
Tim penyelamat menghadapi tantangan besar dalam upaya menyelamatkan korban yang terjebak di reruntuhan gedung asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny, yang roboh di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Evakuasi dilakukan secara manual karena struktur bangunan dinilai tidak aman untuk digunakan alat berat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, yang menegaskan bahwa tim ahli belum menilai struktur bangunan layak untuk dibongkar menggunakan alat berat.
Tim SAR mengatakan masih ada dugaan enam santri yang mungkin masih hidup dan terjebak di bawah reruntuhan. Untuk mencapai mereka, tim fokus pada penggalian jalur akses secara manual. Tujuannya adalah memberikan suplai makanan dan perlengkapan dasar kepada para korban yang masih hidup hingga proses evakuasi dapat dilakukan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Suharyanto menekankan bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan korban yang masih hidup. Setelah itu, barulah proses evakuasi jenazah dilakukan. “Evakuasi korban yang sudah dinyatakan tidak bernyawa akan dilakukan setelah kami yakin bahwa yang masih hidup bisa diselamatkan,” ujar Suharyanto saat meninjau lokasi kejadian pada 1 Oktober 2025.
Gedung empat lantai tersebut roboh pada 29 September 2025, diduga akibat kegagalan konstruksi. Sebanyak 91 santri diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan, sesuai dengan data absensi. Tim Basarnas dan BNPB terus berupaya mengevakuasi korban sambil memastikan kebutuhan dasar keluarga korban tetap terpenuhi.
BNPB memberikan bantuan berupa paket sembako, tenda, matras, selimut, tikar, serta hygiene kit. Selain itu, BNPB juga menyiapkan Dana Siap Pakai (DSP) untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan, pemenuhan sarana, dan prasarana. BNPB juga akan terus mendampingi hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi selesai.
Menurut data sementara hingga Rabu, 1 Oktober 2025 pukul 11.00 WIB, sebanyak 91 orang diduga masih tertimbun material bangunan. Tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 100 orang, dengan tiga orang meninggal dunia. Sementara itu, puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan.
Para korban telah mendapatkan penanganan medis di beberapa rumah sakit. Di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, 39 pasien ditangani dengan rincian 5 luka berat, 32 luka ringan, dan 2 meninggal. RS Siti Hajar menangani 53 pasien, termasuk 9 luka berat dan 42 luka ringan. Satu pasien dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto, dan satu lainnya meninggal.
RS Delta Surya merawat 6 pasien dengan 5 luka berat dan 1 luka ringan. RS Sheila Medika menangani satu pasien yang sudah diperbolehkan pulang, sedangkan RS Unair merawat satu pasien rawat inap.
Untuk penanganan darurat, BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Sidoarjo bekerja sama dengan perangkat kecamatan dan desa setempat. Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air mengerahkan tiga unit ekskavator, sementara Basarnas menurunkan dua unit mobil rescue. Dinas Sosial bersama Baznas Kabupaten Sidoarjo juga menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar korban dan petugas evakuasi.
Bangunan asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, 29 September 2025 pukul 15.00 WIB. Saat kejadian, ratusan santri tengah melaksanakan salat asar berjamaah di lantai 1. Akibatnya, ratusan santri menjadi korban. Sebanyak 102 santri berhasil dievakuasi, dengan tiga orang meninggal.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa proses evakuasi masih berlangsung. Puluhan ambulans disiagakan untuk menangani korban yang mungkin dievakuasi. “Proses evakuasi terus berlanjut dengan memberikan layanan kepada mereka yang masih bisa berkomunikasi di bawah reruntuhan. Termasuk memberikan oksigen dan air agar tubuh tetap kuat dan peralatan deteksi siap digunakan,” ujar Khofifah.
Hanaa Septiana berkontribusi dalam penulisan artikel ini.