Tidak Viral, Tapi Abadi: Wajah Baru Ekonomi Kreatif


Pagi yang masih gelap dan sepi mulai diisi oleh aktivitas kecil yang penuh makna. Ida, seorang perempuan yang sibuk menata meja kecil di sudut jalan, tampak bergerak dengan cepat meski wajahnya masih terlihat lelah. Makanan yang ia jual dibuat sendiri di kontrakan sempitnya, dimasak saat malam hari ketika anaknya tertidur.

Jika ditanya apakah ia termasuk pelaku ekonomi kreatif, Ida hanya menjawab dengan suara lirih, "Saya cuma menyambung hidup dengan tangan sendiri."

Kontras dengan suasana tenang dapur Ida, semangat lain muncul dari sisi lain jalan. Elham, bersama pemuda-pemuda kampung yang dikenal sebagai "akamsi", sibuk mengatur umbul-umbul dan dekorasi lainnya di trotoar. "Biarkan bagus, Mas. Kalau difoto bisa viral," ujarnya sambil keringat mengalir dari wajahnya.


Di pagi itu juga, di seberang jalan, Surya sedang menyalakan kompor kecilnya. Kopi bubuk ditakar, air panas dituang perlahan. Lapaknya sederhana: vespa tua yang diubah menjadi bar, serta banner yang warnanya memudar akibat paparan sinar matahari.

Ia tahu bahwa pembeli tidak selalu datang. Namun setiap Sabtu pagi, ia tetap hadir. Bukan hanya untuk mencari untung, tetapi juga untuk merawat kewarasan: bahwa karyanya kecil ini masih memiliki tempat di dunia yang bising.

Di sisi lain, Jaya tampak mondar-mandir. Ia sibuk memberi instruksi kepada teman-temannya agar lapak jualannya tidak menjorok ke tengah jalan, sambil mengatur alur pengunjung.

Tidak jauh dari sana, Joko sibuk mengangkat kursi sambil berteriak kepada temannya, "Kang, aku pinjam kursimu dulu ya, ini pelangganku tidak ada tempat duduk!"


Teriakan itu langsung disahut dari sisi lain, "Ambil aja Kang, jangan lupa nanti dikembalikan!"

Di atas aspal dan trotoar inilah, napas ekonomi kreatif yang sebenarnya berdenyut.

Bukan di ruang seminar berpendingin udara, bukan lewat slogan megah di baliho kota.

Melainkan dari kebiasaan saling menyapa, saling membeli, dan saling menopang.

Lihatlah cara kerjanya:

  • Ketika satu pedagang menitip dagangan ke lapak lain tanpa kontrak tertulis.
  • Ketika unggahan media sosial teman membantu warung yang sedang sepi pembeli.
  • Ketika warga memilih membeli buatan tetangga, meskipun tahu harganya sedikit lebih mahal dari toko ritel besar.

Tidak ada yang merasa sedang "membangun ekosistem". Itu adalah bahasa birokrat.

Mereka hanya berusaha bertahan—bersama.


Kesadaran kolektif lahir saat orang-orang mulai memahami bahwa ekonomi kreatif bukan tentang siapa yang paling viral, paling raksasa, atau paling cepat menjadi "unicorn".

Ia tentang rasa senasib. Tentang keyakinan bahwa jika satu lapak gulung tikar, lampu jalan terasa sedikit lebih redup bagi yang lain.

Di sinilah ekonomi kreatif menjadi manusiawi. Ada lelah yang dibagi. Ada cemas yang diredam bersama. Ada senyum kecil saat dagangan laku, meski hanya cukup untuk makan hari ini.

Pemerintah boleh menyebutnya program. Media boleh menyebutnya industri. Namun bagi mereka yang bertarung di jalanan, di gang sempit, di pasar dadakan, ekonomi kreatif adalah soal dapur yang harus tetap "ngebul" esok pagi.

Dan kesadaran itu tumbuh bukan karena instruksi, melainkan karena satu hukum jalanan yang tak tertulis: tak ada yang bisa selamat sendirian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan