Truk Antre Berjam-jam di Bantargebang, DPRD Minta Fasilitas Istirahat untuk Sopir

admin.aiotrade 17 Des 2025 6 menit 14x dilihat
Truk Antre Berjam-jam di Bantargebang, DPRD Minta Fasilitas Istirahat untuk Sopir

JAKARTA, aiotrade — Kematian seorang sopir truk sampah bernama Yudi (51), yang diduga akibat kelelahan setelah mengantre selama belasan jam di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menimbulkan perhatian luas dari masyarakat dan kalangan politik. Peristiwa ini tidak hanya menyentuh hati publik, tetapi juga mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta.

Anggota Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menyampaikan rasa duka atas kematian Yudi. Ia menyatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para sopir truk sampah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Kami ingin mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kematian sopir truk sampah belum lama ini ketika mengantre di Bantargebang," ujar Bun saat dihubungi aiotrade, Jumat (12/12/2025).

Antrean truk sampah yang berlangsung hingga belasan jam ini diketahui telah terjadi selama sekitar tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut memaksa para sopir bekerja jauh melampaui jam kerja normal, bahkan hingga 24 jam. Tak sedikit sopir yang tidak sempat pulang ke rumah untuk sekadar mandi atau bertemu keluarga, karena harus segera kembali mengangkut sampah dari Jakarta menuju Bantargebang.

Atas kondisi itu, DPRD meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta meningkatkan sarana pendukung bagi para sopir yang berpotensi mengantre dalam waktu lama. Mess-mess tempat menunggunya harus dipastikan layak, kalau perlu disiapkan tempat menginap apabila para supir terpaksa harus bersinggah lebih lama lagi.

Bun juga menekankan pentingnya pengaturan ulang jam kerja sopir agar sesuai dengan beban kerja yang mereka jalani, demi mencegah kelelahan ekstrem yang berisiko mengancam keselamatan jiwa.

Perbaikan tanggul

Selain persoalan antrean, Bun turut menyoroti kondisi tumpukan sampah di Bantargebang yang disebut telah mencapai ketinggian setara gedung 16 lantai. Menurut dia, sampah yang terus menggunung berpotensi menimbulkan risiko serius, salah satunya longsor yang dapat mengancam keselamatan warga maupun para pekerja di kawasan TPST Bantargebang.

Oleh karena itu, Bun meminta agar kekuatan tanggul di Bantargebang diperiksa secara berkala guna mencegah kemungkinan runtuhnya struktur penahan sampah. Jika ditemukan bagian yang mulai retak atau melemah, Pemprov Jakarta diminta segera melakukan perbaikan sebagai langkah mitigasi.

"Kalau ada yang sudah melemah dan mulai menunjukkan keretakkan jangan menunggu lama, bagian itu harus segera diperkuat lagi," kata Bun.

Tidak ada tempat istirahat

Para sopir truk mengungkapkan, hingga kini tidak tersedia tempat istirahat memadai di TPST Bantargebang, meskipun mereka harus menunggu belasan jam untuk membuang muatan. Bahkan, kematian Yudi disebut tidak membuat antrean menjadi lebih singkat.

"Masih antre, kemarin saya masuk jam 15.00 WIB sore, kebuang sampah jam 03.00 WIB pagi, terus jam 08.30 WIB mulai muat lagi karena menunggu alat berat di lokasi, sekarang jam 15.00 WIB udah di Bantargebang lagi, ini juga belum sempat pulang, saya sudah dekil, belum mandi, enggak bawa ganti baju," kata salah satu sopir truk, Hendra (bukan nama sebenarnya, 37).

Selama menunggu, para sopir kerap berada di tengah gunungan sampah. Situasi ini menjadi semakin berat saat hujan turun. Ketika hujan, para sopir terpaksa bertahan di dalam truk selama berjam-jam. Kondisi menjadi lebih buruk jika mereka tidak membawa perbekalan, sehingga harus menahan lapar dan haus hingga hujan reda.

Saat cuaca cerah, sebagian sopir turun dari truk untuk beristirahat di warung tenda yang berada di sekitar zona pembuangan sampah. Namun, tidak semua zona memiliki warung tenda yang bisa dimanfaatkan untuk sekadar duduk atau beristirahat sejenak.

"Kalau ditanya tersiksa mah bukan tersiksa lagi harus di dalam truk belasan jam, apalagi kalau enggak bawa bekal," tutur Hendra.

Sopir truk lain, Santo (bukan nama sebenarnya, 39), juga mengaku tidak memiliki tempat istirahat ketika harus mengantre dalam waktu lama di Bantargebang. Ia kerap terkurung di dalam truk saat hujan turun, sementara antrean masih mengular panjang. Terkadang, ia menghabiskan waktu dengan merokok atau tidur di sekitar gunungan sampah ketika rasa kantuk tak tertahankan.

Biasanya, Santo memejamkan mata sejenak di dalam truk atau menumpang beristirahat di warung tenda di sekitar zona pembuangan. "Cuma kalau ngantuk banget sih, meskipun siang juga bisa tidur," tutur Santo.

Santo mengakui, antrean panjang tersebut sangat melelahkan secara fisik dan mental. Dampaknya, waktu istirahat di rumah bersama keluarga menjadi sangat terbatas. "Ya, betul saat ini fisik mudah lemah, pulang dari sini kan bukannya istirahat, kita langsung kerja lagi kadang-kadang," tutur Santo.

Untuk menjaga stamina, Santo memilih tidak menahan kantuk dan berusaha tidur sejenak selama proses antrean. Ia juga berupaya menjaga pola makan dengan membeli makanan dari pedagang keliling atau warung tenda di sekitar Bantargebang. Meski begitu, Santo kerap membawa bekal masakan istrinya dari rumah sebagai antisipasi jika tidak ada pedagang yang berjualan.

Jalan rusak

Selain persoalan antrean, kondisi jalan di zona pembuangan sampah Bantargebang juga masih bermasalah. Sejumlah titik jalan dilaporkan rusak dan menyulitkan mobilisasi truk sampah. "Kalau yang enak itu zona tiga, zona kepala burung. Tapi kalau untuk zona empat, kalau ada muatan lewatnya jalan enak. Cuma pulangnya ini ada satu kendala, jalan yang rusak makanya banyak mobil yang kebalik," ungkap Santo.

Sebagian besar jalan di Bantargebang memang menggunakan beton, namun banyak bagian yang telah retak bahkan hancur. Di beberapa titik, jalan beton berubah menjadi tanah hitam yang sangat licin, terutama saat hujan. Selain itu, terdapat jalan yang terendam air lindi berwarna hitam yang tetap harus dilalui truk sampah.

Kontur jalan yang tidak rata, menanjak, dan licin juga kerap menyebabkan truk terguling saat proses bongkar muat.

Perlu perbaikan landfill dan infrastruktur

Pengamat Tata Kota dari Universitas Indonesia (UI), Muh Aziz Muslim, menilai perbaikan infrastruktur jalan dan landfill di Bantargebang menjadi kebutuhan mendesak. "Kondisi ini tentu membutuhkan adanya skenario bagaimana kapasitas landfill yang terbatas dan infrastruktur yang juga mengalami kerusakan itu dapat diselesaikan," tutur Aziz.

Ia menyarankan agar pengolahan sampah dilakukan sejak dari hulu melalui pemilahan di tingkat rumah tangga. Sampah yang telah dipilah akan lebih mudah dan cepat diolah, salah satunya melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Jika pengolahan di hulu berjalan konsisten, beban sampah yang diangkut ke TPST Bantargebang akan berkurang secara signifikan.

"Ini kan menjadi contoh yang harus dilakukan bagaimana kita mengupayakan penanganan sampah di hulu dengan 3R itu tadi, terus juga bagaimana kita memastikan tingkat daur ulang sampah yang tinggi di Jakarta," jelas Aziz.

Dengan berkurangnya volume sampah, tumpukan landfill dapat ditekan sehingga potensi bencana seperti longsor dapat diminimalkan. Selain itu, beban kendaraan berat yang berkurang juga akan membuat infrastruktur jalan lebih awet setelah diperbaiki.

Aspek keselamatan kerja

Aziz juga menyoroti aspek keselamatan kerja sopir truk sampah yang harus mengantre berjam-jam di Bantargebang. Menurut dia, pemerintah wajib memperlakukan para sopir sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Ketenagakerjaan. "Kalau terkait dengan keselamatan kerja bagaimana pemerintah memperlakukan sopir truk sampah. Undang-undangnya jelas, terkait dengan masalah Undang-undang Ketenagakerjaan kita," jelas Azis.

Pemerintah diminta mengatur jam kerja agar tidak melebihi batas wajar, serta memastikan hak-hak sopir terpenuhi. Selain itu, fasilitas pendukung seperti tempat istirahat dan manajemen antrean harus disediakan dengan layak oleh pengelola TPST Bantargebang. Pengelola juga didorong untuk memperbaiki sistem antrean agar sopir tidak lagi menunggu belasan jam hanya untuk membuang muatan sampah.

"Ini berarti mesti diperhatikan bagaimana mekanisme antrean atau manajemen antrean bisa diperpendek dan diperbaiki. Ini berdampak pada jam kerja yang berlebih dan apakah mereka memiliki waktu istirahat yang cukup," jelas Aziz.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan