
Peristiwa Jatuhan Batu Besar di Gunung Batu, Warga Khawatir
Pada hari Sabtu, 8 November 2025 siang, tiga batu besar jatuh dari tebing Gunung Batu di Kampung Sukamulya RT 001 RW 10, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dua dari batu tersebut menimpa badan jalan desa, sementara satu batu terbesar menghantam dinding greenhouse kaktus milik warga. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, warga sempat panik karena sebelumnya tidak ada gempa maupun hujan deras yang dilaporkan.
Pemilik greenhouse, Bayo, mengaku mendengar suara keras dari belakang rumah saat ia sedang berada di dalam greenhouse. “Saya mendengar suara gedebruk cukup kencang. Saya kira cuma papan jatuh, tapi setelah keluar, tembok greenhouse sudah bolong akibat batu besar,” ujarnya di lokasi kejadian.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Bayo, posisi batu jatuh terasa sangat aneh karena di sekitar area tersebut tidak pernah terjadi aktivitas alam yang ekstrem. Ia memperkirakan bahwa batu itu tidak menggelinding dari atas, melainkan jatuh dengan cara memantul dari tebing. Hal ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang tidak biasa dalam proses jatuhnya batu tersebut.
Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat, terutama karena lokasi jatuhnya batu dekat dengan permukiman. Warga meminta pihak berwenang untuk segera memeriksa kondisi tebing dan lereng guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Berdasarkan laporan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), peristiwa jatuhan batu ini termasuk dalam kategori gerakan massa batuan tipe jatuhan (rockfall). Faktor utamanya adalah kondisi geologi setempat yang labil.
Gunung Batu memiliki lereng terjal dengan kemiringan lebih dari 60 derajat dan tersusun atas batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan dan retakan. Dalam pengamatan awal, ditemukan bidang rekahan memanjang sejajar lereng yang menunjukkan potensi pelepasan blok batuan. Kondisi ini menandakan bahwa struktur batuan mendekati batas kestabilan (limit equilibrium).
Kepala Badan Geologi, M. Wafid A.N., menjelaskan bahwa pemicu utama diduga berasal dari kelemahan internal batuan yang rapuh akibat pelapukan alami. “Fenomena ini merupakan peristiwa alami akibat kondisi geologi setempat yang labil. Warga diminta tetap waspada, terutama di sekitar tebing curam yang tersusun oleh batuan vulkanik terlapuk,” ujarnya.
Menurutnya, getaran kecil atau mikro-gempa lokal yang tidak tercatat dalam sistem monitoring utama bisa cukup untuk memicu pelepasan blok batuan yang telah rapuh. Selain itu, perubahan suhu dan pelapukan berulang juga dapat berkontribusi terhadap keretakan lebih lanjut.
“Potensi bahaya ada di wilayah bawah tebing, memiliki potensi terpapar jatuhan batu lanjutan, khususnya di musim peralihan atau saat terjadi getaran ringan. Area jalan dan bangunan warga di bawah tebing berisiko tinggi,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sihabudin, mengatakan bahwa pihaknya segera berkoordinasi dengan muspika Lembang untuk mengambil langkah antisipatif. Tindakan ini dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat merasa aman.