Transformasi Tambang Kaltim Jadi Studi Internasional

admin.aiotrade 20 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Transformasi Tambang Kaltim Jadi Studi Internasional


JAKARTA, aiotrade–
Lahan bekas tambang batu bara di Desa Jonggon Jaya, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi lokasi studi lapangan penerapan ekonomi sirkular dalam kunjungan delegasi internasional International Climate Initiative – Just Energy Transition (IKI–JET).

Kawasan pascatambang yang dikelola oleh PT Multi Harapan Utama (MHU), bagian dari MMS Group Indonesia (MMSGI), dikunjungi oleh lebih dari 40 peserta dari sembilan negara, termasuk Chile, Kolombia, Mongolia, dan Afrika Selatan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Transisi energi yang adil bukan hanya tentang beralih dari energi fosil ke energi baru, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat. Keberhasilan transisi diukur dari seberapa banyak kehidupan yang bisa dibangun kembali dalam prosesnya,” kata Aris Subagyo, Kepala Teknik Tambang MHU dalam siaran pers, Selasa (20/10/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Capacity Development Program for Coal Regions in Transition yang diinisiasi oleh GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit). Fokus utama kunjungan adalah melihat langsung bagaimana lahan bekas tambang direklamasi dan dimanfaatkan kembali sebagai area produksi dan pelatihan berbasis prinsip ekonomi sirkular.

Beberapa praktik ekonomi sirkular yang ditunjukkan antara lain:

  • Produksi pupuk organik “Biomasta” dari limbah kotoran sapi yang dikembangkan di Jayatama Miniranch. Pupuk ini kemudian digunakan untuk budidaya sereh wangi di lahan bekas tambang yang sebelumnya tidak produktif.
  • Proyek ini merupakan kolaborasi antara MHU, PT Bramasta Sakti, dan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani). Kajian dampak terhadap produktivitas tanah masih berlangsung, tetapi inisiatif ini menjadi contoh penerapan rantai pasok tertutup di kawasan pascatambang.

Selain aspek lingkungan, pemanfaatan kembali lahan juga diarahkan pada diversifikasi ekonomi masyarakat pascatambang. Berikut beberapa contohnya:

  • BUMDes Sungai Payang berkembang menjadi entitas bisnis di sektor logistik, katering, dan konstruksi dengan omzet Rp 19 miliar pada 2024. BUMDes ini juga menjalankan program CSR mandiri sejak 2020 dan mempekerjakan lebih dari 200 orang.
  • Di Desa Lung Anai, kelompok perempuan adat Dayak Kenyah memproduksi cokelat olahan dari biji kakao lokal melalui unit usaha Rumah Cokelat Lung Anai. Produksi dilakukan secara mandiri dan menyasar pasar konsumen dalam dan luar daerah.

Menurut GIZ, pendekatan ini menjadi salah satu studi kasus penting untuk negara-negara penghasil batu bara yang tengah menghadapi tantangan transisi energi.

“Program pascatambang MHU memberikan gambaran bagaimana pendekatan ekonomi sirkular bisa diterapkan dalam konteks rehabilitasi tambang, dengan melibatkan masyarakat lokal dan memanfaatkan sumber daya yang ada,” kata Ade Cahyat, perwakilan GIZ Indonesia/ASEAN.

Kunjungan ini menunjukkan bahwa penerapan ekonomi sirkular tidak hanya membantu pemulihan lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Dengan mengubah lahan bekas tambang menjadi area produksi dan pelatihan, proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana transisi energi dapat dilakukan secara adil dan berkelanjutan.

Dalam rangka memperkuat kolaborasi antar lembaga dan pemerintah daerah, MHU dan mitra-mitranya terus berupaya mengembangkan model-model inovatif yang bisa diterapkan di wilayah-wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa. Dengan demikian, penyelesaian masalah lingkungan dan ekonomi dapat dilakukan secara bersamaan, sehingga menghasilkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan