
Presiden Prabowo Tiga Kali Bantah Dikendalikan Jokowi
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tiga kali tercatat menyampaikan pernyataan yang membantah bahwa dirinya dikendalikan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Pernyataan tersebut disampaikannya dalam tiga kesempatan berbeda sejak bulan kedua tahun 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
HUT Gerindra, Februari
Pertama kali Prabowo membantah isu bahwa dirinya dikendalikan Jokowi adalah saat hadir dalam acara HUT Ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 15 Februari 2025. Dalam pidatonya, ia memuji Jokowi dengan menyebut bahwa mantan presiden tersebut tidak memiliki ambisi apapun selama memimpin pemerintahan sebelumnya.
"Pak Jokowi saya yakin tidak punya ambisi untuk bikin ini dan bikin itu. Saya kenal saya di kabinet lima tahun. Saya saksi. kepemimpinan beliau hanya untuk rakyat Indonesia," ujarnya.
Setelah itu, Prabowo menyinggung bahwa banyak pihak menyebut dirinya dikendalikan oleh Jokowi. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar dan menekankan bahwa dirinya selalu ingin Indonesia menjadi negara hebat.
"Tapi dibilang saya dikendalikan Pak Jokowi, cawe cawe," katanya. "Sumpah saya. Sama dengan senior-senior saya di situ. Tidak ada bahwa kita ingin kekusaan untuk kehebatan kita sendiri tidak ada."
Sidang Kabinet, Mei
Tiga bulan setelah acara HUT Gerindra, Prabowo menyampaikan pernyataan serupa dalam pidatonya di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, 5 Mei 2025. Ia membantah tegas isu bahwa dirinya sebagai boneka yang dikendalikan oleh Jokowi.
"Saya dibilang, apa itu, presiden boneka. Saya dikendalikan oleh Pak Jokowi, seolah Pak Jokowi tiap malam telepon saya, saya katakan itu tidak benar," tegas Prabowo.
Ia mengakui bahwa sering berkonsultasi dengan Jokowi terkait pengalaman 10 tahun memimpin Indonesia. Namun, ia juga menjelaskan bahwa komunikasi serupa dilakukan dengan para mantan presiden lainnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri.
"Saya menghadap beliau enggak ada masalah, saya menghadap Pak SBY tidak ada masalah, saya menghadap Ibu Mega tidak ada masalah. Kalau bisa menghadap Gus Dur, kalau bisa. Menghadap Pak Harto, menghadap Bung Karno kalau bisa," imbuh dia.
Di Cilegon, November
Baru-baru ini, tepatnya pada 6 November 2025, Prabowo kembali menyampaikan pernyataan serupa saat meresmikan pabrik PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten. Ia membantah tudingan bahwa dirinya takut dan masih dikendalikan oleh Jokowi.
Menurut Prabowo, hubungan dengan Jokowi terjalin dengan baik. Ia menegaskan bahwa Jokowi tidak pernah menitipkan apapun kepadanya dan menanyakan alasan takut dengan Jokowi mengingat keduanya berteman baik.
"Pak Jokowi itu nggak pernah nitip apa-apa sama saya, ya saya harus katakan sebenarnya. Pak Prabowo takut sama Pak Jokowi, nggak ada itu. Untuk apa saya takut sama beliau? Aku hopeng sama beliau kok takut, ya kan?" tutur Prabowo.
Parpol Koalisi Minta Tak Dibesar-besarkan
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, meyakini bahwa Presiden Prabowo tidak dikendalikan oleh Jokowi. Menurutnya, Prabowo menjalankan tugas dan kewenangan sebagai kepala negara sesuai mandat konstitusi tanpa campur tangan Jokowi.
"Jika memang itu dikaitkan langsung dengan adanya isu bahwa kemudian Pak Presiden Prabowo dikendalikan oleh Presiden sebelumnya, Pak Jokowi, saya kira itu tidak benar," ujar Eddy.
Ia menilai bahwa jabatan presiden membuat seorang kepala negara berdiri secara independen dalam menjalankan pemerintahan. Oleh karena itu, ia meminta agar isu-isu tersebut tidak dibesar-besarkan lagi.
“Jadi beliau adalah presiden yang berdiri sendiri, memiliki kewenangan dan menjalankan kewenangan itu dengan baik. Saya kira itu tidak perlu dihembuskan, tidak perlu dibesar-besarkan lagi,” ujar Eddy.