih bersikap waspada. Ia menolak jika dana besar negara hanya akan berputar di instrumen pasif seperti obligasi. “Saya enggak mau ngasih uang ke sana (INA), uangnya dibelikan bond lagi. Buat apa? Mending saya kurangin bond saya,” ujarnya lantang di kantornya, Sabtu (18/10/2025), dikutip dari Antara.
Purbaya menegaskan, dana negara harus diarahkan ke sektor riil, ke bidang yang benar-benar menghasilkan produktivitas, bukan sekadar “memutar uang di atas kertas.” Ia bahkan pernah mengkritik BPI Danantara karena dinilai terlalu bergantung pada investasi obligasi yang minim dampak ekonomi.
“INA kan harusnya mengundang investor asing, kan sovereign wealth fund, bukan domestik saja,” tegasnya, menggambarkan visinya agar lembaga pengelola investasi negara benar-benar menjadi magnet modal asing yang produktif dan transparan.
Dari pernyataannya, satu hal menjadi jelas: Meski hubungan personal dengan Luhut diklaim baik-baik saja, perbedaan prinsip ekonomi antara keduanya nyata adanya. Purbaya berdiri di sisi kehati-hatian fiskal dan efektivitas penggunaan dana publik, sementara Luhut berorientasi pada percepatan pertumbuhan melalui injeksi investasi besar.
Dua arus besar pemikiran ekonomi itu kini bertemu di satu persimpangan penting tempat di mana arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan akan benar-benar diuji.
Perbedaan Pendapat tentang Dana Investasi
- Luhut Binsar Pandjaitan
- Mendukung alokasi dana sebesar Rp50 triliun per tahun ke INA untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
- Percaya bahwa dana tersebut dapat menjadi mesin penggerak ekonomi nasional.
-
Menekankan pentingnya kolaborasi dengan BPI Danantara.
-
Purbaya Yudhi Sadewa
- Memiliki prinsip kehati-hatian fiskal dan skeptis terhadap penggunaan dana besar untuk instrumen pasif seperti obligasi.
- Menolak ide mengalirkan dana negara ke INA jika hanya digunakan untuk membeli obligasi.
- Menginginkan dana negara dialokasikan ke sektor riil yang lebih produktif.
Visi Purbaya untuk INA
- Menekankan pada sektor riil
- Dana negara harus digunakan untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan produktivitas ekonomi.
-
Tidak hanya memutar uang di atas kertas, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi rakyat.
-
Mendorong investasi asing
- INA harus menjadi magnet bagi investor asing, bukan hanya fokus pada pasar domestik.
- Menginginkan lembaga pengelola investasi negara menjadi lebih transparan dan efisien.
Kebijakan Ekonomi yang Diuji
- Perbedaan pendekatan
- Purbaya mengedepankan kehati-hatian dan efisiensi penggunaan dana publik.
-
Luhut lebih fokus pada percepatan pertumbuhan ekonomi melalui investasi besar.
-
Persimpangan penting
- Arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan akan ditentukan oleh perbedaan pandangan ini.
- Diperlukan kompromi atau solusi yang bisa memadukan kedua pendekatan tersebut.