
Pertumbuhan Ekonomi Sumut yang Menjanjikan
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menyampaikan bahwa perekonomian Sumut menunjukkan kekuatan dan tren positif. Pada triwulan III 2025, ekonomi Sumut tumbuh sebesar 4,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 315,56 triliun.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh sektor real estate dengan kenaikan sebesar 10,69 persen. Di sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa meningkat sebesar 9,05 persen. Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar 18,64 persen terhadap PDRB dan pertumbuhan sebesar 4,11 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Hilirisasi adalah kunci masa depan ekonomi Sumut," ujar Surya saat membuka Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference 2025 yang digelar Harian Bisnis Indonesia Wilayah Sumut-Aceh di Medan, Senin, 8 Desember 2025.
Sumut mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 5,17 miliar pada Januari–September 2025. Nilai ekspor mencapai US$ 9,29 miliar, sedangkan impor berada di US$ 4,12 miliar. Tiga negara tujuan ekspor terbesar adalah Cina, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi sebesar 36,32 persen di perdagangan Sumut.
Dampak Pertumbuhan Ekonomi pada Kesejahteraan Masyarakat
Pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Tingkat pengangguran terbuka turun dari 5,60 persen menjadi 5,32 persen pada Agustus 2025. Produktivitas tenaga kerja meningkat menjadi 81,90 persen, naik 2,13 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi investasi, capaian Sumut juga menggembirakan. Hingga triwulan III 2025, investasi tumbuh sebesar 10,51 persen atau mencapai Rp 42,378 triliun, dengan penanaman modal asing (PMA) meningkat 36,46 persen.
“Sektor terbesar yang menarik investasi adalah industri kimia dan farmasi dengan nilai Rp 2,55 triliun, disusul industri makanan dengan nilai Rp 2,08 triliun, serta listrik, gas dan air dengan nilai Rp 1,30 triliun. Singapura menjadi investor terbesar dengan kontribusi 63,44 persen, diikuti Inggris dan Malaysia,” ujar Surya.
Potensi Unggulan Sumut dalam Meningkatkan Kemandirian Fiskal Daerah
Ia menegaskan bahwa Sumut memiliki banyak potensi unggulan yang bisa menjadi kekuatan utama dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah. Pemerintah daerah harus mampu beradaptasi dengan langkah strategis, inovatif dan kolaboratif.
“Kami semua menyadari bahwa Sumut memiliki berbagai potensi unggulan yang dapat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi krisis. Ada sektor pertanian dan perkebunan yang kuat, industri pengolahan yang terus tumbuh, serta potensi pariwisata kelas dunia yang menjadi kebanggaan nasional. Posisi strategis Sumut sebagai hub perdagangan dan logistik di wilayah barat Indonesia juga memberi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Surya.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumut di Tahun 2026
Perekonomian Sumut diprakirakan tetap tumbuh dan menguat pada 2026 pada rentang 4,9-5,7 persen di tengah ketidakpastian global. Optimisme ini ditopang beberapa program potensial seperti implementasi program B50 (Biodiesel) yang dapat mendukung kenaikan permintaan crude palm oil (CPO).
Efektivitas program Asta Cita mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), paket stimulus pendukung daya beli masyarakat, serta iklim investasi yang relatif kondusif yang tampak dari peningkatan target investasi di sejumlah kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.
Namun, pemerintah perlu mewaspadai perlambatan perekonomian negara mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Begitu pula dengan potensi berlanjutnya perang tarif Trump dan harga komoditas global yang diproyeksikan Bank Dunia akan turun sampai 7 persen pada 2026.
KEK Seimangkei sebagai Pusat Energi Baru bagi Pertumbuhan Ekonomi Sumut
Pengelola KEK Seimangkei, PT Kawasan Industri Nusantara (Kinra) menyebut, KEK dapat menjadi pusat energi baru bagi pertumbuhan ekonomi Sumut, menjadi ruang kolaborasi antara industri besar, pelaku usaha lokal dan inovasi berkelanjutan. Seimangkei memang dikhususkan menjadi pusat hilirisasi komoditas unggulan ekspor Sumut khususnya sawit dan karet.
"Sejak beroperasi pada 2015 sampai triwulan III 2025, Seimangkei merealisasikan investasi Rp 25,97 triliun dan menyerap 7.856 tenaga kerja. Dengan strategi yang tepat, KEK Seimangkei bukan hanya motor penggerak ekonomi, tapi ikon transformasi regional menuju kawasan industri modern dan berdaya saing global,” kata Direktur PT Kinra Arif Budiman.
Usai KEK Seimangkei, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara mengenalkan Kawasan Industri Sumut (KIS) di Tanjungkasau, Kabupaten Batubara sebagai proyek strategis Pemerintah Provinsi Sumut mendukung hilirisasi industri dan pemerataan ekonomi nasional. Dikelola langsung pemerintah provinsi melalui badan usaha milik daerah (BUMD).
“Lokasi KIS strategis, dekat pelabuhan ekspor global seperti Belawan dan Kualatanjung. Akses multi moda transportasi akan menguntungkan investor dalam pengembangan industrinya,” kata Wakil Ketua Kadin Sumut Isfan fachruddin.
BIG Conference 2025 di Medan bertajuk “Unlocking North Sumatra's Potential: Collaboration for Economic Growth and Job Creation” juga diisi pemaparan dari Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (AEKI) Sumut Saidul Alam, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumut Syahril Pane, dan Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani.