
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan kontribusi ilmiah dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera dengan melakukan forensik kayu. Tujuannya adalah mengidentifikasi jenis, asal, dan mekanisme pergerakan kayu yang terbawa arus banjir dan longsor sebagai dasar penilaian penyebab serta perumusan mitigasi bencana berbasis data.
Uji forensik kayu dilakukan oleh tim yang tergabung dalam Task Force Supporting Penanggulangan Bencana. Sebelum ke lapangan, mereka menjalin koordinasi dengan Bareskrim Polri dan Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Medan. Pengambilan data kemudian dilakukan di lokasi-lokasi dengan timbunan kayu yang signifikan, antara lain di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, di Sumatera Utara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu juga di Desa Muara Sibuntuon, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, juga di Sumatera Utara, serta di Desa Tamiang, Aceh. Saat laporan ini dibuat, tim juga sudah menjadwalkan survei lanjutan ke Pantai Parkit, Sumatra Barat.
"Dalam kegiatan lapangan, tim mengambil sampel kayu dan tanah untuk mengetahui jenis kayu dan asalnya," kata Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Forensik Kayu, Ratih Damayanti, melalui keterangan tertulis pada hari ini, Jumat 19 Desember 2025.
Ditambahkannya, tim juga membuat plot pengamatan untuk analisis kuantitatif terhadap volume kayu yang terbawa bencana. “Kami menghitung berapa volume kayu yang ada, lalu memetakan persentase kayu yang berasal dari tebangan, tumbang alami (lapuk), atau tercabut akibat longsor dan banjir,” kata Ratih lagi.
Menurut Ratih, penentuan jenis kayu dilakukan menggunakan metode struktur anatomi kayu, yang menjadi keahlian tim forensik kayu BRIN dan tim dari Xylarium Bogoriense, Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Kementerian Kehutanan. Untuk memperkuat hasil analisis, Laboratorium Genetika Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB, akan mendukung pengujian lanjutan menggunakan teknologi DNA dan DART TOFMS (Direct Analysis in Real Time–Time of Flight Mass Spectrometry).
"Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan identifikasi kayu dan asalnya dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi," ujar perempuan yang juga menjadi Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran BRIN ini.
Target Selesai dan Janji Obyektif
Ratih menjelaskan bahwa saat ini seluruh sampel masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan awal. Data kuantitatif terkait volume dan klasifikasi kayu ditargetkan selesai dalam pekan ini. Sedangkan untuk hasil identifikasi jenis kayu dan penelusuran asalnya secara detail, diperlukan waktu sekitar satu bulan. “Proses ini membutuhkan ketelitian karena setiap kesimpulan harus benar-benar didukung bukti ilmiah.”
Ia menegaskan bahwa forensik kayu merupakan bagian penting dalam memahami keterkaitan antara kondisi hutan, aktivitas manusia, dan dampak bencana hidrometeorologi. Analisis ini dapat memberikan gambaran apakah material kayu yang terbawa bencana lebih dominan berasal dari proses alamiah atau dari aktivitas manusia di hulu DAS.
Menurut Ratih, apa pun hasil yang diperoleh nantinya akan disampaikan secara objektif dan berbasis data. “Pendekatan forensik tidak berangkat dari asumsi, tetapi dari bukti ilmiah. Itu prinsip utama kami,” katanya menegaskan.
Ditambahkannya, hasil uji forensik kayu BRIN akan berfungsi sebagai penguat analisis citra satelit yang telah digunakan dalam pemetaan bencana. Integrasi data lapangan dan data keantariksaan ini diharapkan mampu memberikan gambaran utuh mengenai dinamika bencana di Sumatera, "Sekaligus menjadi dasar ilmiah yang kuat bagi kebijakan mitigasi dan rehabilitasi wilayah terdampak," kata Ratih.
Sebelumnya, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyelidiki asal kayu gelondongan yang terbawa banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Brigadir Jenderal Mohammad Irhamni mengatakan, kepolisian belum bisa memastikan adanya unsur pidana. "Penyelidikan sudah dimulai, tim sudah dibentuk untuk mencari ada peristiwa pidana atau tidak," kata Irhamni di Istora Senayan, Rabu, 3 Desember 2025.
Irhamni mengatakan kepolisian masih memverifikasi apakah ada perusahaan yang menebang pohon tanpa izin. "Sumber (kayunya) resmi atau tidak resmi, ada izin atau tidak," kata dia.
Hammam Izzuddin berkontribusi dalam penulisan artikel ini.