Tim SAR Evakuasi Korban Musala Ambruk Lewat Gorong-gorong

admin.aiotrade 01 Okt 2025 4 menit 15x dilihat
Tim SAR Evakuasi Korban Musala Ambruk Lewat Gorong-gorong


aiotrade, SURABAYA – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjelaskan bahwa tim SAR gabungan harus membuat gorong-gorong untuk dapat melakukan evakuasi terhadap korban yang terjebak di bangunan empat lantai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur yang ambruk.

Kepala Basarnas, Marsda TNI Mohammad Syafii menjelaskan, seluruh petugas SAR gabungan melaksanakan operasi evakuasi dengan prinsip kehati-hatian yang ekstra karena kondisi reruntuhan bangunan yang ringkih dan berisiko tinggi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Konstruksi yang saat ini terjadi, reruntuhan ini, satu titik ada getaran saja bisa menyebabkan dampak-dampak yang lain, sehingga kita akan melakukan alternatif-alternatif tindakan. Saat ini untuk menyentuh ke titik korban, kita harus melalui, kita membuat gorong-gorong di bawah tanah, dan kalau kita tahu konstruksi awal dari permukaan dasar dari bangunan ini merupakan timbunan-timbunan dari bangunan-bangunan lama," ucap Syafii kepada awak media di lokasi, Rabu (1/9/2025).

Karena kondisi reruntuhan bangunan tersebut yang tidak stabil, Syafii menyebut petugas SAR gabungan lantas membuat galian atau gorong-gorong untuk dapat melakukan evakuasi terhadap para korban yang masih terjebak. Namun, akses gorong-gorong tersebut hanya sebesar 60 centimeter (cm).

"Saat kita membuat galian ini pun beresiko, kiri-kanan juga ada longsoran-longsoran kecil. Sehingga akses untuk bisa masuk hanya relatif di 60 cm karena ada di situ ada kolom-kolom beton-beton yang terjadi," bebernya.

Dirinya pun meminta kepada segenap keluarga korban maupun masyarakat luas untuk dapat bersabar dan memahami sistem kerja dari proses evakuasi yang dilakukan petugas tersebut.

"Dan itulah sebenarnya yang kita hadapi bukan berarti kita tidak kepingin terbuka masyarakat untuk bergabung tapi untuk di pahami bahwa pada saat kita melaksanakan tugas khusus dalam rescue ini memang perlu adanya clear area," tegasnya.

Syafii menjelaskan sebanyak 379 personil yang berasal dari 65 instansi yang berbeda diterjunkan dalam operasi gabungan untuk melakukan evakuasi terhadap para korban ambruknya bangunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo tersebut.

Saat ini, petugas SAR gabungan mengejar 'Golden Time' atau rentang waktu kritis dari proses evakuasi selama 3×24 jam pasca terjadinya peristiwa naas tersebut.

"Karena dimungkinkan dari Golden Time inilah yang kita detect, masih ada kehidupan ini masih memungkinkan untuk bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup. Namun, pada saat kita sudah bisa menyentuh korban, mensuplai minuman vitamin bahkan info sudah bisa kita berikan, memungkinkan yang bersangkutan ini bisa bertahan lebih lama," ucap Syafii.

Proses Evakuasi yang Rumit dan Berisiko Tinggi

Proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan sangat rumit dan penuh risiko. Hal ini disebabkan oleh struktur bangunan yang tidak stabil dan kemungkinan adanya getaran yang bisa memicu runtuhnya bagian lain dari bangunan. Oleh karena itu, tim SAR harus memperhatikan setiap langkah yang mereka ambil agar tidak membahayakan diri sendiri maupun korban yang terjebak.

  • Petugas SAR menggunakan teknik khusus seperti membuat gorong-gorong untuk mencapai korban yang terjebak di bawah tanah.
  • Akses yang tersedia sangat sempit, hanya sekitar 60 cm, sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam proses evakuasi.
  • Selain itu, ada ancaman longsoran kecil di sekitar lokasi yang bisa mengganggu proses pencarian dan penyelamatan.

Peran Tim SAR Gabungan

Tim SAR gabungan terdiri dari 379 personil yang berasal dari 65 instansi berbeda. Mereka bekerja sama untuk memastikan proses evakuasi berjalan efektif dan cepat. Setiap anggota tim memiliki peran spesifik sesuai dengan keahlian dan pengalaman mereka.

  • Beberapa anggota fokus pada pencarian korban, sementara yang lain menangani logistik dan peralatan.
  • Koordinasi antarinstansi sangat penting untuk memastikan semua langkah diambil secara tepat dan sesuai rencana.
  • Tim juga melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan lingkungan sekitar untuk menghindari risiko tambahan.

Pentingnya 'Golden Time'

Waktu emas atau 'Golden Time' adalah periode kritis dalam proses evakuasi. Dalam waktu 3×24 jam setelah kejadian, peluang menyelamatkan korban masih cukup besar. Oleh karena itu, tim SAR berusaha secepat mungkin mencapai korban dan memberikan pertolongan.

  • Dalam 'Golden Time', petugas SAR dapat memberikan makanan, air, dan informasi kepada korban yang terjebak.
  • Ini membantu meningkatkan kemungkinan korban bertahan hidup hingga akhirnya dievakuasi.
  • Tim SAR juga memastikan bahwa korban tetap tenang dan tidak panik agar tidak memperburuk kondisi.

Kebersihan dan Kesabaran

Selain faktor fisik, kebersihan dan kesabaran juga menjadi hal penting dalam proses evakuasi. Petugas SAR harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran penyakit. Selain itu, mereka juga harus bersabar dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan dan tidak pasti.

  • Kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah infeksi pada korban.
  • Kesabaran membantu petugas dalam mengambil keputusan yang tepat dan tidak terburu-buru.
  • Dengan kesabaran, tim SAR dapat memastikan proses evakuasi berjalan dengan baik dan aman.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan