Timur Tengah Kembali Guncang, Iran Tutup Selat Hormuz Akibat Perilaku Trump, Apa Dampaknya?

Timur Tengah Kembali Guncang, Iran Tutup Selat Hormuz Akibat Perilaku Trump, Apa Dampaknya?

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan Dampaknya terhadap Ekonomi Global

Iran secara resmi menutup Selat Hormuz setelah menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata. Keputusan ini diumumkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada malam hari, yang menyatakan bahwa selat tersebut akan ditutup hingga blokade laut AS dicabut. Tindakan ini memicu ketidakpastian global, dengan potensi lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.

Mengapa Iran Murka?

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa langkah penutupan ini diambil karena AS dinilai tidak mematuhi komitmen gencatan senjata. Negara yang dipimpin Donald Trump tetap memberlakukan blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran, meskipun jalur pelayaran sempat dibuka. Iran menilai kebijakan ini sebagai bentuk tekanan sepihak yang mengancam kedaulatan dan stabilitas kawasan.

Peringatan dari IRGC juga menyebutkan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari titik labuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk kerja sama dengan musuh. Kapal yang melanggar akan menjadi sasaran militer. IRGC juga menegaskan kontrol penuh atas informasi navigasi di kawasan dan meminta kapal untuk hanya mengikuti informasi dari otoritas resmi Angkatan Laut IRGC melalui Channel 16.

Eskalasi dalam 24 Jam

Perubahan sikap Iran terjadi begitu cepat. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal komersial. Pernyataan itu disampaikan melalui X:

"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran."

Namun, sikap tersebut berubah drastis setelah pernyataan lanjutan dari Donald Trump yang menegaskan blokade tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan, termasuk soal program nuklir Iran.

Dampak Domino bagi Ekonomi Indonesia

Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, ini ancaman langsung bagi ekonomi global, termasuk Indonesia. Sebagai jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, gangguan di Hormuz hampir pasti mendorong harga minyak melonjak tajam. Dampaknya:

  • Tekanan APBN meningkat akibat potensi lonjakan subsidi energi
  • Harga BBM berisiko naik, terutama jika harga minyak mentah dunia melonjak
  • Biaya logistik laut meningkat, karena kapal harus mencari rute alternatif
  • Inflasi bahan pokok berpotensi terjadi di pasar-pasar lokal, termasuk di Jawa Timur dan sekitarnya
  • Kenaikan biaya distribusi akan berdampak langsung pada harga kebutuhan sehari-hari, dari beras hingga bahan pangan impor.

Dalam jangka pendek, efeknya bisa terasa hanya dalam hitungan hari, terutama jika pasar merespons dengan spekulasi harga.

Ancaman Iran Usai Trump Blokade Selat Hormuz

Baru tiga hari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan militernya memblokade selat Hormuz, Iran sudah menyerukan sejumlah ancaman. Blokade Selat Hormuz ini dilakukan Trump untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.

Langkah ini dilakukan setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional setelah serangan gabungan yang dilakukan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Washington dan Teheran kemudian melakukan gencatan senjata selama dua minggu dan mengadakan perundingan di Islamabad pada 11 April 2026.

Sayangnya, perundingan tersebut menemui jalan buntu karena Iran menolak syarat dari AS untuk membuka Selat Hormuz dan menghentikan program uranium.

Ancaman Iran Terhadap Laut Merah dan Teluk

Militer Iran memperingatkan akan memblokir perdagangan melalui Laut Merah, bersama dengan Teluk dan Laut Oman, jika blokade angkatan laut AS berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Kepala Pusat Komando Militer Iran, Ali Abdollahi, mengatakan jika AS melanjutkan blokade dan "menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran", itu akan menjadi "pendahuluan" untuk melanggar gencatan senjata.

"Angkatan bersenjata republik yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk berlanjut di Teluk, Laut Oman, dan Laut Merah," kata Ali Abdollahi.

Ancaman Tenggelamkan Kapal-kapal AS

Iran juga mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz jika mereka memutuskan untuk mengawasi jalur pelayaran itu. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohsen Rezaei, Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, kepada televisi pemerintah, Rabu (15/4/2026) waktu setempat.

"Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?" kata Mohsen Rezaei, dikutip dari AFP, Kamis (16/4/2026).

"Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami dan telah menghadirkan bahaya besar bagi militer AS. Mereka pasti dapat terkena rudal dan kami dapat menghancurkannya," lanjutnya.