Tindakan Kasar di LDK STIKes Maluku Husada: Mahasiswa Mengaku Dipaksa Merayap di Lumpur Saat Haid

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Tindakan Kasar di LDK STIKes Maluku Husada: Mahasiswa Mengaku Dipaksa Merayap di Lumpur Saat Haid
Tindakan Kasar di LDK STIKes Maluku Husada: Mahasiswa Mengaku Dipaksa Merayap di Lumpur Saat Haid

Video Kegiatan LDK BEM STIKes Maluku Husada Viral di Media Sosial

Video yang menampilkan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKes Maluku Husada kembali menjadi sorotan di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat sejumlah mahasiswa baru (MABA) menjalani aktivitas yang dinilai tidak wajar dan menyerupai perploncoan.

Dalam dua rekaman yang diterima, terlihat para MABA baik laki-laki maupun perempuan diperintahkan untuk merayap di atas lumpur. Seorang perempuan yang diduga merupakan anggota panitia terdengar berteriak “Ini setengah militer, semi militer, semi militer,” di tengah aktivitas para peserta. Selain itu, para MABA juga terlihat melakukan kegiatan lain, yaitu menuangkan air dari satu gelas ke gelas teman lainnya yang digigit di mulut.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Berdasarkan keterangan sejumlah peserta, air yang digunakan berasal dari kawasan Mangrove di Desa Negeri Hative Besar, Kota Ambon, tempat kegiatan tersebut berlangsung. Diduga akibat tindakan tersebut, beberapa MABA dikabarkan mengalami sakit perut dan muntah-muntah usai kegiatan. Ada pula yang mengalami luka di kaki akibat harus merayap di lumpur.

Video tersebut sempat diunggah di akun resmi media sosial “BEM STIKes Maluku Husada”, namun kemudian dihapus.

Pihak BEM Akui Kegiatan, Sebut Hanya “Game”

Menanggapi video tersebut, Wakil BEM STIKes Maluku Husada, Putri Aisyah Farahana, membenarkan bahwa kegiatan itu memang dilakukan oleh pihaknya. Namun ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bentuk kekerasan, melainkan hanya permainan atau “game” dalam rangkaian acara LDK.

“Alasan kita buat tindakan itu hanya game, tetapi bukan bentuk kekerasan, dan dinamika yang dilakukan itu sudah atas dasar izin dari adek sekalian yang melakukan dinamika tersebut. Dan game itu adalah dilakukan setelah kegiatan latihan dasar kepemimpinan badan eksekutif mahasiswa,” tuturnya melalui pesan WhatsApp pada Kamis (6/11/2025).

Ia juga membantah bahwa sakit yang dialami beberapa mahasiswa baru disebabkan adanya oleh kegiatan tersebut. “Mohon maaf sebelumnya ya kak, sebelum game yang kita lakukan itu sudah ada beberapa adek-adek yang sakit dan itu sudah dalam penanganan kita. Jika mereka sakit dan tidak bisa mengikuti kegiatan kita persilahkan untuk pulang. Sebelum kegiatan juga sudah ada beberapa adik-adik yang sakit kita terima keterangan mereka dan kita izinkan untuk tidak mengikuti kegiatan jika memang sama sekali tidak bisa.”

“Mereka sakit bukan karena game itu ya kak krna game itu dilakukan hanya 15 menit,” tutupnya.

Peserta Sebut Tidak Ada Toleransi, Termaksud Bagi yang Menstruasi

Namun pernyataan BEM dibantah oleh beberapa peserta LDK. Mereka menyebut bahwa semua mahasiswa baru diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tanpa terkecuali, termaksud permainan di lumpur.

“Sebelum kegiatan game, saya sudah sampaikan ke panitia kalau saya dan beberapa teman perempuan sementara menstruasi, tapi tidak ada toleransi dari Kaka panitia,” ungkap salah satu peserta yang takut nama disebutkan.

Peserta itu juga menambahkan, setelah kegiatan selesai, darah menstruasi beberapa peserta bahkan menembus pembalut dan celana karena harus ikut merayap di lumpur.

“Kami dipaksa ikut, padahal kondisi kami tidak memungkinkan,” tambahnya.

Tindakan tersebut patut menjadi perhatian dan memerlukan langkah tegas dari pihak kampus.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan