
Rencana Buyback TOBA: Strategi untuk Menjaga Stabilitas Harga Saham
PT TBS Energi Utama Tbk atau TOBA telah merancang aksi pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai dana yang disiapkan mencapai Rp 586,27 miliar. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk menjaga kepercayaan investor dan menstabilkan pergerakan harga saham.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Aksi korporasi ini diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 26 Desember 2025. Manajemen perusahaan memperkirakan jumlah saham yang akan dibeli kembali sebesar 825.740.293 lembar, yang setara dengan 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Jika rencana tersebut terealisasi, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 586,27 miliar. Nilai ini setara dengan 34,92 juta dollar AS, dengan asumsi kurs Rp 16.790 per dollar AS. Dana tersebut sudah mencakup biaya transaksi, biaya perantara pedagang efek, dan biaya lain terkait pelaksanaan buyback.
Sumber dana berasal dari kas internal perusahaan. Manajemen menyatakan bahwa alokasi dana tidak akan mengganggu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Modal kerja dan arus kas disebut masih memadai untuk menopang operasional serta aksi korporasi.
Pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung selama maksimal tiga bulan, dengan periode mulai dari 24 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026. Estimasi kebutuhan dana dihitung berdasarkan harga penutupan saham pada 23 Desember 2025 di level Rp 710 per saham.
Jika selama periode pelaksanaan harga saham bergerak berbeda dari acuan tersebut, manajemen menyatakan alokasi dana akan disesuaikan dengan harga pasar terkini. Penyesuaian dilakukan sepanjang tetap berada dalam batasan regulator.
TOBA mencatat rencana buyback muncul di tengah kondisi pasar modal yang masih berfluktuasi. Manajemen menilai harga saham belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
"Perseroan mempertimbangkan untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan sehubungan dengan kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan," tulis manajemen dalam dokumen keterbukaan informasi.
"Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan harga saham perseroan tidak mencerminkan nilai fundamental Perseroan yang sesungguhnya, meskipun kinerja operasional dan kondisi keuangan Perseroan tetap berada dalam keadaan yang sehat dan stabil," lanjut TOBA.
Pelaksanaan buyback mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2023 terkait kebijakan menjaga kinerja dan stabilitas pasar modal dalam kondisi fluktuasi signifikan. Aksi ini juga mengikuti POJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka, serta surat OJK tertanggal 17 September 2025 terkait kebijakan buyback saat pasar bergejolak.
TBS Energi menilai buyback menjadi instrumen strategis menjaga stabilitas harga saham di tengah kondisi pasar yang belum kondusif. Langkah ini juga memberi fleksibilitas pengelolaan struktur permodalan dan diharapkan meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang.
Manajemen menegaskan buyback tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha. Kondisi keuangan dan kinerja operasional disebut tetap sehat dan stabil, sehingga aksi ini dapat dijalankan tanpa mengganggu kelangsungan usaha.
Dari sisi keuangan, penggunaan dana buyback diperkirakan setara 4,33 persen dari total aset konsolidasian. Total aset tercatat sebesar 805,69 juta dollar AS. Dengan proporsi tersebut, manajemen meyakini tidak terjadi penurunan pendapatan material maupun gangguan kemampuan pembiayaan.
Perseroan juga memaparkan proforma laba per saham. Laba per saham sebelum buyback tercatat 0,0033 dollar AS per saham. Setelah buyback, laba per saham diperkirakan meningkat secara marginal seiring berkurangnya jumlah saham beredar.