Tragedi Banjir Bandang Kota Padang, Warga Terseret Air Bahaya

admin.aiotrade 06 Des 2025 3 menit 17x dilihat
Tragedi Banjir Bandang Kota Padang, Warga Terseret Air Bahaya

Banjir Bandang di Kota Padang, Sumatra Barat

Banjir bandang yang melanda Kota Padang, Sumatra Barat, menjadi salah satu peristiwa bencana alam yang menimbulkan kerugian besar. Bencana ini mengakibatkan sejumlah warga hilang dan meninggal dunia. Proses pencarian terhadap dua korban yang masih hilang akibat banjir bandang atau galodo di Kampung Apa, Kecamatan Koto Tangah, masih berlangsung hingga hari Jumat (5/12).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Camat Koto Tangah, Fizlan Setiawan, melaporkan bahwa delapan warga ditemukan meninggal dunia, sementara dua lainnya belum berhasil ditemukan. Seluruh korban terseret oleh derasnya aliran banjir yang melanda kawasan Lubuk Minturun pada Kamis (27/11). Fizlan menjelaskan bahwa cuaca ekstrem telah melanda Kota Padang sejak Senin, 23 November. Di wilayah Koto Tangah, banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Batang Kuranji yang mengalir ke kawasan Lubuk Minturun.

Debit air meningkat tajam hingga akhirnya meluap dan merendam berbagai titik. Tak hanya itu, sebanyak 18 rumah habis tersapu banjir, tak bersisa. Banjir besar itu terjadi pada 27 November sekitar pukul 05.30 WIB, ketika sebagian besar warga baru selesai atau tengah melaksanakan salat subuh. Banyak dari mereka tidak sempat menyelamatkan diri.

“Warga kaget karena curah hujan sangat tinggi, debit air meningkat cepat, dan disertai material batu serta kayu dari arah hulu,” ujar Fizlan ketika ditemui di Lubuk Minturun.

Menurut data yang ia himpun, delapan warga meninggal dunia akibat sapuan banjir, sementara dua lainnya yaitu seorang perempuan berusia 60 tahun dan seorang anak berusia tiga tahun masih dicari hingga hari ini. Tim gabungan melakukan pencarian baik secara manual maupun menggunakan alat berat ekskavator.

Rumah Tersapu Galodo

Selain korban jiwa, banjir bandang juga memporak-porandakan permukiman warga. Di Lubuk Minturun, sebanyak 18 rumah hilang tersapu arus galodo. Fizlan mengatakan, tingginya curah hujan selama beberapa hari terakhir sejalan dengan peringatan BMKG mengenai potensi bencana hidrologi.

“Sudah diberikan himbauan 3 atau 4 hari sebelumnya. Di wilayah kita, khususnya di Kota Tengah itu ada beberapa aliran sungai yang memang menjadi salah satu aliran yang langsung dari hulu atau dari bukit,” ujarnya.

Banyaknya material dari perbukitan seperti gelondongan kayu dan batu besar ikut terbawa aliran sungai, menyebabkan kerusakan parah pada bendungan di kawasan itu. Bendungan kemudian jebol dan mengubah arah aliran Sungai Batang Kuranji sehingga menghantam permukiman warga di Kampung Apa.

Soal tumpukan gelondongan kayu yang tersebar di lokasi banjir, Fizlan menyebut pihaknya belum bisa memastikan dari mana asal kayu-kayu tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa banjir sebesar ini belum pernah terjadi selama dua dekade terakhir.

“Biasanya setinggi apa pun debit air, kita tidak pernah mengalami kerusakan separah ini,” tuturnya.

Evakuasi Warga

Fizlan menjelaskan, upaya evakuasi warga terdampak dilakukan pada hari kejadian melibatkan TNI, Polri, Brimob, BPBD, Basarnas serta berbagai instansi terkait lainnya. Warga yang mengetahui kenaikan air lebih awal sempat melakukan evakuasi mandiri ke masjid dan lokasi yang lebih aman.

Lebih dari 20 rumah dan tiga petak kolam perikanan rusak parah akibat banjir. Irigasi pertanian warga juga mengalami kerusakan karena dampak runtuhnya bendungan.

Pemerintah pusat dan pemerintah Kota Padang kini fokus pada penanganan tanggap bencana, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga yang kehilangan tempat tinggal. Sebagian korban sementara ini mengungsi di posko terdekat dan rumah kerabat.

Menurut Fizlan, pemerintah pusat telah memastikan bahwa warga yang kehilangan rumah akan ditempatkan di hunian sementara. Lahan hunian tetap akan disiapkan pemerintah daerah dan pembangunan rumah dilakukan oleh kementerian terkait.

“Setelah tanggap darurat ini kami menyiapkan ada 80 rumah salah satu komplek itu yang nantinya akan kita tempati bagi masyarakat kita,” kata dia.

Ia menambahkan, relokasi bukan hanya diperuntukkan bagi rumah yang hanyut, tetapi juga rumah yang berada di bibir sungai setelah perpindahan aliran sungai dari bendungan menuju kawasan rumah warga.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan