
Tren Penghimpunan Dana di Pasar Modal Indonesia Menghadap ke Target OJK
Pasar modal Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dalam hal penghimpunan dana. Tren ini semakin mendekati target yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sampai akhir Oktober 2025, nilai Penawaran Umum oleh korporasi telah mencapai Rp 204,56 triliun. Angka ini meningkat sekitar Rp 16,59 triliun dibandingkan posisi bulan sebelumnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dibandingkan dengan periode Oktober 2024, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 159,19 triliun dari 153 aksi. Dengan demikian, ada kenaikan sebesar 28,52% secara tahunan. Per Oktober 2025, terdapat 17 emiten baru yang melakukan penghimpunan dana dengan nilai sebesar Rp 13,15 triliun.
Menurut Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, OJK hanya memerlukan tambahan sekitar Rp 15,44 triliun untuk mencapai target tersebut. Saat ini, masih ada 27 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif sebesar Rp 20,21 triliun di pipeline.
- Rencana IPO sebanyak 12 dengan nilai penawaran mencapai Rp 6,46 triliun.
- Dua perusahaan berencana melakukan PUT dengan perkiraan nilai Rp 3,8 triliun.
- Dua rencana penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) senilai Rp 1 triliun.
- Empat rencana penerbitan PUB EBUS Tahap I & II senilai Rp 11 triliun.
Jika semua aksi penghimpunan dana bisa dieksekusi hingga akhir tahun ini, maka penghimpunan dana di pasar modal bahkan akan melewati target Rp 220 triliun yang dicanangkan OJK.
Pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) per 7 November 2025, telah tercatat 24 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI dengan dana yang berhasil dihimpun sebanyak Rp 15,21 triliun. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat 13 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Dari 13 perusahaan tersebut, beberapa di antaranya masuk dalam kategori lighthouse company. IPO merupakan penawaran umum perdana saham dengan nilai kapitalisasi di atas Rp 3 triliun dan free float minimal 15%. Nyoman menyebut ada tiga sektor yaitu sektor keuangan, infrastruktur, dan pertambangan.
Adapun dari 13 perusahaan tersebut, enam di antaranya berasal dari aset skala menengah. Sementara itu, lima perusahaan memiliki aset skala besar di atas Rp 250 triliun. Sisanya adalah perusahaan skala kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar.
Nyoman juga tidak menutup kemungkinan adanya gelaran penawaran umum saham perdana dari perusahaan BUMN alias Danantara, terutama dalam kategori lighthouse atau perusahaan mercusuar. “Kami menjalin hubungan yang harmonis dengan pihak Kementerian BUMN sebelumnya, sekarang ke Danantara. Jadi harapan kami, ada lighthouse yang nanti berasal dari state-owned enterprise,” ujarnya.
Perkiraan IPO di Sektor Keuangan
Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, mengatakan bahwa pasar akan menantikan kabar tentang lighthouse company dari sektor yang disebutkan oleh otoritas BEI. Meskipun kabar soal IPO Superbank sudah diberitakan berkali-kali, lebih baik menunggu sampai benar-benar muncul di situs resmi e-IPO.
Direktur Utama RHB Sekuritas Indonesia, Thomas, menilai bahwa di sisa tahun ini, tidak menutup kemungkinan pasti ada perusahaan yang siap dari sisi fundamental baik, bisnis jelas, dan prospek pertumbuhan kuat yang akan meluncur ke bursa saham untuk IPO.
“Mayoritas emiten yang listing akan berpotensi lebih signifikan di 2026, ketika kondisi eksternal seperti suku bunga global, sentimen investor, dan regulasi mulai lebih stabil,” katanya.
Harapan datang jika suku bunga global mulai turun, likuiditas keluar dari obligasi dan masuk ke saham bisa mendukung jumlah IPO. Menurutnya, ada sinyal positif bahwa ekspektasi ini muncul di Indonesia tahun depan.