
Tren Akuisisi Tambang di Sektor Pertambangan Indonesia Tahun 2026
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pada tahun 2026, tren akuisisi tambang tampaknya akan menjadi pilihan utama bagi perusahaan-perusahaan pertambangan di Indonesia. Berbagai emiten sudah mulai merencanakan strategi untuk memperluas portofolio mereka melalui pengambilalihan aset tambang yang ada.
Rencana Akuisisi dari Berbagai Emitter
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) adalah salah satu perusahaan yang aktif dalam menjajaki peluang akuisisi. Mereka sedang mengevaluasi dua skema, yaitu melalui penugasan pemerintah atau membeli saham minoritas di perusahaan patungan agar dapat dikonsolidasikan. Selain itu, ANTM juga telah mengincar aset tambang di luar negeri seperti Timur Tengah dan Kazakhstan.
Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga sedang melakukan kajian terkait rencana akuisisi tambang. Meskipun detailnya belum sepenuhnya diungkapkan, manajemen DEWA menyatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan berbagai risiko yang mungkin timbul dari rencana tersebut.
Di sisi lain, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) memutuskan untuk memperpanjang tenggat waktu rencana akuisisi saham PT J Resources Nusantara (JRN) di dalam PT Arafura Surya Alam (ASA), yang merupakan pengelola Tambang Emas Doup, kepada PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). Perpanjangan ini dilakukan dari tanggal 23 Desember 2025 menjadi 23 Maret 2026.
Alasan Pemilihan Jalur Akuisisi
Menurut analis Fundamental BRI Danareksa Abida Massi Armand, aktivitas akuisisi akan semakin marak pada tahun 2026, terutama untuk komoditas mineral kritis dan emas. Hal ini disebabkan oleh langkah diversifikasi dari perusahaan batubara yang ingin menyelaraskan portofolio dengan tren transisi energi global.
Keuntungan utama dari jalur akuisisi dibandingkan eksplorasi greenfield adalah kepastian cadangan terbukti, efisiensi waktu menuju produksi (time-to-market), serta kontribusi langsung terhadap arus kas perusahaan. Selain itu, akuisisi juga membantu mengurangi risiko kegagalan eksplorasi geologi dan memudahkan integrasi aset ke dalam struktur operasional yang sudah ada.
Perspektif dari Kepala Riset
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai bahwa dengan mengakuisisi tambang, perusahaan bisa mendapatkan cadangan baru secara instan tanpa harus melalui proses perizinan yang rumit. Ia juga meyakini bahwa kebutuhan capital expenditure (capex) dari emiten yang memiliki rencana akuisisi akan meningkat pada 2026. Namun, hal ini tidak menjadi masalah karena perusahaan yang bersiap untuk akuisisi biasanya sudah memiliki arus kas yang cukup.
Rencana akuisisi tambang juga akan mendorong beberapa emiten untuk memanfaatkan berbagai sumber pendanaan seperti pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, hingga rights issue. Menurut Wafi, likuiditas bukanlah isu utama, tetapi tantangannya ada pada pencarian aset baru yang tersedia untuk dibeli.
Tantangan yang Harus Diperhatikan
Meskipun tren akuisisi semakin kuat, Abida menekankan bahwa emiten tetap perlu waspada terhadap tantangan multidimensional. Salah satunya adalah kepatuhan regulasi, termasuk akurasi data dalam sistem RKAB tiga tahunan dan aspek hukum pengalihan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang kompleks. Implementasi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi tantangan krusial.
Selain itu, risiko fluktuasi harga komoditas akibat potensi kelebihan pasokan di pasar global juga menuntut ketepatan waktu dalam akuisisi agar aset yang dibeli tetap memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi pemegang saham.
Rekomendasi Harga Saham
Abida merekomendasikan bahwa emiten yang memiliki rencana akuisisi cenderung positif. Target harga saham ANTM diperkirakan mencapai Rp 4.100 per saham, didorong oleh kinerja sektor emas yang kuat. Sedangkan target harga saham UNTR ditargetkan menyentuh level Rp 32.000 per saham.
Di sisi lain, Wafi menyarankan investor untuk memantau saham UNTR, ANTM, PSAB, dan DEWA dengan target harga masing-masing di level Rp 32.000 per saham, Rp 4.000 per saham, Rp 720 per saham, dan Rp 700 per saham.
Komentar
Kirim Komentar