Transformasi Pengelolaan Penelitian untuk Pembangunan yang Lebih Berdampak

admin.aiotrade 19 Des 2025 4 menit 24x dilihat
Transformasi Pengelolaan Penelitian untuk Pembangunan yang Lebih Berdampak
Transformasi Pengelolaan Penelitian untuk Pembangunan yang Lebih Berdampak

Transformasi Tata Kelola Riset untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, menekankan pentingnya transformasi tata kelola riset agar lebih berdampak pada ekonomi dan pembangunan. Ia menjelaskan bahwa kemajuan riset harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas nasional.

Untuk mencapai hal tersebut, Kemdiktisaintek mendorong penguatan ekosistem riset melalui empat pilar utama. Keempat pilar ini adalah: * Pembinaan talenta * Peningkatan kualitas riset * Hilirisasi inovasi * Kebijakan yang adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan teknologi global

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Fauzan menyampaikan bahwa saat ini masih ada kecenderungan riset yang berhenti pada publikasi ilmiah tanpa dilanjutkan dengan pemanfaatan oleh dunia usaha dan industri. Padahal, keterhubungan antara riset dan kebutuhan pasar menjadi kunci agar inovasi dapat berkontribusi secara signifikan.

Saat ini, Kemdiktisaintek menerapkan strategi riset berbasis pemecahan masalah dengan fokus spesialisasi. Melalui program Riset Prioritas dan Riset Strategis, serta kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), telah terbangun 2.700 mitra industri dan 3.000 lebih program kolaborasi. Salah satu capaian yang signifikan adalah royalti produk riset yang mencapai Rp11 miliar per tahun.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga sedang mengembangkan dashboard riset nasional yang akan terbuka untuk publik. Dengan adanya dashboard ini, industri bisa langsung mengetahui siapa pakar di bidang tertentu.

Acara Human Development Synergy Forum Kemitraan Multi-Pihak untuk Memperkuat Kebijakan Ekosistem Pendidikan dan Riset Nasional digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama dengan Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia dan Yayasan Bicara Data Indonesia di Jakarta, Kamis (18/12).

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menyampaikan bahwa Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan struktural dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset. Beberapa persoalan utama yang disebutkan antara lain: * Rendahnya daya saing talenta * Rasio peneliti yang tertinggal * Lemahnya kinerja riset bidang sains dan teknologi * Belanja riset dan pengembangan (R&D) yang masih rendah dibandingkan negara lain

Pungkas menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari brain drain tradisional ke brain circulation. Indonesia perlu mengadopsi paradigma brain circulation, yakni memanfaatkan mobilitas dan jejaring global talenta untuk mempercepat peningkatan kapasitas riset, inovasi, dan produktivitas nasional.

Menurutnya, penguatan ekosistem riset dan pendidikan tinggi tidak lagi cukup bertumpu pada upaya menahan talenta agar tetap berada di dalam negeri. Paradigma lama memaksa orang pulang secara fisik, padahal ekosistem kita belum mendukung. Ia menyarankan pendekatan baru, yaitu tidak harus secara fisik datang, yang penting akses intelektualnya.

Pungkas menjelaskan bahwa brain circulation memungkinkan mobilitas talenta terintegrasi melalui berbagai instrumen seperti dual affiliations atau visiting scholar. Di zaman konektivitas global ini, kita bisa memanfaatkan akses intelektual di manapun. Yang penting berjejaring, kerja sama riset, dan diplomasi riset.

Hal tersebut perlu dijalankan secara beriringan dengan penguatan ekosistem riset nasional. Menurut Pungkas, ekosistem riset nasional saat ini belum sepenuhnya mendukung produktivitas peneliti, baik dari sisi pendanaan, fleksibilitas regulasi, maupun kesinambungan karier.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Bappenas menetapkan target ambisius dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2045, yakni peningkatan Indeks Inovasi Global lima peringkat dan penggandaan pengeluaran IPTEK. Anggaran IPTEK ini bukan hanya APBN, tetapi keseluruhan pengeluaran IPTEK di Indonesia. Peran industri sangat penting karena kue APBN dibanding GDP kita masih kecil, hanya sekitar 15 persen.

Sementara itu, Director of Talent Management BRIN, Ajeng Arum Sari, menyebutkan tantangan utama penguatan riset nasional masih terletak pada rendahnya rasio SDM iptek. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 1.000 peneliti per satu juta penduduk. Target Indonesia pada 2045 adalah sekitar 4.000–5.000 peneliti per satu juta penduduk, dengan sekitar 30 persen berkualifikasi doktor (S3).

“BRIN diamanatkan untuk mengelola Manajemen Talenta Nasional di bidang riset dan inovasi, mulai dari penyediaan infrastruktur, pendanaan riset, mobilitas periset, hingga pembinaan karier,” kata Ajeng.

Saat ini, BRIN mengelola 12 organisasi riset dengan sekitar 7.000 kegiatan riset, yang diarahkan agar terintegrasi dan dapat dikolaborasikan lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.

Dalam mengembangkan riset dan inovasi nasional, BRIN juga memiliki berbagai instrumen, mulai dari pendanaan riset bersama LPDP dan mitra internasional, program magang riset, degree by research, post-doktoral, hingga visiting researcher yang melibatkan diaspora dan pakar global. Lembaga ini turut membuka akses infrastruktur riset secara luas, termasuk bagi mahasiswa dan industri, serta mengembangkan pusat kolaborasi riset berbasis kampus.

Ketiga lembaga menegaskan pentingnya sinergi multipihak—pemerintah, perguruan tinggi, industri, diaspora, dan mitra internasional—dalam membangun ekosistem riset yang kompetitif.

Adapun Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sebagai koordinator lintas sektor akan mengorkestrasikan kebijakan tata kelola riset nasional agar lebih terintegrasi dan berdampak. Orkestrasi ini diharapkan mampu menyelaraskan perencanaan, pendanaan, dan pemanfaatan riset sehingga kontribusinya terhadap pembangunan manusia, ekonomi, dan inovasi nasional.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan