
Tradisi Massossor Manurung: Pelestarian Budaya dan Refleksi Moral Masyarakat Mamuju
Tradisi adat Massossor Manurung kembali diadakan di Rumah Adat Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Tradisi ini merupakan warisan leluhur masyarakat Mamuju yang memiliki makna mendalam sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ajang refleksi moral bagi seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan tahunan ini menjadi momen penting dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan memperkuat identitas budaya daerah.
Prosesi utama dari kegiatan ini adalah pencucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Mamuju. Pencucian tersebut tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol penyucian diri dan introspeksi terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Prosesi ini dilakukan oleh Lembaga Adat Kerajaan Mamuju dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK), Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi, Plt. Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, serta sejumlah tokoh adat dan organisasi budaya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Gubernur Sulbar SDK menyampaikan bahwa tradisi Massossor Manurung bukan hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi momen evaluasi moral dan sosial bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa kegiatan ini mencerminkan upaya untuk membersihkan diri dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan, pemerintahan, maupun sosial di setiap masa.
"Massossor Manurung ini bukan hanya pembersihan benda pusaka, tapi juga pembersihan diri dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan, pemerintahan, maupun sosial di setiap masa," ujarnya pada acara yang digelar pada Minggu 26 Oktober 2025.
Ia juga menyoroti pentingnya budaya sebagai penuntun jati diri dan identitas masyarakat. Menurutnya, bahasa Mamuju merupakan bagian dari identitas masyarakat. Jika ada orang Mamuju yang tidak tahu bahasa Mamuju, itu berarti mereka telah tercabut dari akar budayanya.
"Budaya adalah penuntun jati diri dan kepribadian kita, termasuk bahasa. Bahasa Mamuju adalah bagian dari identitas kita. Jika ada orang Mamuju yang tidak tahu bahasa Mamuju, itu artinya tercabut dari akar budayanya," tegasnya.
Selain itu, SDK menilai bahwa pelestarian budaya dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi daerah melalui pariwisata budaya. Ia mengambil contoh Bali yang berhasil memadukan nilai spiritual dan nilai ekonomi dalam kegiatan budayanya.
"Budaya di era modern seperti sekarang tidak hanya disakralkan, tapi juga bisa dipasarkan. Maka tradisi Massossor Manurung ini bisa menjadi atraksi wisata budaya yang menarik wisatawan," ujarnya.
Gubernur SDK juga mengapresiasi kerja sama antara Raja Mamuju dan Lembaga Adat Kerajaan Mamuju dalam menjaga nilai-nilai budaya serta memperkuat harmoni sosial di masyarakat. Ia menekankan bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi dan semangat yang sama untuk membangun kesejahteraan.
"Tidak ada pemimpin yang bisa sukses sendiri. Semua butuh kolaborasi dan semangat yang sama untuk membangun kesejahteraan. Visi kita jelas yakin, Sulbar maju, rakyatnya sejahtera," katanya.
Plt. Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, Sunusi menjelaskan bahwa partisipasi Kesbangpol dalam kegiatan adat merupakan bagian dari tugas lembaga dalam memperkuat ketahanan sosial dan budaya di daerah. Ia menekankan bahwa salah satu sub-bidang Kesbangpol adalah Ketahanan Seni dan Budaya yang fokus pada pembinaan dan fasilitasi kegiatan sosial-budaya.
"Badan Kesbangpol memiliki tugas melaksanakan urusan pemerintahan di bidang kesatuan bangsa dan politik. Salah satu sub-bidangnya adalah Ketahanan Seni dan Budaya yang berfokus pada pembinaan dan fasilitasi kegiatan sosial-budaya," ujarnya.
Sunusi menambahkan bahwa pelestarian adat seperti Massossor Manurung harus disertai regenerasi dan edukasi budaya bagi generasi muda agar nilai-nilai kearifan lokal dapat terus diwariskan.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan lembaga adat, tokoh masyarakat, dan organisasi budaya untuk memastikan pelestarian adat ini berjalan optimal," tambahnya.
Kegiatan Massossor Manurung menjadi salah satu agenda budaya paling penting di Sulbar karena memadukan nilai spiritual, sejarah, dan identitas masyarakat Mamuju. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga merenungkan makna hidup dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.